Jensen Huang Ungkap Alasan Nvidia Bakal Tumbuh 70 Persen Tahun Depan

Wait 5 sec.

CEO Nvidia Jensen Huang menghadiri pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFPPendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, optimistis bisnis perusahaan akan terus tumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI).Dalam sebuah konferensi investasi global, Huang memproyeksikan pendapatan Nvidia dapat tumbuh hingga 70 persen pada tahun depan.Optimisme tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kekhawatiran investor mengenai potensi perlambatan bisnis Nvidia akibat meningkatnya persaingan di industri semikonduktor. Menurut Huang, posisi Nvidia saat ini tidak lagi sekadar sebagai produsen cip. Perusahaan telah berkembang menjadi penyedia infrastruktur komputasi AI berskala besar yang terintegrasi dengan berbagai bagian dalam ekosistem teknologi.Di tengah upaya sejumlah perusahaan teknologi mengembangkan cip AI mereka sendiri, Huang menilai skala dan kompleksitas ekosistem Nvidia menjadi salah satu keunggulan yang sulit ditiru kompetitor.Dari GPU Gaming ke Infrastruktur AINvidia pada awalnya dikenal sebagai perusahaan yang memproduksi graphics processing unit (GPU) untuk kebutuhan komputer dan industri game. Namun, perkembangan teknologi AI mengubah posisi GPU Nvidia secara drastis.GPU yang sebelumnya identik dengan kartu grafis untuk komputer pribadi kini menjadi komponen utama dalam pusat data yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI. Huang menggambarkan perubahan skala bisnis tersebut dengan membandingkan produk Nvidia saat ini dengan GPU yang dijual pada era awal perusahaan."Satu GPU kami sekarang bukan seharga 399 dolar AS. Harganya 8,5 juta dolar AS," ujar Huang di acara the Goldman Sachs Communacopia + Technology.Ilustrasi Chip H200 NVIDIA. Foto: ShutterstockMenurutnya, produk Nvidia saat ini bukan sekadar sebuah GPU tunggal, melainkan sistem komputasi terintegrasi yang menghubungkan banyak komponen melalui teknologi seperti NVLink. Sistem tersebut dapat terdiri dari jutaan komponen dan membutuhkan konsumsi daya yang sangat besar."Kami mengirimkan ribuan sistem seperti itu," kata Huang.Skala tersebut menunjukkan bagaimana Nvidia telah bergerak dari bisnis komponen komputer menuju penyedia sistem komputasi berperforma tinggi untuk pusat data.Permintaan terhadap sistem AI Nvidia juga terus meningkat. Salah satu sistem yang menggabungkan 36 CPU Grace dengan 72 GPU Blackwell disebut mencatat pertumbuhan penjualan bulanan sekitar 27 persen.Nvidia Berada di Pusat Ekosistem AIOptimisme Huang tidak terlepas dari besarnya kebutuhan industri terhadap infrastruktur AI. Para analis memproyeksikan pendapatan Nvidia dapat mencapai sekitar 400 miliar dolar AS pada tahun ini. Jika perusahaan benar-benar membukukan pertumbuhan 70 persen pada tahun berikutnya, angka tersebut secara matematis dapat meningkat menjadi sekitar 680 miliar dolar AS.Salah satu alasan utama optimisme tersebut adalah posisi Nvidia yang berada di berbagai lapisan ekosistem AI.Perusahaan AI, baik yang mengembangkan model tertutup maupun model dengan bobot terbuka atau open-weight, masih banyak menggunakan GPU dan sistem komputasi Nvidia untuk menjalankan beban kerja AI mereka."Nvidia menjalankan setiap model AI. Setiap laboratorium tunggal dapat menggunakan layanan kami. Kami adalah platform fondasi dari ekosistem AI, platform fondasi dari industri AI," ujar Huang.Ekosistem Nvidia juga tidak berhenti pada GPU. Perusahaan membangun rangkaian teknologi yang mencakup GPU, CPU, jaringan berkecepatan tinggi, perangkat lunak, hingga sistem komputasi lengkap untuk pusat data.Kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut membuat pertumbuhan AI secara langsung ikut meningkatkan permintaan terhadap produk Nvidia.Kantor perusahaan Nvidiadi Taiwan. Foto: AlmondYue/ShutterstockHuang juga menekankan pentingnya rantai pasok dalam menopang pertumbuhan tersebut. Nvidia harus berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari produsen cip dan memori hingga operator pusat data.Dalam skala yang lebih luas, kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan ketersediaan lahan, pasokan listrik, serta kesiapan fasilitas pusat data. Semua faktor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjalankan AI dalam skala besar.Persaingan Tetap Menjadi RisikoMeski berada di posisi dominan, Nvidia tetap menghadapi sejumlah tantangan. Perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Meta terus mengembangkan cip AI mereka sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok eksternal. Selain itu, perusahaan semikonduktor lain juga berlomba mengembangkan akselerator AI yang dapat menjadi alternatif GPU Nvidia.Namun, Huang menilai keunggulan Nvidia tidak hanya berasal dari perangkat keras. Ekosistem perangkat lunak, teknologi jaringan, sistem komputasi, serta hubungan dengan berbagai pengembang AI membuat perusahaan memiliki posisi yang lebih kompleks untuk disaingi.