Tollum, perayaan delapan tahun Tobatenun. Foto: TobatenunTobatenun menandai delapan tahun perjalanannya lewat Tullom, sebuah acara yang menampilkan koleksi spesial ulang tahun ke-8, kurasi Tenun Songket Batak dari Jabu Bonang, serta kolaborasi bersama dua desainer, AMOTSYAMSURIMUDA dan Peggy Hartanto.Tullom digelar sebagai ruang untuk memperlihatkan sejumlah pengembangan terbaru Tobatenun terhadap Tenun Batak. Nama Tullom sendiri diambil dari bahasa Batak Toba yang berarti “terus”."Tajuk Tullom ini kami ambil gunakan representasi dari semangat untuk terus bergerak dan berkembang. Oleh karena itu, di acara ini kami juga memperkenalkan kembali Tenun Batak agar semakin banyak dikenal secara luas," ungkap Anung Kamaswara, Associate Creative Director Tobatenun, kepada kumparanWOMAN.Anung Kamaswara, Associate Creative Director Tobatenun, menyambut tamu di butik Tobatenun. Foto: TobatenunSaat ini, lebih dari 300 perajin di Sumatera Utara terlibat dalam ekosistem Tobatenun. Para perajin tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Medan, Simalungun, Dairi, Siantar, Samosir, Toba, Tapanuli Utara, Labuhan Batu Utara, hingga Humbang Hasundutan.Tullom menjadi penanda delapan tahun Tobatenun sekaligus memperlihatkan bagaimana Tenun Batak terus dikembangkan melalui berbagai bentuk produk dan kolaborasi kreatif.Nah, untuk koleksi spesial ulang tahun ke-8, social enterprise ini menghadirkan busana laki-laki dan perempuan dengan sejumlah siluet yang sebelumnya telah menjadi ciri khas mereka. Koleksi tersebut mencakup luaran, kemeja, hingga gaun yang menggunakan Tenun kontemporer.Tollum, perayaan delapan tahun Tobatenun. Foto: TobatenunTenun tersebut dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) oleh para perajin di Pematangsiantar. Pengembangan kainnya merupakan bagian dari kerja Yayasan Rumah Komunitas Wastra atau Jabu Bonang, organisasi nirlaba yang menjadi mitra Tobatenun dalam pelestarian dan pengembangan wastra.Selain koleksi terbaru, Tullom turut menampilkan Tenun Songket Batak kreasi partonun (perajin tenun dalam bahasa Batak) yang dikembangkan Jabu Bonang. Kain-kain tersebut berasal dari sejumlah wilayah, mulai dari Pulau Samosir, Tarutung hingga Labuhanbatu, dan sebelumnya telah dipamerkan dalam Indonesia Fashion Week 2026.Pamerkan koleksi kolaborasi dengan dua desainerTobatenun juga kembali berkolaborasi dengan desainer AMOTSYAMSURIMUDA melalui koleksi bertajuk Heirloom Fantasy. Koleksi tersebut sebelumnya telah dipresentasikan dalam JF3 2026 dan menjadi kolaborasi ketiga antara Tobatenun dan sang desainer.AMOTSYAMSURIMUDA dikenal melalui rancangan pakaian pria dengan konstruksi yang unik dan ringkas. Pendekatan tersebut memungkinkan busana dikenakan untuk berbagai acara, bentuk tubuh, dan lintas usia. Bahkan beberapa juga bisa dikenakan oleh perempuan.Sementara itu, salah satu sorotan dalam Tullom adalah interpretasi desainer Peggy Hartanto terhadap Tenun Batak. Koleksi ini menjadi koleksi wastra pertama Peggy Hartanto.Koleksi Tobatenun kolaborasi dengan Peggy Hartanto. Foto: TobatenunPertemuan Peggy dengan Tenun Batak dari Tobatenun bermula dari sebuah dialog kreatif yang mempertemukan keduanya dalam panggung Karya Kreatif Indonesia beberapa waktu lalu.Tenun ATBM diolah menjadi busana yang ditujukan untuk kehidupan masa kini, sementara Tenun Batak Gedogan mendapatkan interpretasi baru dengan tetap mempertahankan identitas dan nilai yang terkandung di dalamnya.Dalam koleksi bertajuk Sang Penari, sentuhan Peggy Hartanto sebagai direktur kreatif sangat terasa melalui permainan bentuk dan potongan presisi untuk memberi sentuhan feminin pada Tenun Batak. Kamu juga bisa menemukan bentuk hati yang sudah menjadi ciri khas Peggy Hartanto.Tortor Blazer. Foto: TobatenunSalah satu yang mencuri perhatian kumparanWOMAN adalah Tortor Blazer berwarna biru muda yang terbuat dari kreasi Tenun Songket Batak hasil karya partonun. Blazer ini punya scoop neckline dengan tepian berbentuk seperti kelopak bunga. Hal yang membuatnya menarik adalah aksen train panjang yang dapat dilepaspasang. Sehingga kita bisa mengenakkannya untuk sehari-hari maupun acara istimewa.Item lainnya yang juga patut dilirik yaitu apron vest yang dibuat menggunakan Ulos Sadum. Kain ini disebut melambangkan harapan dan kebahagiaan. Peggy kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk apron vest dengan potongan tepian membulat yang menghasilkan siluet berbeda dari bentuk kain sebelumnya.Tobatenun x Peggy Hartanto. Foto: TobatenunMelalui Tullom, Tobatenun menampilkan sejumlah pendekatan terhadap Tenun Batak, mulai dari pengembangan kain dan siluet, kolaborasi dengan desainer, hingga interpretasi baru terhadap wastra.Jika ingin melihat seluruh koleksinya, kamu bisa mengunjungi butik Tobatenun di Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan.