Ilustrasi Anak Praremaja Sedang Pubertas. Foto: ShutterstockMoms mungkin Anda pernah merasa anak-anak sekarang lebih cepat besar dibanding generasi kita dulu. Ternyata, ini bukan cuma perasaan. Sejumlah riset ilmiah mengonfirmasi bahwa usia mulai pubertas anak memang bergeser lebih muda dalam beberapa dekade terakhir.Usia Pubertas Sekarang, Berapa Sih?Mengutip NewYork-Presbyterian Health Matters, pada anak perempuan, tanda awal pubertas berupa pembesaran payudara umumnya mulai muncul di usia 8-13 tahun, dengan rata-rata sekitar usia 10 tahun. Haid pertama (menarke) biasanya menyusul 2-2,5 tahun kemudian, rata-rata di usia 12-13 tahun.Pada anak laki-laki, tanda awal pubertas berupa pembesaran testis umumnya muncul di usia 9-14 tahun. Riset kohort menunjukkan rata-rata usia pecah suara terjadi di usia 13 tahun.Sebagai perbandingan, sebuah analisis studi internasional yang mencakup periode 1977-2013 mendapati anak perempuan mulai pubertas kira-kira tiga bulan lebih awal setiap dekade.Kasus Pubertas Dini MelonjakIlustrasi Anak Praremaja Bermain Handphone. Foto: Creativa Images/shutterstockYang lebih mengkhawatirkan, kasus pubertas dini (di bawah usia 8 tahun untuk anak perempuan dan 9 tahun untuk anak laki-laki) juga melonjak signifikan. Dalam kurun 1998-2017, angka pubertas dini pada anak laki-laki meningkat 15 kali lipat, dan pada anak perempuan meningkat 6 kali lipat.Fenomena ini juga terkonfirmasi di berbagai negara. Denmark, Korea Selatan, dan Taiwan sama-sama mencatat kenaikan insiden pubertas dini yang signifikan dalam dua dekade terakhir.Apa Penyebabnya?Penyebab pubertas dini bersifat multifaktor, dan sejauh ini yang paling kuat buktinya adalah obesitas. Riset jangka panjang seperti Bogalusa Heart Study menemukan makin tinggi indeks massa tubuh anak perempuan di usia 9 tahun, makin besar peluangnya mulai menstruasi sebelum usia 12 tahun.Faktor lain yang turut disorot antara lain kelahiran prematur, paparan zat kimia pengganggu hormon (endocrine disruptors) seperti ftalat dari kemasan plastik, serta gaya hidup tidak sehat termasuk pola makan tinggi makanan ultra-proses (UPF). Perlu dicatat, hubungan UPF dengan pubertas dini sejauh ini lebih banyak terjadi lewat jalur tidak langsung, yakni via obesitas, bukan bukti sebab-akibat langsung yang kuat.Dampak pandemi COVID-19 turut disebut sebagai salah satu pemicu, dengan penurunan aktivitas fisik, peningkatan waktu layar, dan stres selama masa lockdown diduga berperan.Apa Risiko Pubertas Dini?Ilustrasi ibu mengelola stres bersama anak. Foto: FAMILY STOCK/ShutterstockMoms, anak yang matang lebih cepat berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental dan perilaku berisiko di masa remaja. Di masa dewasa, pubertas dini juga dikaitkan dengan risiko kesehatan kardiometabolik, terutama diabetes tipe 2, serta peningkatan risiko kanker yang terkait hormon seperti kanker payudara.Karena itu, penting bagi Moms untuk memantau tumbuh kembang anak sejak dini dan berkonsultasi ke dokter anak jika mendapati tanda-tanda pubertas muncul lebih awal dari biasanya.