Ilustrasi ChatGPT. Foto: Aditya Panji/kumparanSurvei Sharing Vision IT Business Outlook pada Juni 2026 menobatkan ChatGPT menjadi aplikasi kecerdasan buatan (AI) dengan tingkat awareness dan penggunaan paling tinggi di antara belasan AI di Indonesia, mengalahkan nama-nama besar seperti Gemini, Claude, dan Deepseek.Survei mengungkap, sebanyak 95% dari total 3.280 responden mengaku mengenal ChatGPT, sementara 83% di antaranya pernah menggunakan AI besutan OpenAI tersebut. Google Gemini menyusul di peringkat dua dengan awareness sebesar 94% dan penggunaan 77%. Posisi ketiga ditempati Claude besutan Anthropic yang mencatatkan awareness 79% dengan penggunaan 49%.Hasil survei Sharing Vision IT Business Outlook Juni 2026. Foto: Dok. Sharing VisionDi posisi empat dan lima ditempati DeepSeek dengan awareness 78% dan penggunaan 43%, serta Microsoft Copilot dengan awareness 73 persen dan penggunaan 39 persen.Masyarakat Indonesia ternyata menggunakan AI lain seperti Siri, Grammarly, Grok, Notion AI, Alexa, DALL-E, Midjourney, dan Synthesia dengan persentase yang lebih rendah di rentang 6-28%.Ilustrasi Aplikasi Chatbot. Foto: Ascannio/ShutterstockPenggunaan AI Makin Naik IntensitasnyaSelain mengungkap temuan dominasi ChatGPT, Founder Sharing Vision sekaligus Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), Dimitri Mahayana, menyebut adopsi AI di Indonesia terus meningkat intensitasnya. Survei mencatat 55,9 persen pengguna kini mengakses AI setiap hari (sangat sering) atau hampir setiap hari (sering), dengan porsi pengguna kategori sangat sering meningkat dari 19,6 persen pada Juni 2025 menjadi 24 persen pada Juni 2026.Durasi penggunaan AI pun makin panjang. Kelompok pengguna dengan durasi 2-4 jam naik dari 16 persen menjadi 21,4 persen dalam setahun terakhir, sementara pengguna di atas empat jam per hari naik dari 6,1 persen menjadi 8,7 persen.Hasil survei Sharing Vision IT Business Outlook Juni 2026. Foto: Dok. Sharing VisionMenurut Dimitri, dominasi aplikasi AI global seperti ChatGPT tidak perlu dipandang secara hitam-putih. Ia menilai masyarakat memang membutuhkan dan aktif memakai teknologi tersebut, sehingga hal itu semestinya dilihat sebagai sinyal positif atas tingkat literasi digital masyarakat.Meski begitu, ia mengingatkan agar besarnya adopsi ChatGPT dan aplikasi AI global lainnya oleh pengguna Indonesia turut diimbangi dengan upaya menumbuhkan ekosistem AI dan talenta digital di dalam negeri, sehingga nilai ekonomi dari aktivitas tersebut tidak semata-mata mengalir ke luar negeri.Hasil survei Sharing Vision IT Business Outlook Juni 2026. Foto: Dok. Sharing Vision"Yang perlu dipikirkan berikutnya adalah bagaimana besarnya konsumsi digital itu juga menghasilkan lapangan kerja, pendapatan perusahaan, investasi, pengembangan talenta, infrastruktur, dan ekosistem bisnis yang manfaat ekonominya tetap dirasakan di Indonesia," ujar Dimitri dalam keterangan persnya, Rabu (2/9/2026).Survei Sharing Vision IT Business Outlook Juni 2026 ini merupakan riset rutin yang memotret perilaku digital masyarakat Indonesia, mulai dari penggunaan internet, AI, perbankan digital, hingga metode pembayaran.