Nana Ibrahim dan Misinya Memperkenalkan Aksara Lontara Melalui Maskerade

Wait 5 sec.

Nana Ibrahim, pemilik UMKM asal Sulawesi Selatan, Maskerade. Foto: Wina R./kumparanINACRAFT merupakan salah satu pameran bergengsi bagi UMKM lokal untuk bisa memamerkan karya-karyanya. Acara ini mempertemukan beragam karya kerajinan yang masing-masing punya cerita unik di baliknya.Salah satu yang datang dari jauh adalah Maskerade, UMKM binaan Pertamina. Mereka membawa berbagai produk untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan kepada banyak orang.Nana Ibrahim, alias Nana, telah merintis usaha ini sejak ia masih berkuliah. Ia punya misi membawa Lontara ke dalam keseharian masyarakat setelah melakukan perjalanan ke Bangkok. Nana melihat bahwa aksara lokal di Bangkok digunakan banyak orang. Karena itulah ia berpikir untuk menggali aksara daerahnya sendiri meski saat itu belum mengenal banyak soal Lontara.“Di situ saya cari orang yang memang lebih paham tentang aksara. Kan enggak sembarang juga. Kita kerja sama bawa peribahasa yang ada di Sulawesi. Jadi betul-betul kita dalami,” ujar Nana.Keinginan mendekatkan budaya kepada anak muda sudah tumbuh di diri Nana sejak ia mendirikan Maskerade pada 2017. Nana yang kala itu gemar berkain melihat bahwa belum banyak teman sekitarnya punya ketertarikan serupa.“Saya mau orang-orang di sekeliling saya juga pakai (kain tradisional) seperti saya,” katanya.Maskerade Membawa Budaya dalam BusanaSalah satu outer dari Maskerade yang menggunakan aksara Lontara. Foto: Wina R./kumparanProduk awal Maskerade berupa tote bag, pouch, gelang, dan aksesori. Koleksinya kemudian berkembang menjadi pakaian dengan memanfaatkan tenun Toraja dan Sengkang melalui kerja sama dengan penenun lokal.“Awalnya saya buat itu craft, karena memang koleksi saya itu kebanyakan dari kain. Lama-lama dia berkembang menjadi pakaian,” ujar Nana.Dalam perjalanannya, ia menghadirkan aksara Lontara sebagai motif melalui sablon dan cetak. Koleksi ini juga dikembangkan sebagai pilihan bagi pembeli yang merasa panas ketika menggunakan outer tenun.Nana memahami bahwa mengolah unsur budaya membutuhkan pengetahuan. Sebelum membuat produk, ia mencari tahu cerita yang dibawa kain maupun motifnya.“Bisa jadi kita yang menjaga, tapi bisa jadi juga kita yang merusak. Jadi betul-betul kita kalau sebelum buat itu kita survei dulu. Kita tahu storytelling-nya dulu,” katanya.Berbagai produk kreatif dari Maskerade yang khas dengan budaya lokal Sulawesi Selatan. Foto: Wina R./kumparanNana bekerja sama dengan seseorang yang ia sebut dengan “maestro” untuk memahami aksara tersebut. Tulisan pada kain diambil dari peribahasa yang sudah ada.“Kita enggak ada bikin sendiri. Jadi kita memang pakai peribahasa-peribahasa yang bagus,” ujarnya.Kehati-hatian juga diterapkan dalam bekerja bersama penenun. Nana memahami bahwa kain dibuat dengan tangan, sehingga kapasitas produksinya tidak bisa dipaksakan. Pengembangan dilakukan melalui bentuk dan penggunaan produk dari kain yang dihasilkan.Maskerade kini punya Kimonoraya, yang dirancang untuk perempuan maupun laki-laki. Outer ini dapat dipakai dalam kesempatan santai maupun formal.Dalam dua tahun terakhir, Nana mulai mendekati Gen Z. Ia ingin wastra dapat dipadukan dengan gaya mereka. Meski begitu, mereka tetap berupaya merambah ke produk lain seperti tas laptop hingga sarung bantal.Mewujudkan Mimpi Tampil di INACRAFTNana bergabung menjadi mitra binaan Pertamina pada 2019, setelah mengikuti kelas dan mengetahui adanya program pembinaan. Sejak itulah ia mendapat pendampingan tentang keuangan, pengembangan bisnis, hingga pemasaran digital.“Semua kelas yang harusnya saya mentoring-nya bayar, tapi di Pertamina semua gratis,” ujarnya.Pelatihan membantu Maskerade memperjelas pengetahuan yang sebelumnya dipelajari secara mandiri. Salah satunya tentang menentukan hook atau pembuka konten.Pakaian pria dari Maskerade. Foto: Wina R./kumparan“Kita sebenarnya sudah belajar, tapi kita belajarnya otodidak. Kalau di Pertamina kemarin, betul-betul kita kayak di-training sendiri,” katanya.Kesempatan mengikuti INACRAFT juga menjadi pencapaian personal. Nana sudah ingin berpartisipasi sejak tiga tahun sebelumnya, tetapi belum mengetahui jalur untuk masuk.“Akhirnya waktu itu saya cari-cari tahu. Oh, ternyata Pertamina bawa binaannya ke INACRAFT. Jadi saya mengajukan diri,” ujarnya.Maskerade pun mengikuti seleksi dan kurasi, termasuk kunjungan untuk memeriksa kesiapan produknya.Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pembinaan yang dilakukan Pertamina membantu pelaku UMKM menerapkan pengetahuan sekaligus memperoleh kesempatan menguji produknya di pasar.“Kreativitas pelaku UMKM perlu didukung dengan kemampuan mengelola usaha dan membaca kebutuhan konsumen. Kami ingin membantu mereka menerapkan pengetahuan, mendapatkan masukan langsung dari pembeli, serta membangun jejaring untuk pengembangan bisnis,” ujar Baron.Aksara Lontara Makassar sering diduga sebagai aksara Jawa. Karenanya, misi Nana ke INACRAFT kali ini bukan hanya untuk menemukan pelanggan baru. Ia ingin menjelaskan lebih banyak soal Lontara kepada pengunjung.“Bagus kita promosikan bahwa kita punya aksara Lontara di Sulawesi Selatan,” kata Nana.Pertemuan itu memberi ruang bagi Nana untuk membagikan pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pakaian, ia membuka percakapan tentang budaya daerahnya sekaligus mengajak anak muda menemukan cara mereka sendiri untuk mengenakannya.