BorneoFlash.com, SAMARINDA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan operasi pemadaman kebakaran lahan dari udara di Kota Samarinda. Langkah tersebut dilakukan menyusul tingginya jumlah kejadian kebakaran lahan yang tercatat di wilayah ibu kota Kalimantan Timur.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, mengatakan rencana operasi water bombing mulai dikoordinasikan BNPB sejak Senin, 7 September 2026.Dalam koordinasi tersebut, BNPB menginformasikan bahwa satu unit helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara telah tiba di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda.“Saya tadi sekitar jam 12 dihubungi dari BNPB langsung. Saat ini helikopter sudah sampai di APT Pranoto. Besok jam 10 saya ikut rapat untuk persiapan teknis penanganan,” ujar Suwarso.Rapat teknis yang dimaksud Suwarso tersebut dijadwalkan berlangsung Selasa (8/9/2026). Pertemuan ini menjadi tahap untuk menentukan kesiapan, mekanisme, serta lokasi yang akan menjadi sasaran operasi water bombing.BPBD Samarinda sebelumnya juga telah menyerahkan data kebakaran kepada BNPB. Data tersebut disusun dalam bentuk grafik dan infografis untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan di lapangan.Berdasarkan data terakhir BPBD Samarinda, tercatat sekitar 176 kejadian kebakaran lahan di wilayah kota.Dari jumlah tersebut, kawasan Betapus menjadi lokasi dengan luasan kebakaran terbesar. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 20,5 hektare.Luasan tersebut melampaui catatan kebakaran sebelumnya di Bantuas yang mencapai sekitar 10 hektare.“Data terakhir itu sekitar 176 kejadian. Yang terbesar di sini. Dulu sempat terbesar di Bantuas, kurang lebih 10 hektare, tapi ini ternyata ada 20,5 hektare,” kata Suwarso.Satu unit helikopter yang akan digunakan untuk operasi pemadaman telah berada di Bandara APT Pranoto. Namun, pelaksanaan water bombing masih menunggu hasil rapat teknis pada Selasa.Suwarso mengatakan operasi dapat dilakukan lebih cepat apabila seluruh aspek teknis telah siap. Namun, apabila belum memungkinkan dilakukan pada hari yang sama, pelaksanaan ditargetkan mulai berjalan pada Rabu (9/9/2026).“Sementara yang saya lihat di Bandara APT Pranoto satu unit. Besok masih rapat. Kalau sekarang bisa langsung dilaksanakan eksekusi, mudah-mudahan bisa dilaksanakan. Tapi setidaknya hari Rabu sudah bisa dimulai,” ujarnya.Suwarso juga berharap pelaksanaan water bombing tidak hanya difokuskan pada titik kebakaran, tetapi dapat memberikan manfaat bagi lahan pertanian yang mengalami kekeringan apabila kondisi teknis memungkinkan.Menurutnya, pasokan air tersebut dapat membantu mengembalikan kondisi lahan sehingga fungsi sawah dapat dipulihkan.“Kalau memungkinkan lahan pertanian bisa ikut dilakukan water bombing. Itu juga akan mempercepat proses pengembalian fungsi sawah, tanah-tanah kembali bisa hidup, sehingga petani juga bisa ikut merasakan manfaat dari water bombing,” jelasnya.Selain water bombing, pemerintah juga mempertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai alternatif untuk membantu mendatangkan hujan.Namun, opsi tersebut belum dapat dilaksanakan karena kondisi atmosfer belum mendukung. Suwarso mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Kepala BNPB terkait rencana tersebut.Berdasarkan informasi dari BMKG Pusat, belum terdapat potensi pembentukan awan yang cukup besar untuk dilakukan penyemaian.“Beliau menyampaikan bahwa hasil dari BMKG Pusat belum ada potensi awan, pembentukan awan yang berpotensi menjadi hujan. Jadi belum ada awan yang potensi besar untuk disemai menjadi hujan,” katanya.Dengan kondisi tersebut, BNPB untuk sementara mengutamakan operasi water bombing sebagai langkah penanganan kebakaran lahan di Samarinda. (*)