Bisakah tetap terinformasi tanpa kehilangan keseimbangan mental?

Wait 5 sec.

Linimasa sosial media seakan tidak habis menyajikan berita buruk, mulai dari bencana alam, kekerasan, krisis ekonomi hingga berita keracunan. Pernahkah kamu merasa lelah secara emosional akibat terpaan berita-berita tersebut?Perdebatan mengenai pentingnya mengambil jeda dari konsumsi berita mencuat kembali setelah unggahan Maudy Ayunda mengenai mindfullness memicu pro dan kontra di masyarakat. Sebagian pihak menilai narasi rehat dari berita terkesan tone-deaf atau tidak peka terhadap mereka yang sedang berjuang dalam kondisi bertahan hidup. Sementara sebagian lainnya menganggap jeda informasi sebagai langkah krusial untuk menjaga kesehatan mental.Episode SuarAkademia kali ini, kami mengajak akademisi Universitas Ciputra Surabaya, Ersa Lanang Sanjaya untuk berdiskusi tentang bagaimana cara menjaga kedamaian pikiran tanpa harus bersikap apatis terhadap realita sosial.Ersa menjelaskan bahwa, manusia memiliki kemampuan untuk merasakan dampak kecemasan hanya dengan mengamati peristiwa yang dialami orang lain. Ia mencontohkan bahwa ketika tubuh dan pikiran dibombardir oleh berita buruk secara bertubi-tubi, maka akan muncul rasa tak berdaya karena merasa tidak mampu mengendalikan situasi, seperti isu ancaman megathrust. Untuk mengurangi rasa cemas tersebut, masyarakat malah cenderung mencari lebih banyak informasi. Namun, pencarian informasi tanpa batas dan tanpa adanya tindakan mitigasi yang jelas justru dapat menjebak seseorang ke dalam lingkaran kecemasan yang semakin dalam.Konsep mindfullness sejatinya bukanlah ajakan untuk bersikap tidak peduli. Ersa menjelaskan bahwa mindfullness adalah kemampuan seseorang untuk hadir secara utuh pada momen saat ini serta menyadari emosi yang sedang dirasakan, seperti rasa takut, cemas atau marah, tanpa menghakiminya. Ersa juga menambahkan bahwa mengambil jeda dari arus berita buruk merupakan salah satu metode pengelolaan emosi sementara agar pikiran tidak kelelahan, bukan tindakan untuk menutup mata secara permanen dari kondisi sekitar.Ersa menegaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa di era digital tidak harus mengorbankan kepedulian sosial. Penerapan mindfullness yang tepat justru mengasah kesadaran diri agar dapat merespons realita dengan pikiran yang jernih empati yang terjaga dan langkah yang terukur.Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.