Ilustrasi anak balita berlari. Foto: Shutter StockAnak yang aktif dan susah diam, sering kali dilabeli dengan sebutan nakal atau susah diatur. Tapi, jangan salah, Moms, bisa jadi, anak memang lebih nyaman belajar melalui gerakan dan pengalaman langsung.Ini juga berhubungan dengan kecerdasan kinestetik, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan penggunaan tubuh untuk melakukan aktivitas, berekspresi, serta mengembangkan keterampilan motorik. Anak dengan kemampuan kinestetik yang menonjol biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika diberi kesempatan untuk mencoba secara langsung.Artinya, anak yang lebih aktif bergerak atau senang mengeksplorasi lingkungan tidak otomatis berarti nakal. Namun, orang tua tetap perlu melihat minat dan kemampuan anak secara keseluruhan.Ciri-Ciri Anak dengan Kecerdasan KinestetikIlustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/ShutterstockMenurut psikolog, Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki beberapa hal yang dapat diperhatikan orang tua, di antaranya:1. Lebih nyaman belajar melalui gerakan dan pengalaman langsung.2. Lebih mudah memahami sesuatu ketika mencoba sendiri, bukan hanya mendengarkan penjelasan.3. Menikmati kegiatan yang bersifat praktik. Misalnya, anak lebih tertarik menanam dan merawat tanaman secara langsung dibandingkan hanya membaca tentang berbagai jenis tanaman.Meski begitu, anak yang aktif belum tentu otomatis memiliki kecerdasan kinestetik."Perlu dilihat apakah anak memiliki minat dan kemampuan yang cukup konsisten dalam menggunakan gerakan tubuh dan keterampilan motoriknya," jelas Madeline pada kumparanMOM, Selasa (8/9).Cara Orang Tua Mendukung Anak dengan Kemampuan KinestetikOrang tua dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bergerak dan bereksplorasi. Sebab, proses belajar tidak harus selalu dilakukan dengan duduk diam."Misalnya, anak bisa belajar berhitung sambil melompat, mengenal huruf melalui permainan mencari benda, atau mempelajari sains lewat eksperimen sederhana," kata Madeline.Aktivitas sehari-hari juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar. Ajak anak memasak, melipat pakaian, menggunting, atau membuat prakarya. Berbagai kegiatan tersebut dapat membantu melatih koordinasi serta keterampilan motoriknya.Namun, orang tua tidak perlu terburu-buru mendaftarkan anak ke berbagai kelas olahraga atau mengarahkannya menjadi atlet. Karena aktif bergerak tidak selalu anak menyukai olahraga, Moms.“Tidak perlu langsung memasukkan anak ke berbagai kelas olahraga atau memaksanya menjadi atlet. Peran orang tua adalah menyediakan kesempatan, mengamati minat, dan mendukung potensi anak,” tutup Madeline.