Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, terdapat 7.135.000 orang yang terdeteksi mengalami hipertensi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 755.907 orang atau sekitar 11 persen telah mendapatkan pengobatan."Jadi tahun lalu diskrining 73 juta, yang ketemu hipertensi itu 7 juta. Hipertensi ini kemudian dikasih obat, yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755 ribu, masih kecil," kata Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan bidang kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (22/10).Budi mengatakan, jika mengacu pada target 80 persen pasien hipertensi mendapatkan pengobatan, seharusnya sekitar 5,6 juta orang telah menjalani pengobatan. Padahal, pengobatan hipertensi dapat diakses secara gratis melalui puskesmas."Jadi harusnya angkanya tuh 5,6 juta, sekarang kita baru 755 ribu. Itu PR-nya kita tuh, padahal pengobatan ini sifatnya gratis, bisa dilakukan di puskesmas,” ujarnya.Menurut Budi, salah satu tantangan penanganan hipertensi adalah masih banyak masyarakat yang merasa dirinya sehat meski memiliki tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tidak menyadari pentingnya menjalani pengobatan secara rutin."Banyak masyarakat merasa kalau mereka darah tinggi gitu ya, mereka tuh masih sehat. Itu tuh masih banyak tuh di psikologisnya orang Indonesia,” jelas Budi.Ia menegaskan, pemeriksaan kesehatan tidak cukup hanya untuk menemukan penyakit. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan mendapatkan penanganan dan kondisinya dapat terkontrol.Ilustrasi cek hipertensi di rumah sakit. Foto: ShutterstockKemenkes kini tengah mengumpulkan data lanjutan untuk mengetahui berapa banyak pasien hipertensi yang tekanan darahnya kembali terkendali setelah mendapatkan pengobatan. Budi berharap hasil tersebut dapat diukur lebih lanjut pada awal 2027."Targetnya kita bukan hanya skriningnya, bukan hanya dikasih obatnya, tapi memastikan bahwa semua masyarakat kita tuh sehat ya, atau indikator kesehatannya hijau,” tegas dia.Budi menjelaskan, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung. Selain tekanan darah, Kemenkes juga memprioritaskan pengendalian gula darah, kolesterol, dan obesitas melalui program CKG untuk menekan risiko penyakit yang dapat menyebabkan kematian.Pada 2026, pemerintah menargetkan 130 juta orang mengikuti CKG. Hingga berita ini ditulis, Budi menyebut sebanyak 109 juta orang telah menjalani pemeriksaan, sementara 116 juta orang telah mendaftar CKG."Nah Cek Kesehatan Gratis tahun lalu kan 70 juta. Tahun ini targetnya kita 130 juta. Dan sudah bisa kita capai sampai 109 juta. Sisanya harusnya bisa kita kejar sampai akhir tahun," katanya.