Klaim “terbukti dalam penelitian” sering kali disampaikan dengan penuh keyakinan, baik yang didasarkan pada penelitian tahap awal maupun penelitian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di berbagai populasi dan konteks. (Wikimedia Commons/Gwydion M. Williams), CC BYKapan kita seharusnya memercayai bukti ilmiah dan para ahli yang menjelaskannya?Ada penelitian baru yang menjadi berita utama. Hasilnya menunjukkan bahwa suatu pola makan berhasil, suatu suplemen dapat meningkatkan daya ingat, ada metode pengajaran yang meningkatkan kemampuan membaca, atau praktik manajemen tertentu yang mengoptimalkan produktivitas.Kita pun mengubah cara kita makan, mengasuh anak, atau bekerja. Kita mengikuti apa yang dikatakan oleh sains.Beberapa bulan kemudian, muncul berita lain yang membantah temuan sebelumnya. Telur ternyata buruk bagi kesehatan, lalu kembali dianggap sehat. Anggur merah melindungi jantung, atau malah tidak? Cokelat hitam, pola makan rendah lemak, meja kerja berdiri, menggunakan masker selama pandemi: Rekomendasi berdasarkan sains terus berubah. Akhirnya, orang-orang berhenti memercayai apa yang “terbukti oleh riset.” Baca juga: Separuh klaim riset sosial dan perilaku tidak bertahan ketika dicoba ulang Padahal, memang begitulah cara sains bekerja: Bukti terus bertambah, hasil awal akan diuji kembali dan sebagian yang terbukti bertahan sedangkan sebagian lainnya tidak. Masalahnya, kita sering memberitakan dan menindaklanjuti bukti yang masih berkembang seolah-olah hasilnya sudah final.Dalam artikel terbaru saya, saya berargumen bahwa kecenderungan memperlakukan hasil awal sebagai kesimpulan yang sudah pasti dapat mendorong klaim yang terlalu percaya diri dan berkontribusi pada menurunnya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Saya menawarkan kerangka baru untuk membantu para pembuat kebijakan menilai kematangan dari bukti yang sudah ada.Kerangka ini juga dapat membantu kita semua memahami bukti ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.Bukti matang vs hasil awalPernyataan tentang apa yang “dibuktikan oleh penelitian” sering disampaikan dengan penuh keyakinan. Bukti yang dimaksud bisa jadi berasal dari penelitian tahap awal yang masih lemah. Namun, bisa juga merupakan hasil dari berbagai penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun pada populasi yang berbeda-beda dan konteks yang beragam hingga akhirnya menjadi panduan ahli dan tinjauan sistematis. Apakah anggur merah baik untuk jantung? Hasil penelitiannya cukup rumit. (Unsplash/Alexandra Torro) Bukti matang telah melewati pengujian selama bertahun-tahun. Sebaliknya, hasil awal yang mengejutkan bisa saja dibantah pada keesokan hari. Namun, wartawan, pegiat, bahkan peneliti sendiri tidak selalu membedakan keduanya.Para politisi, pendidik, dan pemangku kebijakan kesehatan masyarakat sering kali merumuskan kebijakan berdasarkan hasil awal yang menjanjikan, mengklaimnya sebagai kebijakan “berbasis bukti”, lalu menyaksikan kebijakan tersebut gagal seiring berkembangnya ilmu pengetahuan.Satu penelitian saja tidak cukupKerangka yang saya kembangkan, PERLS (Policy Evidence Readiness Levels), memberikan cara yang lebih terstruktur untuk menilai kematangan bukti dan melihat apa yang sebenarnya dapat “didukung oleh sains”.Kerangka ini juga menawarkan aturan sederhana: ketika menentukan keyakinan kita terhadap suatu klaim, tanyakan apakah klaim tersebut didukung oleh satu penelitian, beberapa penelitian, atau banyak penelitian.Jika suatu klaim hanya berdasarkan satu penelitian atau bahkan segelintir penelitian, anggap hasilnya sebagai kemungkinan, bukan sesuatu yang sudah terbukti. Temuan tersebut mungkin bertahan—tapi mungkin juga tidak—setelah diteliti lebih lanjut. Tren pola makan terus berubah seiring dengan perkembangan penelitian. (Unsplash/Elena Leya) Ada banyak alasan mengapa hasil penelitian awal tidak bertahan dalam jangka panjang. Sebagian gagal hanya karena kebetulan. Jika cukup banyak penelitian dilakukan, beberapa di antaranya pasti akan menemukan hasil yang mencolok karena faktor keberuntungan—seperti koin yang bisa saja menunjukkan sisi gambar lima kali berturut-turut, tapi bukan berarti hanya punya sisi gambar saja. Kalau koinnya terus dilempar, pada akhirnya kebenarannya akan terungkap.Hasil penelitian lainnya gagal bertahan karena alasan yang lebih bermasalah, seperti desain penelitian yang buruk, kesalahan, atau pelaporan hasil yang selektif.Apa yang terjadi pada skala yang lebih besar?Bahkan hasil dari penelitian yang dilakukan dengan cermat sering kali tidak lagi berlaku ketika diterapkan dalam skala yang lebih luas.Misalnya, penelitian dapat menunjukkan bahwa penerapan empat hari kerja dalam seminggu dapat meningkatkan produktivitas pada tim yang sangat diperhatikan, termotivasi, dan memang memilih untuk berpartisipasi dalam penelitian untuk mencoba pola kerja tersebut. Namun, apakah hasil yang sama akan muncul jika praktik ini diterapkan pada karyawan dan organisasi yang jumlahnya lebih banyak dengan kondisi yang lebih beragam? Sains dan penafsiran bukti memengaruhi kita pada segala aspek kehidupan, termasuk di tempat kerja. (Unsplash/Austin Distel) Dampak lainnya baru terlihat setelah jangka waktu yang lebih panjang. Misalnya, suatu pola makan mungkin berhasil menurunkan berat badan di awal, tetapi sulit dipertahankan atau justru menimbulkan efek samping dalam jangka panjang.Belajar dari kasus pengajaran membaca berbasis bunyiKepercayaan terhadap suatu temuan bukan berasal dari satu penelitian, melainkan dari kumpulan bukti. Apakah hasilnya muncul berulang kali dari berbagai laboratorium dan tim peneliti, serta dalam kondisi dunia nyata dengan kelompok masyarakat yang berbeda-beda? Kita seharusnya lebih percaya pada temuan yang bertahan setelah diuji berkali-kali dalam banyak penelitian daripada temuan mengejutkan yang baru pertama kali masuk berita.Inilah proses ilmiah yang telah diformalkan dalam berbagai bidang, seperti kedokteran, di mana standar perawatan mengharuskan bukti terus dikumpulkan hingga menghasilkan meta-analisis, tinjauan sistematis, dan pada akhirnya panduan dari lembaga atau badan ahli yang kredibel. Baca juga: Kebijakan berbasis bukti adalah yang terbaik? Belum tentu Ketika proses ini dilewatkan, masalah pun muncul. Pada 1980-an dan 1990-an, banyak pendidik menggunakan argumen “studi menunjukkan” ketika mengganti metode pengajaran membaca berbasis bunyi dengan pendekatan bahasa utuh. Kini, beberapa dekade kemudian, semakin jelas bahwa bukti awal yang menjadi dasar perubahan tersebut tidak mampu bertahan setelah diuji lebih lanjut. Sekolah-sekolah kini mulai kembali menggunakan pendekatan bunyi dan sains di balik membaca, yang didukung oleh bukti yang terkumpul dan berbagai tinjauan sistematiss. Strategi pembelajaran di kelas berubah seiring dengan bukti keberhasilannya. (Unsplash/Jerry Wang) Sebelumnya, pembuat kebijakan pendidikan tidak mempertanyakan kematangan bukti yang digunakan untuk membenarkan keputusan besar.Ambil tindakan, tetapi tetaplah fleksibelKita sering kali harus mengambil keputusan sebelum bukti ilmiah benar-benar matang. Karena ada kekhawatiran soal kesehatan, perubahan pasar atau anak yang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan segera. Mengambil tindakan berdasarkan bukti yang ada bukan sebuah kesalahan.Kesalahannya adalah membuat keputusan seolah-olah temuan awal tersebut tidak mungkin berubah.Jadi, kapan seharusnya kita memercayai bukti ilmiah dan para ahli yang menjelaskannya?Jawabannya bukan sekadar percaya atau tidak. Kita perlu melihat apakah suatu klaim hanya berdasarkan satu penelitian atau dari kumpulan penelitian yang telah teruji melalui berbagai studi. Tingkat kepercayaan dan tindakan kita semestinya disesuaikan dengan seberapa matang bukti tersebut.Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.Christopher Cotton adalah salah satu pemilik Limestone Analytics, sebuah firma penasihat kebijakan, dan telah menjadi konsultan bagi pemerintah AS dan Inggris, Nutrition International, World Vision, serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia telah ditunjuk oleh pemerintah provinsi dan firma hukum swasta untuk memberikan kesaksian ahli terkait pendanaan kampanye dan kebijakan COVID-19. Selama lima tahun terakhir, ia telah menerima dana penelitian dari Social Sciences and Humanities Research Council of Canada dan Natural Sciences and Engineering Research Council of Canada, serta melalui perannya sebagai Jarislowsky-Deutsch Chair in Economic and Financial Policy di Queen's University. Selain itu, ia juga terafiliasi dengan Canadian Economic Association, Canadian Public Economics Group, dan JPAL.