Dampak Psikologis Anak 3,5 Tahun yang Dilecehkan Ayah Berprofesi Dokter

Wait 5 sec.

Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: MIA Studio/ShutterstockSeorang anak perempuan berusia 3,5 tahun diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya, IS, seorang dokter asal Bandung. Dalam kasus tersebut, korban dilaporkan mengalami infeksi gonore.IS diketahui memiliki klinik dan apotek sendiri. Kasus ini menjadi perhatian karena kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya berisiko menimbulkan dampak fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan anak.Pada usia dini, anak belum tentu mampu memahami atau mengungkapkan pengalaman traumatis yang dialaminya secara utuh. Karena itu, dampak kekerasan seksual bisa muncul melalui perubahan perilaku, bukan hanya lewat cerita verbal.Psikolog Klinis Anak dari Ruang Konseling Rumah Dandelion, Namira Dalhas, M.Psi, menjelaskan bahwa kekerasan seksual pada anak usia dini dapat memengaruhi perkembangan emosi, rasa aman, hingga kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.Dampak Psikologis ketika Ayah Menjadi Sumber TraumaIlustrasi ayah marah. Foto: ShutterstockPada usia 3,5 tahun, kemampuan bahasa dan regulasi emosi anak masih berkembang. Pengalaman traumatis yang dialami belum tentu bisa diceritakan secara utuh. Sebaliknya, anak dapat menunjukkan perubahan perilaku, seperti lebih sering tantrum, merasa takut, mengalami gangguan tidur, menarik diri, atau kembali menunjukkan perilaku yang biasa muncul pada usia lebih kecil.Menurut Namira, kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandung juga dapat mengganggu rasa aman anak. Sebab, orang tua atau pengasuh seharusnya menjadi figur yang memberikan perlindungan dan rasa aman bagi anak.“Ketika figur yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ancaman, anak berisiko mengalami kesulitan mempercayai orang lain dan meregulasi emosinya,” jelas Namira pada kumparanMOM, Rabu (21/10). Dampak trauma juga dapat berlanjut hingga tahap perkembangan berikutnya. Kekerasan seksual pada masa kanak-kanak berkaitan dengan peningkatan risiko kecemasan, gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan kesulitan dalam hubungan interpersonal.Meski demikian, dampak yang dialami setiap anak bisa berbeda dan tidak selalu langsung terlihat. Karena itu, perubahan perilaku perlu diperhatikan tanpa terburu-buru menyimpulkan penyebabnya.Cara Mendampingi Anak yang Mengalami Kekerasan SeksualDalam proses pemulihan, hal utama yang perlu dipastikan adalah anak berada di lingkungan yang aman dan terlindungi dari pelaku maupun risiko kekerasan berulang.Namira menekankan bahwa anak tidak perlu dipaksa menceritakan pengalaman traumatisnya berkali-kali. Orang tua atau pengasuh juga sebaiknya menghindari pertanyaan yang menggiring jawaban, seperti mengarahkan anak untuk mengiyakan suatu kejadian."Jika anak mulai bercerita secara spontan, dengarkan dengan tenang tanpa menghakimi atau menyalahkannya. Orang tua dapat menyampaikan bahwa anak tidak bersalah dan ada orang dewasa yang akan membantu melindunginya," jelasnya. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendampingi anak, yaitu:Pastikan anak aman. Jauhkan anak dari pelaku dan pastikan tidak ada risiko kekerasan berulang.Hormati kesiapan anak. Jangan memaksanya bercerita, menjawab pertanyaan, atau mengulang pengalaman traumatis.Bangun kembali rasa aman. Berikan rutinitas yang konsisten, interaksi yang hangat, serta hormati batasan tubuh anak.Cari bantuan profesional. Pastikan anak mendapatkan penanganan medis dan pendampingan psikologis sesuai usia serta kebutuhannya.Pemulihan bukan proses yang instan. Anak membutuhkan lingkungan yang suportif, pendampingan psikologis secara berkala, dan pengasuh yang mampu merespons perubahan emosi maupun perilakunya tanpa menyalahkan atau menekan anak.Seiring bertambahnya usia, kebutuhan psikologis anak juga dapat berubah. Karena itu, pemantauan perkembangan emosi, interaksi sosial, dan rasa aman perlu dilakukan sesuai kebutuhan anak.