Korsel Pertimbangkan Investasi Senilai Rp 2.103 T untuk Pembangkit Nuklir di AS

Wait 5 sec.

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Foto: Shutterstock/Daria NipotPemerintah Korea Selatan (Korsel) tengah mempertimbangkan untuk mengalokasikan dana senilai USD 120 miliar atau sekitar Rp 2.103,84 triliun (kurs Rp 17.532) dari paket investasinya di Amerika Serikat (AS) untuk pembangunan delapan reaktor nuklir di AS.Negosiasi ini berpotensi menghasilkan nota kesepahaman (MoU) paling cepat pada 18 September mendatang. Dari empat reaktor pertama, Korea Selatan akan membangun dua unit, sedangkan AS akan menggarap dua unit sisanya.Menurut beberapa peserta yang hadir, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya menyampaikan kepada Partai Demokrat pada hari Senin (7/9) bahwa Washington bulan lalu mengusulkan penggunaan dana investasi AS milik Seoul untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di bawah “kerangka kerja komprehensif”. Pemerintah saat ini sedang mengkaji usulan tersebut.Kerangka kerja komprehensif itu merujuk pada perjanjian mengikat yang menetapkan struktur dan arah keseluruhan dari sebuah kesepakatan, sementara aturan-aturan terperincinya akan diselesaikan kemudian.Menurut sumber internal, AS menuntut investasi sebesar USD 120 miliar, dan pemerintah Korea Selatan sedang mempertimbangkan secara serius kesepakatan ini sebagai bagian dari paket USD 350 miliar yang awalnya disepakati dalam perjanjian pembatasan tarif, dengan MoU senilai USD 200 miliar dalam bentuk tunai yang telah ditandatangani pada Oktober tahun lalu.Jika kesepakatan ini berlanjut, masing-masing dari delapan reaktor tersebut diperkirakan menelan biaya rata-rata USD 15 miliar dan mencakup hampir 60 persen dari seluruh investasi yang telah dijanjikan.Menariknya, dua reaktor buatan Korea tersebut berpotensi diekspor ke AS. Washington awalnya mendesak pembangunan 10 reaktor AP1000 berkapasitas 1,1 gigawatt hingga tahun 2030 yang digarap oleh perusahaan nuklir AS, Westinghouse, sementara perusahaan-perusahaan Korea hanya memasok peralatan dan komponen lainnya.Di sisi lain, Seoul ingin pembangkit listrik tersebut menggunakan model APR1400 yang dikembangkan secara mandiri oleh Korea dengan kapasitas 1.400 megawatt. Membagi kelompok reaktor pertama antara kedua negara dianggap sebagai kompromi yang damai, sementara empat reaktor sisanya dilaporkan masih akan dinegosiasikan lebih lanjut.“Ada kemungkinan Korea Selatan dan Amerika Serikat akan mengumumkan kesepakatan mengenai proyek investasi AS ini pada 18 September. Isu-isu terkait tenaga nuklir juga berpotensi dibahas pada saat itu,” ujar seorang sumber dari kubu pemerintah, dikutip dari Korea JoongAng Daily pada Kamis (10/9).Pertemuan antara pemerintah dan partai tersebut diadakan untuk memberikan taklimat kepada para anggota dewan mengenai proyek pembangkit listrik tenaga gas siklus kombinasi senilai USD 22,3 miliar di Encinal, Texas, yang terpilih sebagai proyek AS pertama di bawah undang-undang khusus Korea tentang investasi AS. Namun, pemerintah juga membeberkan perincian mengenai proyek-proyek tambahan lainnya.Kementerian itu juga menyampaikan pandangan bahwa Korea Selatan harus aktif mengejar proyek pengembangan gas alam cair (LNG) di Alaska. MOU yang akan datang juga kemungkinan besar bakal menyatakan bahwa proyek tersebut akan dijalankan berdasarkan kerangka kerja komprehensif.“Dari investasi senilai USD 200 miliar tersebut, USD 120 miliar akan dialokasikan untuk reaktor nuklir, USD 22,3 miliar untuk proyek gas, dan sisanya untuk proyek-proyek seperti LNG Alaska,” kata seorang sumber internal dari kubu pemerintah.Pihak kementerian menambahkan, tekanan Washington agar Seoul menambah investasinya tidak akan berdampak negatif terhadap megaproyek semikonduktor di wilayah barat daya Korea. Pemerintah pada bulan Juni lalu telah mengumumkan bahwa raksasa cip Korea, Samsung Electronics dan SK hynix, bakal membangun fasilitas skala besar di wilayah Honam, yang mencakup Provinsi Jeolla dan Gwangju.Para anggota dewan sempat mempertanyakan apakah AS keberatan atas langkah Korea yang berinvestasi pada megaproyek di dalam negeri di tengah tekanan AS untuk berinvestasi lebih banyak di Negeri Paman Sam itu, serta apakah tekanan itu dapat memengaruhi pemindahan bandara militer Gwangju yang menjadi lokasi rencana pembangunan pabrik semikonduktor.Pejabat kementerian menjawab “tidak” untuk kedua pertanyaan tersebut. “Jika spekulasi seperti ini muncul, pemerintah harus merespons secara proaktif,” ujar salah satu anggota dewan yang hadir dalam pertemuan tersebut.