Kapasitas PLTS China Tembus 1.288 GW, Lampaui Batu Bara

Wait 5 sec.

Ilustrasi Panel Surya. Foto: ShutterstockChina mencatat total kapasitas energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sekitar 1.288 gigawatt (GW) pada akhir Juli 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara, yang berada di sekitar 1.285 GW.Pencapaian ini menunjukkan betapa cepat China memperluas penggunaan energi terbarukan. Dampaknya juga berpotensi besar terhadap upaya global mengatasi perubahan iklim.China merupakan negara dengan emisi gas rumah kaca tahunan terbesar di dunia. Negara tersebut menyumbang sekitar 30 persen emisi global yang menyebabkan pemanasan planet. Sementara itu, pembangkit listrik tenaga batu bara menjadi salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca di China.Jika pertumbuhan energi terbarukan China mulai menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap emisi karbon secara global.Matthew Davies, UNESCO Chair in Sustainable Energy Technologies sekaligus profesor teknik kimia di Swansea University, Inggris, menyebut pencapaian China sebagai tonggak penting."China mencapai sekitar 1.288 GW kapasitas surya terpasang dan sedikit melampaui batu bara merupakan tonggak besar," ujar Davies kepada Live Science.Meski kapasitas terpasang energi surya sudah melampaui batu bara, bukan berarti pembangkit listrik tenaga surya saat ini menghasilkan listrik lebih banyak. Hal tersebut terjadi karena kapasitas terpasang menunjukkan kemampuan maksimum pembangkit dalam menghasilkan listrik, bukan jumlah listrik yang benar-benar diproduksi sepanjang waktu.Pembangkit listrik tenaga surya hanya dapat menghasilkan listrik ketika tersedia sinar Matahari. Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga batu bara dapat beroperasi dalam waktu yang jauh lebih lama.Solar Great Wall China. Foto: NASA Earth Observatory, Michala Garrison"Surya hanya menghasilkan listrik ketika sinar Matahari tersedia, sedangkan pembangkit batu bara dapat beroperasi dalam waktu yang jauh lebih lama. Karena itu, energi surya masih menyumbang bagian yang jauh lebih kecil terhadap listrik China dibandingkan batu bara," kata Davies.Dengan kata lain, China memang kini memiliki kapasitas pembangkit surya yang lebih besar daripada batu bara. Namun, batu bara masih jauh lebih berperan dalam menentukan jumlah listrik yang benar-benar disalurkan ke jaringan listrik.Produksi listrik tenaga surya China sendiri terus meningkat. Pada Januari hingga Juli 2026, produksi listrik dari energi surya naik 15,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dalam tujuh bulan tersebut, pembangkit surya China menghasilkan sekitar 802,4 terawatt-hour (TWh) listrik. Jumlah itu setara dengan sekitar 13 persen dari total konsumsi listrik negara tersebut.Davies menilai pencapaian ini lebih tepat disebut sebagai titik balik struktural dalam sistem energi China, bukan tanda bahwa energi surya sudah menggantikan batu bara."Saya melihat ini sebagai titik balik struktural, bukan titik ketika energi surya telah menggantikan batu bara," ujarnya.Menurut Davies, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan energi terbarukan cukup cepat untuk memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat sekaligus mengurangi produksi listrik dari batu bara secara nyata. Jika penggunaan batu bara dapat terus ditekan, dampaknya terhadap emisi karbon dioksida (CO₂) global berpotensi sangat besar mengingat skala sistem kelistrikan China yang sangat besar.Untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, China tidak cukup hanya membangun semakin banyak pembangkit listrik tenaga surya. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh energi terbarukan tersebut ke dalam sistem kelistrikan."Memasang panel surya hanyalah salah satu bagian dari transisi. Jaringan listrik, transmisi, penyimpanan energi, dan fleksibilitas permintaan semuanya perlu berkembang seiring agar listrik terbarukan benar-benar dapat digunakan," kata Davies.Seorang pria mengendarai sepeda roda tiganya melewati menara pendingin dan cerobong asap dari pembangkit listrik tenaga batu bara di Beijing, China. Foto: David Gray/REUTERSHal ini menjadi penting karena produksi energi surya bersifat tidak konstan. Panel surya tidak menghasilkan listrik pada malam hari dan produksinya dapat berubah tergantung kondisi cuaca. Karena itu, China membutuhkan jaringan transmisi yang lebih kuat serta teknologi penyimpanan energi untuk memastikan listrik dari pembangkit terbarukan dapat digunakan ketika dibutuhkan.Di sisi lain, dominasi China dalam industri manufaktur panel surya juga dapat membantu mempercepat penggunaan energi terbarukan di berbagai negara. Kapasitas produksi panel surya China yang sangat besar berpotensi menekan harga panel di pasar global sehingga teknologi tersebut menjadi lebih terjangkau.Namun, Davies mengingatkan bahwa tahap berikutnya dalam transisi energi bukan sekadar meningkatkan jumlah panel surya yang dipasang, melainkan memastikan seluruh rantai produksinya berkelanjutan.Mulai dari asal bahan baku, proses manufaktur, masa pakai teknologi, hingga bagaimana panel tersebut digunakan kembali atau didaur ulang perlu diperhatikan. Produksi panel surya sendiri tetap memiliki jejak karbon. Prosesnya mencakup penambangan bahan mentah, pengolahan, manufaktur, transportasi, hingga pemasangan.Salah satu faktor yang cukup besar berasal dari produksi polisilikon, bahan utama dalam pembuatan sebagian besar panel surya. Proses produksinya membutuhkan energi dalam jumlah besar, yang di sejumlah wilayah masih berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.Meski demikian, emisi awal dari proses produksi tersebut dapat dikompensasi oleh listrik bersih yang dihasilkan panel surya selama masa operasionalnya.Davies juga menilai peningkatan kapasitas manufaktur panel surya di tingkat lokal dan regional dapat memberikan manfaat tambahan. Selain memperkuat rantai pasokan, langkah tersebut dapat menciptakan keterampilan baru, membuka peluang ekonomi, serta membuat transisi energi global menjadi lebih tangguh dan merata.Hal ini terutama penting bagi wilayah di dunia yang hingga kini masih memiliki akses listrik yang terbatas dan tidak dapat diandalkan."Transisi energi global bukan hanya tentang menggantikan bahan bakar fosil dalam sistem kelistrikan yang sudah ada. Ini juga tentang memungkinkan masyarakat yang masih belum memiliki akses listrik yang andal untuk mendapatkan energi bersih dan terjangkau," kata Davies.Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari seberapa banyak panel surya yang berhasil dipasang."Keberhasilan pada akhirnya bukan sekadar memasang lebih banyak panel surya. Ini tentang membangun sistem energi bersih yang terjangkau, berkelanjutan, tangguh, dan dapat diakses secara global," ujarnya.