Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanMenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan total aset keuangan syariah Indonesia saat ini telah mencapai Rp 3.131 triliun. Angka ini menempatkan Indonesia di jajaran empat besar global bersama Malaysia, Uni Emirat Arab (UAE), Arab Saudi, dan Bahrain.Airlangga menyebut ekonomi syariah juga mempercepat peningkatan inklusi keuangan syariah di Indonesia.“Aset keuangan syariah sudah mencapai Rp 3.131 Triliun dan berada di posisi empat besar bersama Malaysia, UAE, Arab Saudi, dan Bahrain,” kata Airlangga dalam gelaran Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (8/9).Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga mengatakan pemerintah melihat Provinsi Aceh sebagai salah satu role model atau model percontohan pengelolaan keuangan syariah yang lengkap.“Jadi kita lihat di Aceh ada role model keuangan syariah yang lengkap, sinergi sektor perbankan, lembaga keuangan non-bank, dan keuangan sosial atau Ziswaf melalui Baitul Mal,” ujarnya.Berdasarkan catatan pemerintah, total aset Bank Umum Syariah (BUS) di Aceh telah menyentuh Rp 65,05 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, yaitu di angka 15,65 persen.Lalu pembiayaan mengalami kenaikan sebesar 11 persen, risiko pembiayaan macet atau nonperforming finance (NPF) berada di level 2,16 persen, jauh di bawah rata-rata nasional, tingkat inklusi keuangan syariah mencapai 72 persen. Selain itu indeks literasi keuangan 65,18 persen, yang merupakan angka tertinggi di tingkat nasional.“Kemudian potensi zakat, infak sedekah, dan wakaf sekitar Rp 343 triliun per tahun. Dan ini ruang besar yang perlu terus dioptimalkan,” terangnya.