Ilustrasi pengolahan Bauksit. Foto: ZenitX/ShutterstockMenteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap kelanjutan dari rencana Rusia untuk terlibat dari hilirisasi bauksit di Indonesia. Nantinya, Rusia akan membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan.Ia menjelaskan, nantinya Rusia hadir melalui salah satu raksasa produsen aluminium dan alumina di dunia milik mereka yakni UC Rusal.“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (!1/9).Saat ini, perizinan Rusal untuk proyek hilirisasi tersebut hampir rampung. Rusal juga disebut akan menggandeng perusahaan Indonesia.“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” ujarnya.Meski demikian, Bahlil belum bisa mengungkap nilai investasi dari Rusal untuk pembangunan pabrik tersebut. Selain itu, Bahlil juga tidak mendetailkan perusahaan lokal mana yang digandeng Rusal untuk proyek tersebut.Sebelumnya, investasi hilirisasi bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II 2026. Realisasi investasi sektor ini mencapai Rp 40,1 triliun, melonjak 193 persen dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar Rp 13,7 triliun.Berdasarkan laporan Kementerian Investasi terbaru, Selasa (21/7), lonjakan tersebut membuat bauksit untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.Peningkatan investasi itu didorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit di dalam negeri. Kondisi tersebut menunjukkan arah hilirisasi nasional mulai berkembang lebih merata dan tidak lagi hanya bergantung pada industri nikel.