Ilustrasi anak memeluk ibu dan ayah. Foto: Tom Wang/ShutterstockAda kalimat sederhana dari orang tua yang mungkin terdengar biasa saat diucapkan, tetapi bisa memberikan rasa aman bagi anak. Bukan hanya ketika mereka masih kecil, tetapi juga saat menghadapi berbagai tantangan ketika beranjak dewasa.Dalam pengasuhan, dukungan orang tua tidak selalu harus diberikan melalui nasihat panjang. Kalimat singkat yang disampaikan secara konsisten, disertai hubungan yang hangat dan responsif, juga dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak.American Academy of Pediatrics (AAP) dalam clinical report terbarunya menyebut hubungan yang aman, stabil, dan suportif sebagai bagian penting dalam membangun resiliensi anak. AAP juga merekomendasikan afirmasi positif, validasi perasaan, serta pujian yang spesifik terhadap usaha dan kemampuan yang sedang berkembang.Afirmasi dan Nasihat dari Orang Tua yang Bisa Jadi Pegangan hingga DewasaIlustrasi anak dan orang tua. Foto: Thinkstock1. “Ibu-Ayah selalu mencintaimu, apa pun yang terjadi.”Anak perlu mengetahui bahwa kasih sayang orang tua tidak bergantung pada nilai, prestasi, atau keberhasilan yang mereka raih.Kalimat sederhana ini dapat menjadi pengingat bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk pulang, termasuk ketika anak sedang mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan.2. “Yang paling penting bukan selalu jadi juara 1, tapi bagaimana kamu terus belajar dan berproses.”Alih-alih hanya memuji hasil, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha dan proses yang dilakukan anak.AAP merekomendasikan pujian yang spesifik terhadap usaha dan perkembangan kemampuan anak. Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan rekomendasi Harvard Center on the Developing Child yang menekankan pentingnya memuji usaha dan melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar.Jadi, dibanding hanya mengatakan “Kamu pintar”, Anda bisa mengatakan, “Ibu-Ayah melihat kamu sudah berusaha keras.”3. “Kamu tidak harus selalu kuat. Tidak apa-apa merasa sedih, takut, atau lelah. Kami akan selalu ada untukmu.”Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: Thanes.Op/ShutterstockAnak juga perlu tahu bahwa semua emosi boleh dirasakan dan dibicarakan.AAP menekankan pentingnya memvalidasi perasaan anak, termasuk ketika mereka merasa kecewa atau sedih. Orang tua dapat membantu anak mengenali emosinya tanpa langsung menghakimi atau berusaha menghilangkan perasaan tersebut.Dengan begitu, anak belajar bahwa meminta bantuan atau bercerita ketika sedang menghadapi masalah bukanlah tanda kelemahan.4. “Kamu boleh melakukan kesalahan, tapi jangan pernah takut untuk berkata jujur.”Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar anak. Yang tidak kalah penting adalah membuat anak merasa cukup aman untuk mengakui kesalahannya dan membicarakannya dengan orang tua.Pesan ini juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa kejujuran lebih penting daripada sekadar terlihat selalu benar atau berhasil.5. “Jadilah dirimu sendiri. Kamu tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk menjadi berharga.”Seiring bertambahnya usia, anak akan bertemu dengan berbagai standar dan perbandingan, baik di lingkungan sekolah maupun pergaulannya.Karena itu, anak perlu mendapatkan pesan bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa mirip dirinya dengan orang lain.AAP juga mendorong orang tua untuk mendukung perkembangan identitas dan rasa percaya diri anak, termasuk dengan memberikan afirmasi positif dan merayakan keunikan mereka.Pada akhirnya, tidak ada satu kalimat ajaib yang bisa menjamin bagaimana seorang anak akan tumbuh. Namun, pesan yang disampaikan secara konsisten melalui hubungan yang hangat dan suportif dapat menjadi bagian dari lingkungan yang membantu anak berkembang secara sosial dan emosional.Jadi, tidak perlu menunggu momen besar. Sesekali, sampaikan lima kalimat sederhana ini kepada anak. Bisa jadi, bagi Anda itu hanya beberapa kata, tetapi bagi mereka, itu adalah pesan tentang bagaimana mereka dicintai, didukung, dan dihargai.