Kala CFD Rasuna Said Jadi Ruang Promosi Ondel-ondel: Totalitas Udin Rawat Budaya

Wait 5 sec.

Salah satu peserta CFD Rasuna Said, Udin (35), yang berpenampilan nyentrik khas nuansa Betawi, Minggu (13/9/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanDi tengah lautan warga yang berolahraga di koridor Jalan HR Rasuna Said, langkah Bang Udin (35) menyedot perhatian pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) Kuningan, Minggu (13/9). Warga asli Jakarta Barat ini sengaja tampil nyentrik dengan dandanan bernuansa ondel-ondel saat berjalan menyusuri rute CFD.Bukan sekadar ikut meramaikan jalanan yang ditutup untuk kendaraan, Udin membawa misi personal untuk merawat ingatan publik terhadap akar tradisi kota kelahirannya.“Kebetulan membawa tema ondel-ondel dari Jakarta,” ujar Udin.Kehadirannya di ruang publik ini diniatkan agar kebudayaan asli Jakarta tidak tergerus laju modernitas di pusat bisnis ibu kota.“Ada (pesan khusus), biar orang-orang tuh tahu nih budaya Betawi, Jakarta ondel-ondel gitu,” tuturnya.Udin pun menaruh harapan agar pengelola ruang publik memberikan panggung yang lebih tertata bagi atraksi tradisi lokal saat akhir pekan.“Kalau bisa sih budaya Betawi tuh diadain di CFD Kuningan ini biar masyarakat Indonesia juga tahu kalau budaya Betawi tuh ada tuh macam-macam, ada silat, ada macam-macam dah, tari ondel-ondel,” paparnya.“Iya, kalau bisa sih dikasih tempat gitulah, biar orang tahu gitu, oh ini ada budaya Betawi gitu.”Kehadiran sosok nyentrik seperti Bang Udin hanyalah satu dari beragam denyut warga yang mewarnai kawasan bisnis Kuningan pagi itu. Di sudut lain, juga menjadi ruang euforia bagi suporter sepak bola hingga tempat bernapas lega bagi para pekerja korporat lintas negara.Ruang Euforia Warga Jakarta atas Kemenangan PersijaArvi (23), Jakmania yang mengenakan atribut Persija di CFD Kuningan masih membawa euforia kemenangan atas Persib, Minggu (13/9/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanSenyum lebar tak lepas dari raut wajah Arvi (23), Jakmania yang masih larut dalam euforia kemenangan dramatis tim Macan Kemayoran atas Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) kemarin.Bagi Arvi, kemenangan tipis lewat gol penentu di pengujung laga bukan sekadar tiga poin biasa, melainkan pelepas dahaga emosional yang luar biasa.“Gua happy banget walaupun sempat agak ketir-ketir pas satu sama ya. Tapi bisa dibalas satu gol lagi di 90+5 itu gokil banget sih,” ungkap Arvi penuh semangat.Laga klasik tersebut terasa kian istimewa karena akhirnya digelar kembali di kandang sejati Persija setelah bertahun-tahun harus berpindah-pindah kota.“Wah! Maksudnya setelah sekian tahun enggak di GBK ya, akhirnya balik ke GBK lagi gua senang banget,” tuturnya.Ia pun berharap izin menggelar partai akbar di pusat Jakarta terus dipertahankan demi menjaga ikatan batin klub dengan pendukung setianya.“Iya, udah 7 tahun (pertandingan Persija-Persib tidak digelar di Jakarta). Harapan gua semoga kita bisa terus menjaga keberlanjutan ini ya, biar kita bisa terus mendukung tim kebanggaan kita Persija di Ibu Kota Jakarta tercinta,” imbuh Arvi.Ruang Rehat Pekerja Korporat Lintas NegaraRishi Kumar (38), ekspatriat asal India yang pertama kali menjajal aktivitas CFD di Rasuna Said, Minggu (13/9/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanSelain parade budaya dan gemuruh sepak bola, denyut CFD Kuningan menjadi oase pelepas penat bagi mereka yang sehari-hari berkutat dengan tekanan jam kerja kantor. Rishi Kumar (38), seorang ekspatriat asal India, tampak menikmati langkah paginya untuk pertama kali menjajal ruang terbuka ini.Bekerja di salah satu perusahaan multinasional di kawasan Kuningan, Rishi mengaku selama ini hanya mendengar cerita tentang CFD dari rekan kerjanya tanpa sempat ikut serta.“Sebenarnya saya tahu dari rekan-rekan kerja, tetapi karena beberapa alasan saya belum pernah ikut. Namun hari ini terpikir di pagi hari bahwa saya harus pergi dan melihat seperti apa car free day itu,” kata Rishi dalam bahasa Indonesia.Rishi mengaku kagum melihat antusiasme masyarakat ibu kota yang rela bangun pagi demi berolahraga bersama keluarga di jalan raya yang biasanya dipadati kendaraan.“Ini sebenarnya sangat menyenangkan. Orang-orang datang pagi-pagi sekali dan mereka menghabiskan banyak waktu untuk melakukan aktivitas fisik,” ujarnya.Rutinitas kerjanya yang padat dari pagi hingga petang di balik kubikel gedung perkantoran membuat udara pagi tanpa kepulan asap knalpot ini terasa menyegarkan.“Aktivitas sehari-hari bisa dibilang kami berangkat pagi sampai sore hanya ke kantor,” ceritanya.Menurut Rishi, tradisi menutup jalan protokol setiap Minggu pagi demi memberi ruang gerak bagi warga merupakan kebijakan publik yang sangat positif bagi kualitas hidup perkotaan.“Setiap hari Minggu dan melakukan kegiatan seperti ini, Anda bisa bilang joging atau olahraga atau lari. Saya pikir itu sangat baik bagi warga Jakarta,” pungkasnya.