Di sebuah bengkel kecilnya di Srinagar, Kulsum Irshad atau Simran mencampurkan bahan yang biasanya tidak dikaitkan dengan tradisi papier mache (seni bubur kertas) Kashmir yang telah berusia berabad-abad. Foto: Sharafat Ali/REUTERSSeni yang masuk ke Kashmir pada abad ke-14 bersama para mistikus Sufi dari Persia itu menjadi salah satu kerajinan tangan paling terkenal di wilayah lembah tersebut. Foto: Sharafat Ali/REUTERSSelama lima tahun, Simran menekuni kerajinan ini dengan cara tradisional, yaitu mengolah limbah kertas dan buku sekolah bekas menjadi bahan dasar untuk karya seni dekoratif lukis tangan khas Kashmir. Namun, seiring dengan semakin langka dan mahalnya harga kertas, ia mulai mencemaskan masa depan kerajinan tersebut. Foto: Sharafat Ali/REUTERS"Saya tidak ingin seni ini punah karena alasan apa pun," kata Simran, seperti melansir Reuters. Foto: Sharafat Ali/REUTERSSetelah dua tahun dan berbagai percobaan, Simran menemukan solusinya yang ia sebut sebagai grass mache (seni bubur rumput). Bahan ini mengganti bubur kertas dengan rumput kering, gulma, dan yang terutama, alga yang diambil dari Danau Dal, salah satu perairan paling ikonik namun tercemar di Kashmir. Foto: Sharafat Ali/REUTERSBahan-bahan tersebut ditumbuk, lalu diolah layaknya bubur kertas tradisional, namun menghasilkan karya akhir yang lebih ringan dan tahan lama. Foto: Sharafat Ali/REUTERSDanau Dal yang dijuluki Permata Mahkota Kashmir," selama bertahun-tahun telah menghadapi masalah perambahan lahan, limbah cair, dan pertumbuhan gulma yang tak terkendali. Foto: Sharafat Ali/REUTERSNamun bagi Simran, membersihkan gulma berlebih itu bukan sekadar upaya memperoleh bahan baku, melainkan juga tindakan pelestarian lingkungan. Foto: Sharafat Ali/REUTERSSejauh ini, Simran telah melatih sekitar 50 perempuan dalam pembuatan kerajinan bubur kertas tradisional dan berharap dapat melakukan hal serupa dengan kerajinan bubur rumput. Foto: Sharafat Ali/REUTERSDi sebuah bengkel kecilnya di Srinagar, India, Kulsum Irshad atau Simran mencampurkan bahan yang biasanya tidak dikaitkan dengan tradisi papier mache (seni bubur kertas) Kashmir yang telah berusia berabad-abad.Seni yang masuk ke Kashmir pada abad ke-14 bersama para mistikus Sufi dari Persia itu menjadi salah satu kerajinan tangan paling terkenal di wilayah lembah tersebut.Selama lima tahun, Simran menekuni kerajinan ini dengan cara tradisional, yaitu mengolah limbah kertas dan buku sekolah bekas menjadi bahan dasar untuk karya seni dekoratif lukis tangan khas Kashmir. Namun, seiring dengan semakin langka dan mahalnya harga kertas, ia mulai mencemaskan masa depan kerajinan tersebut."Saya tidak ingin seni ini punah karena alasan apa pun," kata Simran, seperti melansir Reuters.Setelah dua tahun dan berbagai percobaan, Simran menemukan solusinya yang ia sebut sebagai grass mache (seni bubur rumput). Bahan ini mengganti bubur kertas dengan rumput kering, gulma, dan yang terutama, alga yang diambil dari Danau Dal, salah satu perairan paling ikonik namun tercemar di Kashmir.Simran mengerjakan vas bunga berbahan gulma air dan rumput kering yang dikumpulkan dari Danau Dal di bengkel kerjanya di Srinagar, Kashmir, wilayah India, Sabtu (5/9/2026). Foto: Sharafat Ali/REUTERSBahan-bahan tersebut ditumbuk, lalu diolah layaknya bubur kertas tradisional, namun menghasilkan karya akhir yang lebih ringan dan tahan lama.Danau Dal yang dijuluki Permata Mahkota Kashmir," selama bertahun-tahun telah menghadapi masalah perambahan lahan, limbah cair, dan pertumbuhan gulma yang tak terkendali.Namun bagi Simran, membersihkan gulma berlebih itu bukan sekadar upaya memperoleh bahan baku, melainkan juga tindakan pelestarian lingkungan.Sejauh ini, Simran telah melatih sekitar 50 perempuan dalam pembuatan kerajinan bubur kertas tradisional dan berharap dapat melakukan hal serupa dengan kerajinan bubur rumput.Keterbatasan dan ruang dan sumber data membatasi jumlah peserta pelatihan menjadi 15 orang dalam satu waktu.