PDIP Tafsirkan Pidato AHY soal Kekuasaan, Sinyal agar Diperhitungkan di 2029

Wait 5 sec.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif Deddy Yevri Hanteru Sitorus menyampaikan paparannya saat pembekalan kepala daerah terpilih di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (12/2/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus menilai pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang tidak selamanya dan berbatas waktu memiliki konteks serta tujuan politik tertentu. Pernyataan itu sebelumnya dinilai Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia sebagai sinyal pencalonan AHY pada Pilpres 2029."Menurut saya pernyataan AHY 'bahwa kekuasaan tidak selamanya dan berbatas waktu' bisa ditafsir sebagai sesuatu yang normatif dan biasa saja. Kalau cara pandangnya normatif tentu tidak ada yang harus dipersoalkan. Tetapi masalahnya adalah bahwa itu adalah pidato politik dan tentu punya konteks dan tujuan politik tertentu pula," kata Deddy kepada wartawan, Rabu (9/9).Deddy mengatakan, dari sudut pandang politik, pernyataan AHY sangat mungkin dibaca sebagai pesan kepada koalisi, institusi, atau lembaga pemerintahan. Ia menilai pernyataan tersebut juga dapat dikaitkan dengan kemungkinan adanya ketidakpuasan terhadap situasi internal pemerintahan atau institusi tertentu."Dari sudut pandang politik, pernyataan itu sangat mungkin ditafsir sebagai pesan kepada koalisi, institusi atau lembaga pemerintahan. Kalau ini yang dijadikan sudut pandang maka patut diduga ada ketidakpuasan yang dirasakan oleh AHY terhadap situasi internal pemerintahan atau institusi/lembaga tertentu," katanya."Tinggal dilihat apakah ada sinyal-sinyal ketidakpuasan atau kekecewaan dari AHY atau partainya terhadap pengelolaan kekuasaan pemerintahan saat ini. Saya tidak berani menebak-nebak. Tinggal dicek seberapa sering AHY sebagai Menteri atau Ketua Umum Parpol berkomunikasi atau berinteraksi dengan Presiden," tambah Deddy.Sementara dari sisi kontestasi politik, Deddy menilai pernyataan AHY dapat dimaknai sebagai seruan kepada koalisi partai pemerintah untuk mulai memikirkan peta jalan menuju Pemilu 2029. Ia juga membuka kemungkinan pernyataan tersebut merupakan pesan kepada Presiden agar memperhitungkan AHY atau Partai Demokrat dalam kontestasi mendatang."Dari sudut pandang kontestasi politik, bisa saja ditafsirkan bahwa pernyataan itu adalah seruan kepada koalisi partai di pemerintahan untuk mulai memikirkan peta jalan baru menuju Pemilu 2029. Atau, bisa juga diinterpretasikan sebagai pesan khusus kepada Presiden agar menghitung AHY/Demokrat dalam kontestasi pemilu yang akan datang," katanya.Penyerahan kartu tanda anggota (KTA) kepada sejumlah Founder, Investor, dan Influencer Muda Indonesia oleh Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Jakarta, Senin (7/9/2026). Foto: Instagram/ @agusyudhoyonoDeddy juga menyoroti tren kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden yang disebutnya menurun. Menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi AHY dan Demokrat untuk mulai masuk dalam pertarungan politik menuju 2029. Namun, ia menilai AHY masih perlu bekerja keras jika melihat hasil survei sejumlah lembaga."Saat ini kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden mengalami tren yang menurun. Sangat bisa dipahami jika kemudian AHY/Demokrat menyimpulkan sekarang ini sebagai momentum yang tepat untuk masuk dalam kancah pertarungan politik menuju 2029. Terlebih melihat rilis hasil survei berbagai lembaga yang belum menunjukkan dukungan yang kuat kepada AHY dan Demokrat," ucapnya.Meski begitu, ia menuturkan AHY masih perlu bekerja keras untuk meningkatkan elektabilitas."Bagaimana peluang AHY saya kurang tahu tetapi kalau melihat survei, beliau perlu kerja sangat keras untuk mengejar ketertinggalan. Terutama untuk mengejar ketertinggalan terhadap berbagai tokoh yang sudah muncul dalam radar survei seperti KDM dan Prabowo sendiri," tutur dia.Di sisi lain, terkait sikap PDIP yang dinilai belum terlihat memperkenalkan calon untuk Pilpres 2029, ia mengatakan PDIP masih memilih fokus pada kerja konkret bagi rakyat dan konsolidasi partai."Pemilu masih jauh, kita memilih fokus pada kerja-kerja konkret bagi rakyat dan konsolidasi partai secara berkelanjutan. Menurut kami terlalu pagi untuk bicara kontestasi pilpres atau pemilu saat usia pemerintahan bahkan belum mencapai setengah periode. Kami juga lebih percaya kekuatan kolektif partai dan dukungan akar rumput dari pada sekadar elektabilitas calon," tandas Deddy.