BMKG Pastikan Erupsi Gunung Anak Krakatau Belum Picu Anomali Gelombang Laut

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Selasa belum memicu anomali gelombang laut di Selat Sunda.Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan BMKG memantau kondisi laut melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di kawasan Carita dan Tanjung Lesung. Hasil pemantauan menunjukkan probabilitas tsunami masih berada pada kategori rendah, yakni di bawah 50 persen."Hingga pagi tadi, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami," kata Ardhasena di Jakarta, Selasa.BMKG mencatat tinggi gelombang di Selat Sunda masih stabil dan berkisar 0,5 hingga 3 meter. BMKG juga memprakirakan kondisi cuaca cenderung cerah hingga cerah berawan pada 8-13 September 2026.Selain memantau kondisi laut, BMKG menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membersihkan atmosfer dari paparan abu vulkanik.Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa pukul 07.49 WIB. Erupsi tersebut masuk kategori strombolian atau erupsi kecil dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.Ardhasena mengatakan BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menjalankan lima sorti penerbangan OMC. Petugas mengoperasikan dua pesawat Cessna Caravan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.BMKG juga melakukan intervensi cuaca melalui satu sorti penyemaian bubuk garam (NaCl), satu sorti penyemaian cairan CaCl2 sebagai inti kondensasi hujan, serta tiga sorti penyemprotan kabut air atau water mist ke atmosfer.Meski kondisi laut masih stabil, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik membatasi aktivitas di luar rumah. Masyarakat juga perlu menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. (*)