Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili. Foto: Getty ImagesJauh sebelum lulur dan masker tubuh hadir dalam berbagai kemasan modern, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah mengenal ketan hitam sebagai bagian dari ritual perawatan tubuh menjelang pernikahan. Pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari tradisi kecantikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.Lulur tersebut dikenal sebagai badabida dan digunakan dalam tradisi nombungu. Dalam rangkaian perawatan ini, calon pengantin menjalani perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur atau masker untuk digunakan pada kulit.“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili. Foto: PexelsDahulu, badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen saat ini. Meski bentuknya berubah, ia tetap berusaha mempertahankan cerita dan pengetahuan yang berada di balik racikan tersebut.Bagi Nelam, badabida bukan sekadar produk perawatan berbahan alami. Ada cerita tentang perempuan Kaili, tradisi keluarga, kesehatan, dan hubungan masyarakat dengan alam yang ikut membentuk produk tersebut.Berawal dari resep sang nenekMengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili. Foto: PexelsPengetahuan Nelam mengenai perawatan tradisional juga tidak hanya berasal dari badabida. Ia menguasai pengetahuan tentang bada kumba, yaitu bedak dingin berbahan beras dan rempah yang telah lama digunakan di dalam keluarganya.Resep bada kumba diperoleh Nelam dari sang nenek yang dikenal sebagai perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek meracik bedak dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, serta sejumlah rempah lainnya.Racikan tersebut kemudian digunakan secara turun-temurun di dalam keluarga untuk merawat kulit bayi dan anak-anak. Nelam mempelajari kembali bahan dan proses pembuatannya agar pengetahuan yang diwariskan sang nenek tidak berhenti pada satu generasi.Cerita keluarga tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berdirinya Nelamayu Tradisional pada 2018. Pada awalnya, produk yang dibuat Nelam lebih banyak digunakan oleh calon pengantin yang masih menjalankan tradisi nombungu.Seiring waktu, produknya mulai menjangkau konsumen yang tertarik pada perawatan tubuh berbahan alami maupun tradisi kecantikan dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi Nelam, perubahan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali pengetahuan tradisional dengan cara yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen masa kini.Membawa tradisi ke pasar modernMengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili. Foto: BadabidaMengubah resep keluarga menjadi produk yang dapat digunakan lebih luas ternyata tidak cukup hanya dengan membuat bentuk dan kemasan yang lebih modern. Nelam juga perlu memahami aspek kebersihan dan keamanan produk, klasifikasi, perizinan, hingga batas klaim manfaat yang dapat digunakan.Perkembangan penting bagi Nelamayu Tradisional terjadi ketika usaha tersebut mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam mendapatkan pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, hingga akses pasar.Pendampingan tersebut juga membantu Nelam memahami posisi produknya dalam ketentuan yang berlaku. Produk yang sebelumnya berada di antara perawatan tradisional dan kosmetik modern diarahkan agar memenuhi persyaratan sesuai klasifikasi dan penggunaannya.Tak hanya soal produk, bahan baku yang digunakan juga memiliki hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat Nelamayu Tradisional berkembang. Ketan hitam untuk membuat badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam.Proses produksinya juga berusaha mengurangi bahan yang terbuang. Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani. Sementara itu, abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga.Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya menerapkan ekonomi sirkular berbasis rumah tangga. Menurut Gampiri Interaksi Lestari, pendekatan seperti ini dapat membantu produk berbasis alam berkembang secara ekonomi sekaligus tetap mempertimbangkan nilai budaya dan lingkungan.Bagi Nelam, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan. Ia ingin konsumen juga mengenal cerita perempuan Kaili yang hidup di dalamnya.