Kepala BP BUMN Dony Oskaria menjawab pertanyaaan wartawan saat akan mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTOBP BUMN dan Danantara mendorong PT Pertamina (Persero) untuk melakukan peningkatan produksi LNG di dalam negeri oleh Pertamina. Hal ini seiring adanya peningkatan kebutuhan ke depan.Adapun Pertamina telah bertemu dengan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria untuk menyampaikan bahwa kebutuhan LNG diproyeksikan semakin dominan setelah 2025. Di samping itu, porsi LNG diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen dari total pasokan gas pada 2029. Maka dari itu, Dony mendorong produksi LNG dalam negeri agar kebutuhan tak bergantung dengan impor.“Yang paling penting ada progres. Artinya, kalau kebutuhan kita 50 persen, kita sudah bisa suplai dari dalam negeri,” kata Dony dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (12/9).Saat ini, Pertamina juga tengah mengembangkan jaringan gas (jargas) dan compressed natural gas (CNG) khususnya untuk kebutuhan rumah tangga. Skema yang tengah dikembangkan ialah skema penggunaan mother station CNG yang bisa melayani kebutuhan 12.000 rumah.Merespons itu, Dony menilai langkah tersebut ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor dapat ditekan. Secara keseluruhan, Dony melihat produksi LNG dalam negeri serta pengembangan jargas dan CNG sebagai langkah agar gas bumi dalam negeri bisa dioptimalkan pemanfaatannya.“Ini bisa menurunkan ketergantungan secara signifikan. Kombinasi antara jargas dan CNG ini luar biasa. Dampaknya terhadap kita signifikan, terutama untuk mengurangi impor dan ketergantungan kita terhadap LPG,” ujar Dony.Ilustrasi pengangkutan Liquefied Natural Gas (LNG). Foto: Dok. PGNSebelumnya, pemerintah juga sedang mengembangkan tabung CNG 3 kilogram. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan tabung tersebut nantinya menjadi alternatif pengganti LPG.Adapun saat ini pengembangan memasuki tahap akhir dan proses pengujian tinggal menyisakan uji tembak sebelum tabung tersebut dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya.Pada Agustus lalu, Bahlil mengatakan dirinya baru menerima paparan mengenai perkembangan tabung CNG 3 kilogram beserta katup (valve)-nya. Berdasarkan laporan yang diterimanya, rangkaian pengujian yang dilakukan oleh Lemigas hampir selesai."Saya baru tiga hari lalu dipresentasikan hasil tabung 3 kilogram dan valve-nya. Sekarang Lemigas lagi uji yang terakhir. Tetapi menurut informasi yang saya terima dari hasil mereka tinggal uji tembak saja yang belum," kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (3/8).Menurut Bahlil, uji tembak dilakukan untuk memastikan ketahanan tabung dalam kondisi ekstrem, termasuk terhadap paparan panas hingga sekitar 850 derajat Celsius. Tahapan ini menjadi salah satu syarat akhir sebelum proses pengembangan dinyatakan rampung. Ia menambahkan, pengujian tersebut dilakukan baik di Indonesia maupun di China."Dua-duanya dilakukan. Jadi kita juga tembak juga. Kau doakan saja, doakan yang terbaik untuk Ibu Pertiwi tercinta," ujarnya.Pengembangan tabung CNG 3 kilogram merupakan bagian dari upaya pemerintah melakukan diversifikasi bauran energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG 3 kilogram yang selama ini masih disubsidi. Selama ini, penggunaan CNG dalam bentuk tabung baru banyak dimanfaatkan di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).