Kondisi terkini sungai mahakam di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Foto: Dok. IstimewaPertamina semula menggunakan kapal melewati Sungai Mahakam untuk menyalurkan pasokan BBM ke masyarakat. Namun, sungai di Kalimantan tersebut saat ini surut sehingga tak lagi bisa dilewati kapal pembawa BBM.Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menilai kondisi itu merupakan force majeure. Pertamina langsung mengubah pengiriman BBM di kawasan tersebut menggunakan mobil tangki.“Kami harus melakukan yang namanya contingency plan. Yang sebelumnya disalurkan melalui kapal, maka harus disalurkan melalui mobil tangki,” ujar Roberth di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).Roberth menekankan perubahan menggunakan jalur darat tersebut memakan waktu lebih lama dibanding memakai kapal atau lewat Sungai Mahakam. Namun, langkah perubahan tersebut harus diambil Pertamina.Ilustrasi penggantian bagian kepala truk berhasil terpasang. Rangkaian prosedur pengamanan dan pemindahan mobil tangki dari lokasi kejadian berhasil dilakukan pada pukul 23.30 WIB, 18 Juli 2022. Foto: Pertamina“Tidak mungkin tidak ada konsekuensi. Jadi, kalau lewat sungai misalnya satu hari, tapi kalau lewat darat dengan menggunakan mobil tangki, kemungkinan lebih dari satu hari. Tapi BBM-nya semaksimal mungkin kami berkomitmen untuk menyalurkan,” tegas Roberth.Di tengah situasi tersebut, Roberth meminta masyarakat ikut mengawasi penyaluran BBM bersubsidi seperti Pertalite dan biosolar. Ia tidak mau ada masyarakat yang malah memanfaatkan untuk keuntungan pribadi saat Sungai Mahakam kering dengan memborong BBM dan menjualnya lagi dengan harga mahal.“Jangan memanfaatkan dengan misalnya, jalur sungainya kering, kemudian terjadi pembelian berulang di SPBU, kemudian dijual kembali dengan harga mahal,” tutur Roberth.“Ini kami sangat menyayangkan, bagaimana masyarakat sudah berhadapan dengan El Nino, mereka butuh energi, tapi kemudian ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan,” tambahnya.