Kiprah Pakar Medis RI Bawa Inovasi Regeneratif & Identitas Budaya ke Global

Wait 5 sec.

Prof. Dr. Deby Vinski, dokter, ilmuwan, dan pelopor terkemuka di bidang kedokteran anti-penuaan (anti-aging medicine) dani, dokter, ilmuwan, dan pelopor terkemuka di bidang kedokteran anti-penuaan (anti-aging medicine) dan regeneratif asal Indonesia. Foto: Dok. IstimewaNama Indonesia kembali hadir di panggung internasional melalui kiprah pakar medis dalam forum bergengsi yang mempertemukan sejumlah pakar dunia di bidang stem cell, regenerative medicine, dan longevity.Ialah Prof. Dr. Deby Vinski, dokter, ilmuwan, dan pelopor terkemuka di bidang kedokteran anti-penuaan (anti-aging medicine) dan regeneratif, yang berbagi panggung dengan sejumlah pakar internasional, Di antaranya Prof. Dr. Elena Baranova, President World Council of Preventive Medicine (WOCPM) Monaco; Prof. Jaime Rodriguez dari Barcelona; Dr. Daniel Pompa dari Amerika Serikat; serta Dr. Sara Caponigro dari Roma, Italia. Forum tersebut dimoderatori aktor Hollywood Clayton Norcross, yang dikenal melalui serial televisi The Bold and the Beautiful.Kehadiran Deby tidak sekadar membawa perspektif ilmiah Indonesia mengenai stem cell, regenerative medicine, dan longevity. Ia juga menjadikan panggung internasional tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Nusantara.Deby tampil mengenakan kebaya Kutubaru berwarna pink handmade dengan detail payet dari Indonesian Heritage. Busana tersebut dipadukan dengan kain karya Guruh Soekarno Putra serta clutch Ulos kombinasi crocodile dari Dekranasda Medan, Sumatera Utara.Pilihan busana tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan Deby, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan kekayaan budaya Indonesia.“Saya bangga berdiri di Venice membawa Merah Putih. Saya ingin dunia melihat bahwa Indonesia memiliki ilmu pengetahuan, inovasi, sekaligus budaya yang luar biasa untuk dibanggakan,” ujar Deby.Dari Stem Cell hingga LongevityIlustrasi sebuah sel dengan DNA. Foto: urfin/ShutterstockDi dunia medis internasional, Deby Vinski dikenal sebagai figur yang aktif membawa isu preventive medicine, regenerative medicine, stem cell, dan longevity ke berbagai forum global. Kiprahnya juga dikaitkan dengan pengembangan layanan kesehatan yang menyasar kebutuhan pasien dengan tuntutan privasi dan pelayanan personal, termasuk kalangan pemimpin dan VVIP.Vinski Tower dan CELLTECH Stem Cell Centre di Indonesia menjadi bagian dari ekosistem layanan yang dikembangkan Deby dalam bidang tersebut. Konsep pelayanan yang mengedepankan privasi, teknologi, dan pendekatan personal menjadi salah satu karakter yang ditonjolkan dalam layanan tersebut.Dalam konteks teknologi, Prof. Marhaen Hardjo, yang disebut sebagai bagian dari Komite Sel Punca, menyampaikan bahwa teknologi Quantum yang digunakan dalam ekosistem layanan Prof. Deby disebut memiliki keberadaan terbatas secara global, antara lain di Vinski Tower Indonesia dan salah satu fasilitas di Jepang.Selain itu, layanan stem cell Prof. DDeby juga disebut telah mendapat pengakuan sebagai Centre of Excellence dari BD, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat. Klaim dan pengakuan tersebut menjadi bagian dari positioning Celltech Stem Cell Centre Vinski Tower sebagai salah satu pusat layanan yang mengembangkan pendekatan berbasis teknologi dalam terapi sel punca.Namun, di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin pesat, Deby menempatkan aspek ilmiah, inovasi, serta standar pelayanan sebagai bagian penting dalam pengembangan regenerative medicine. Hal tersebut sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kapasitas Indonesia dalam bidang kedokteran regeneratif kepada komunitas internasional.Bawa Identitas Indonesia ke Forum GlobalProf. Dr. Deby Vinski, dokter, ilmuwan, dan pelopor terkemuka di bidang kedokteran anti-penuaan (anti-aging medicine) dani, dokter, ilmuwan, dan pelopor terkemuka di bidang kedokteran anti-penuaan (anti-aging medicine) dan regeneratif asal Indonesia bertemu Prof. Jaime Rodriguez dari Barcelona. Foto: Dok. IstimewaPenampilan Prof. Deby di Venice memperlihatkan diplomasi Indonesia tidak selalu berlangsung melalui forum kenegaraan. Ilmu pengetahuan, profesi, dan budaya juga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia.Kebaya, kain Nusantara, dan Ulos yang dikenakannya bukan sekadar elemen fesyen, tetapi menjadi simbol identitas yang dibawa ke tengah pertemuan para ilmuwan dan praktisi internasional.Dengan demikian, ada dua pesan sekaligus: menunjukkan dua pesan sekaligus: menunjukkan perkembangan dan kiprah Indonesia dalam bidang kedokteran regeneratif, sekaligus memperlihatkan bahwa warisan budaya Nusantara memiliki tempat di panggung global.Setelah Venice, agenda internasional Deby masih berlanjut. Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan menghadiri World Consensus di London, yang juga akan menjadi bagian dari rangkaian peringatan 15 tahun WOCPM.Agenda tersebut menjadi momentum berikutnya bagi Deby untuk mempertemukan gagasan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan jejaring internasional di bidang preventive medicine, regenerative medicine, serta longevity.