Dari Sampah-Energi Bersih, Local Hero Pertamina Ajarkan Kemandirian Omah Sinau

Wait 5 sec.

Omah Sinau, Kota Jambi, Masyarakat Belajar dari Sampah yang Mereka bawa, Ikan Lele yang Mereka Budidayakan, hingga Listrik yang Mengalir dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Foto: Dok. PertaminaBelajar tidak selalu harus dimulai dari buku dan meja di ruang kelas. Di Omah Sinau, Kota Jambi, masyarakat belajar dari sampah yang mereka bawa, ikan lele yang mereka budidayakan, hingga listrik yang mengalir dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).Matahari terbit setiap hari, tetapi di Omah Sinau, sinar tersebut tidak hanya berhenti di halaman. Ia ditangkap panel surya, diubah menjadi energi, lalu mengalir ke berbagai sudut kegiatan warga, menghidupkan aerator di kolam lele, membantu mesin pengolahan sampah, hingga menopang aktivitas UMKM.Adalah Suminah, pengelola Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Omah Sinau. Semua inovasi itu berawal dari kegelisahan, bahwa sampah terus bertambah, ekonomi warga belum kuat, potensi lingkungan belum sepenuhnya dimanfaatkan, dan anak-anak butuh ruang belajar serta tumbuh.“Omah Sinau konsepnya kita pemberdayaan, jadi kita ada bank sampah, ada perpustakaan, ada training center yang itu memang mengedukasi masyarakat untuk lebih ramah lingkungan,” katanya saat berbincang bersama kumparan.Suminah menjelaskan kegiatan utama dari DEB Omah Sinau mencakup bank sampah, yang menjadi pintu masuk edukasi lingkungan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Berkatnya, total sampah yang dikelola mencapai 1.000 hingga 5.000 kilogram per bulan.Di Omah Sinau, Kota Jambi, masyarakat belajar dari sampah yang mereka bawa, ikan lele yang mereka budidayakan, hingga listrik yang mengalir dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Foto: Dok. PertaminaSampah bukan lagi menjadi masalah, namun menjadi sumber daya. Edukasi yang dilakukan mencakup bagaimana cara memilah sampah hingga konsep 3R, reuse, reduce, dan recycle bagi masyarakat setempat. Hasil konkretnya berupa budidaya maggot hingga produk daur ulang yang bisa dijual kembali.“Mereka mulai diedukasi untuk memilah baik yang organik maupun anorganik, dan bagaimana kemudian bisa diolah misalkan pembuatan pupuk, kemudian kita juga ada maggot, kemudian dijadikan pakan kembali untuk kolam ikan lele sehingga ekonomi sirkularnya berputar,” tutur Suminah.Ekonomi sirkular yang tercipta dari kegiatan budidaya maggot dari sampah organik dan produksi pakan ternak lele bernilai tinggi tersebut menciptakan pendapatan bagi masyarakat, potensinya mencapai Rp 2-5 juta per bulan untuk setiap grupnya.Edukasi itu juga menyasar anak sekolahan, dari jenjang TK hingga perkuliahan. Salah satu paket eduwisata yang dihadirkan mencakup program Jadi Bijak Sampah Sejak Dini. Harga Tiket Masuk (HTM) dari paket itu bisa ditukar dengan souvenir hasil produksi UMKM.“Anak-anak bisa belajar dari situ, menari, kemudian kumpul bareng berdiskusi, pelatihan-pelatihan misalkan kayak bioflok (budidaya ikan) kan orang perlu belajar sistemnya, sistem bioflok itu seperti apa,” ucap Suminah.Tidak hanya pengolahan sampah, kegiatan di Omah Sinau juga berlandaskan energi bersih. PLTS dengan kapasitas 4,6 kWp dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif seperti pembelajaran, kegiatan usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), budidaya dan peralatan produktif, hingga pengembangan ekosistem DEB.“Di PLTS itu kita mengedukasi bahwa listrik itu enggak bisa seterusnya aman karena itu menggunakan fosil, misalnya dengan beberapa opsi energi lain,” tutur Suminah.Dampak penghematan pun muncul dari adanya PLTS. Operasional kantor, mesin pencacah sampah, hingga mesin jahit untuk merajut produk daur ulang di UMKM membutuhkan biaya yang cukup besar, hingga Rp 600-700 ribu per bulan.“Kalau yang sebelumnya kan sekitaran Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu, setelah ada PLTS paling Rp 350 ribu-an, 50 persen-an kurang lebih itu penurunannya,” ungkapnya.Di Omah Sinau, Kota Jambi, masyarakat belajar dari sampah yang mereka bawa, ikan lele yang mereka budidayakan, hingga listrik yang mengalir dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Foto: Dok. PertaminaApalagi di tengah tantangan kondisi energi di wilayahnya yang terkadang pasokan listrik tidak tersalurkan dengan andal sehingga mengancam kualitas peralatan seperti mesin aerator hingga sistem penerangan, PLTS menjadi tulang punggung yang sangat diandalkan warga setempat.Suminah menggarisbawahi pengaruh paling signifikan dari kegiatan Omah Sinau adalah edukasi. Dengan dukungan binaan Pertamina Trans Kontinental, ia menjelma sebagai Local Hero yang bermanfaat bagi sekitar. Latar belakangnya yang merupakan ketua RT dan bekerja di sebuah organisasi sosial melancarkan niatnya membangun pola pikir masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.“Kegiatan di sana itu semuanya lebih ada memunculkan kepedulian di masyarakat, mereka lebih aware misalkan untuk energi, bisa lebih hemat, bagaimana juga sebenarnya bahwa alam itu bisa digunakan untuk energi terbarukan,” tuturnya.Omah Sinau tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan sampah. Masyarakat diberi pengetahuan, wadah, hingga kesempatan untuk mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi. Produk daur ulang dapat dipasarkan, sementara program edukasi memberikan warisan keberlanjutan bagi generasi mendatang.Melalui program DEB, Pertamina membantu memperkuat langkah tersebut, menjadikan energi bersih sebagai salah satu fondasi agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam membangun kemandirian di lingkungannya sendiri.Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron, kehadiran DEB menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi masalah yang ada di masyarakat."Desa Energi Berdikari bukan hanya menghadirkan energi terbarukan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat secara berkelanjutan," ujar Baron.