Harga Minyak Naik, Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Selat Hormuz

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, ISTANBUL - Harga minyak mentah kembali naik pada Selasa setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.Harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,4 persen menjadi 98,5 dolar AS atau sekitar Rp1,74 juta per barel pada pukul 06.30 GMT. Kenaikan tersebut membawa harga Brent ke level tertinggi dalam enam pekan.Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga menguat 1,4 persen menjadi 94 dolar AS atau sekitar Rp1,66 juta per barel.Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang sejumlah kota dan infrastruktur ekonomi di wilayah selatan Arab Saudi pada Selasa. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan serangan tersebut menimbulkan korban jiwa.Kementerian Energi Arab Saudi juga melaporkan kebakaran di sejumlah fasilitas energi di wilayah selatan setelah serangan menyasar fasilitas tersebut.Sehari sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan dan menghancurkan balon udara pengintai (aerostat) militer AS melalui serangan drone di dekat Bandara Erbil, Irak bagian utara.Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Iran akan menetapkan zona maritim baru yang “terbatas” di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan memasukkan setiap kapal yang memasuki wilayah tersebut ke dalam daftar sanksi.Di Yaman, Pasukan Penjaga Pantai mencegat sebuah kapal tanker minyak pada Minggu. Media pemerintah melaporkan kapal tersebut sebelumnya menurunkan muatan yang disebut “tidak sah” di Pelabuhan Ras Isa, Provinsi Al-Hudaydah, yang dikuasai Houthi.AS dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengatur langkah untuk mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, dan mengatasi pembatasan ekonomi.Namun, kedua negara kemudian saling menuduh tidak menjalankan komitmen dalam nota kesepahaman tersebut. Ketegangan militer pun terus berlangsung di tengah perselisihan mengenai sanksi dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.Kondisi tersebut membuat pasar kembali mencermati perkembangan konflik AS-Iran karena setiap gangguan terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan dan harga minyak global. (*)