Menyebar seperti abu vulkanik, begini cara mudah mengenali hoaks saat gunung erupsi

Wait 5 sec.

Gunung Agung di Indonesia, yang meletus pada November 2017. Mike Severns/Getty ImagesBaik saat sedang meletus maupun ketika tenang, gunung api selalu menarik perhatian kita.Sebagai ahli vulkanologi, kami melihat bagaimana daya tarik tersebut dapat berbenturan dengan derasnya pemberitaan dan arus informasi di media sosial. Dalam situasi seperti ini, klaim palsu, gambar yang menyesatkan, serta berbagai kesalahpahaman lama tentang perilaku gunung api dapat dengan cepat menyebar. Kami ingin membantu meluruskannya.Misinformasi bukan hanya membuat orang keliru memahami sains. Informasi yang salah juga dapat memengaruhi cara masyarakat memandang bahaya dan risiko gunung api, termasuk bagaimana mereka merespons ketika erupsi terjadi.Karena itu, kami berusaha memahami kesalahpahaman yang paling umum tentang gunung api, sekaligus menelusuri bagaimana informasi tersebut muncul dan kemudian menyebar.Penelitian terbaru kami didasarkan pada pengalaman kami sendiri sebagai praktisi komunikasi sains, serta analisis terhadap ratusan artikel media internasional yang diterbitkan selama peristiwa erupsi gunung api.Dengan memberikan gambaran yang lebih jelas, kami berharap dapat membantu jurnalis menyampaikan informasi tentang bahaya gunung api secara lebih akurat. Pada saat yang sama, langkah ini juga diharapkan membantu masyarakat mengenali informasi yang menyesatkan.Ketika kesalahpahaman menjadi misinformasiTim penelitian internasional kami terdiri atas para ahli dari berbagai universitas, observatorium gunung api, dan lembaga pemerintah. Untuk analisis media, kami menelaah 375 artikel yang diterbitkan antara 2017 dan 2022.Kami menemukan 18 kesalahpahaman yang umum terjadi, mulai dari seismologi dan bahaya gunung api hingga isu iklim, durasi erupsi, serta penggunaan gambar yang menyesatkan.Beberapa di antaranya melibatkan istilah-istilah yang menarik perhatian, seperti Cincin Api Pasifik, supervulkan dan megatsunami. Kesalahpahaman lainnya berawal dari pemahaman yang lebih mendasar tentang cara kerja gunung api.Misalnya, abu vulkanik sering disebut sebagai “asap”. Padahal, abu vulkanik merupakan partikel sangat kecil berupa pecahan batu, kristal, dan kaca vulkanik yang bercampur dengan gas serta uap air di dalam awan letusan.Begitu pula istilah “ruang magma” dapat menciptakan bayangan seolah-olah ada sebuah tangki raksasa di bawah tanah yang dipenuhi magma cair. Kenyataannya, kondisi di bawah banyak gunung api jauh lebih rumit, dengan jaringan yang terdiri atas batuan cair, kristal, dan gas.Kami juga meneliti bagaimana misinformasi menyebar ketika gunung api mengalami erupsi di berbagai belahan dunia. Contoh gambar menyesatkan yang dibagikan selama peristiwa erupsi gunung api. Kiri: rekaman aliran piroklastik di Gunung Sinabung keliru disebut sebagai aktivitas Gunung Agung menjelang erupsi pada 2017. Kanan atas: gambar Gunung Sarychev Peak pada 2009 digunakan kembali dalam pemberitaan tentang erupsi gunung api lain. Kanan bawah: foto Anak Krakatau pada 2007 digunakan dalam pemberitaan tentang Stromboli pada 2018. Krippner et al. (2026); NASA/JSC/Image Science and Analysis Laboratory; Marco Fulle/Stromboli Online, CC BY Selama periode ketidakstabilan dan letusan Gunung Agung di Bali pada 2017, dokumentasi lama dari gunung api lain beredar seolah-olah menunjukkan aktivitas Gunung Agung saat itu. Awan dan emisi gas juga sempat diberitakan secara keliru sebagai letusan.Sejumlah laporan bahkan menyebut erupsi tersebut berpotensi berdampak pada seluruh pulau. Informasi semacam ini memicu pembatalan perjalanan wisata dan membuat para ahli vulkanologi harus turun tangan untuk meluruskan informasi yang keliru.Erupsi Gunung Etna di Sisilia pada 2025 menghasilkan aliran piroklastik di wilayah yang sebelumnya memang sudah ditutup untuk umum. Video wisatawan yang berada di luar area terdampak dan sedang menjauh dari kawasan tersebut justru disebarkan sebagai rekaman orang-orang yang sedang “melarikan diri demi menyelamatkan nyawa”. Akibatnya, muncul kesan bahwa seluruh wilayah Sisilia berada dalam kondisi tidak aman.Pemberitaan yang menyusul kemudian memicu kekhawatiran publik dan persoalan bagi sektor pariwisata, sekaligus membuat tingkat bahaya yang sebenarnya terlihat jauh lebih besar daripada kenyataannya. Baca juga: ‘Berita palsu’ tentang letusan gunung berapi bisa bahayakan nyawa penduduk Kami juga meneliti misinformasi seputar gunung api Yellowstone di Amerika Serikat. Gunung api ini kerap digambarkan sebagai supervulkan yang “seharusnya sudah” meletus dan berpotensi memusnahkan umat manusia.Dokumenter, film bencana, dan media tabloid telah membesar-besarkan kemungkinan serta dampak yang mungkin ditimbulkan oleh erupsi Yellowstone di masa depan. Gempa bumi pun sering digambarkan sebagai tanda bahwa erupsi akan segera terjadi.Pada kenyataannya, sekitar 50 erupsi terakhir Yellowstone berupa aliran lahar yang dampaknya hanya pada skala lokal.Cara mengenali misinformasi tentang gunung apiLalu, bagaimana kita bisa menyaring banjir informasi di internet ketika terjadi krisis akibat aktivitas gunung api?Pertama, kami menyarankan untuk memeriksa sumber informasinya. Mulailah dari lembaga yang memang bertanggung jawab memantau dan menangani aktivitas gunung api, termasuk observatorium gunung api, lembaga geologi, dan otoritas penanggulangan bencana.Para ilmuwan dan pakar lainnya juga dapat memberikan konteks yang berharga. Namun, penting untuk memastikan bahwa pernyataan mereka memang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Baca juga: Apa yang menyebabkan gunung berapi meletus? Dalam pemberitaan mengenai apa yang mungkin terjadi selanjutnya, penting untuk membedakan antara sesuatu yang mungkin terjadi dan sesuatu yang kemungkinan besar akan terjadi.Ilmu tentang gunung api selalu mengandung ketidakpastian. Para ilmuwan dan pengelola keadaan darurat perlu membicarakan berbagai skenario karena mereka harus bersiap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi.Namun, judul berita yang mengkhawatirkan dan menyebut suatu gunung api “bisa” memicu letusan besar atau tsunami dapat dengan mudah dipahami seolah-olah peristiwa tersebut “akan” terjadi.Sebelum membagikan gambar atau video yang ditemukan di internet, kita perlu memastikan bahwa konten tersebut benar-benar kredibel. Hal ini semakin penting karena gambar dan video yang dibuat dengan AI kini semakin banyak beredar.Apakah gambar tersebut benar-benar menunjukkan gunung api yang sedang dibahas? Apakah gambar yang sama pernah muncul di internet dengan keterangan lokasi atau tanggal yang berbeda? Baca juga: Kilas balik sejarah: Sistem penjagaan gunung api Indonesia pernah menjadi yang terbaik di dunia Bahkan dengan pemantauan yang intensif, ahli vulkanologi tidak selalu dapat memprediksi apa yang akan dilakukan gunung api berikutnya. Namun, komunikasi yang baik dapat membantu masyarakat memahami apa yang sedang terjadi, apa yang mungkin terjadi, dan apa yang paling mungkin terjadi.Perbedaan ini lebih penting dari yang kita kira. Menyebut abu vulkanik sebagai “hanya asap” dapat membuat orang meremehkan bahayanya. Sementra itu, menyebut suatu gunung api “sudah waktunya meletus” dapat membuat erupsi seolah-olah pasti akan terjadi.Panduan kami ditujukan untuk membantu jurnalis dan masyarakat mengenali kesalahpahaman semacam ini, menilai bukti di balik suatu klaim, dan mengambil keputusan yang lebih tepat ketika gunung api menunjukkan aktivitas.Khusus bagi jurnalis, pesan kami sederhana: tidak perlu melebih-lebihkan sains. Gunung api sudah cukup menarik dengan sendirinya.Para penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh rekan penulis studi ini, Sam Poppe, Asisten Profesor di bidang Vulkanologi Planet di Space Research Centre of the Polish Academy of Sciences, pada artikel ini.Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.