Alasan Periklindo Minta Insentif Kendaraan Listrik Diperpanjang

Wait 5 sec.

Petugas mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Rest Area KM 379 A Tol Batang-Semarang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025). Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTOPerkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) berharap pemerintah kembali memberikan insentif untuk kendaraan listrik (EV). Aturan tersebut dinilai masih dibutuhkan untuk menjaga laju pertumbuhan EV di Indonesia.Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, mengatakan bahwa penjualan kendaraan listrik di tahun 2026 masih belum stabil. Ia menuturkan, adanya pemberian insentif dapat meningkatkan jumlah populasi EV di Tanah Air.“Masih perlu (insentif), digerakkan dulu sampai dengan (populasi) EV itu kira-kira 30 persen. Begitu sudah 30 persen, itu sudah stabil, sudah kembali,” ujarnya saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).Ia menyampaikan, Periklindo sampai saat ini masih menunggu janji insentif yang sebelumnya dicanangkan oleh pemerintah. Pihaknya juga menginginkan untuk periode kebijakan yang lebih panjang.Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanMenurut Moeldoko, pemberian insentif dalam jangka waktu satu tahun akan menyulitkan para pelaku industri yang ingin menyusun strategi bisnis. Periode yang lebih lama berpotensi memberikan ruang lebih kepada pihak industri untuk bisa mengatur strategi dalam6 meningkatkan pertumbuhan kendaraan listrik.“Pasti semuanya berharap (insentif) tetap ada. Kedua jangan hanya batasannya setahun, kasihan nanti teman-teman industri, ya kira-kira bisa sampai tiga tahun. Ketiga harapannya subsidi itu masih seperti yang lalu,” jelasnya.Selain itu, Moeldoko juga menyarankan supaya pemerintah ikut membidik kendaraan listrik komersial dalam pemberian insentif. Ia bilang, hal tersebut berpeluang menekan emisi karbon dan biaya operasional yang dikeluarkan oleh setiap perusahaan.iCar V27 di GIIAS 2026. Foto: Dok. iCarIa menyampaikan, selama ini target insentif lebih difokuskan kepada kendaraan penumpang. Padahal EV komersial turut memiliki kontribusi yang besar, salah satunya dalam penggunaan bahan bakar minyak (BBM)."Untuk itulah Periklindo akan mendorong ke depan insentif tidak hanya diberikan kepada mobil-mobil passanger, tapi juga komersial. Bentuknya bisa sama dengan kendaraan penumpang, yaitu pengurangan pajak," terang Moeldoko.Sementara itu, Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menjelaskan perkembangan kendaraan listrik di tahun ini populisanya cukup signifikan."Awalnya sangat sedikit mungkin kurang 5 persen, tapi sekarang populasinya sudah sampai 19 persen. Tahun 2024 penjualan mobil listrik itu hanya 99 ribu unit, tahun 2025 sudah sampai 150 ribu unit. Sampai Agustus 2026 kemarin, penjualan kendaraan listrik sudah mencapai 101 ribu unit," kata Daswar.