Konferensi Pers Polytron Fest 51 di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: PolytronMerayakan hari jadi ke-51 tahun, brand elektronik Polytron kembali menggelar Polytron Fest. Acara ini, berlangsung di Parkir Selatan Gelora Bung Karno pada 19–20 September 2026, menjadi ajang untuk meluncurkan kampanye baru yang mengajak orang untuk terus semangat melangkah.Bertajuk “Bangga Terus Melangkah”, kampanye ini merupakan cara Polytron memahami proses bangkit dari situasi hidup yang penuh tantangan. Semangat pantang menyerah ini diwujudkan lewat kampanye yang bertujuan mengapresiasi setiap usaha yang diambil sepenuh hati di berbagai bidang.Untuk menyemarakkan semangat ini, Polytron mengajak grup musik MALIQ & D’Essentials untuk berkolaborasi dalam meluncurkan proyek video klip baru. Lewat kolaborasi ini, Polytron dan MALIQ membawa pesan optimisme bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini adalah alasan untuk dibanggakan.Tak hanya itu, Polytron juga berkolaborasi dengan Kitabisa.com lewat gerakan "5.100 Langkah Baik". Masyarakat diajak untuk berpartisipasi dengan cara melakukan repost pada postingan kampanye Polytron di media sosial, menuliskan komentar mengenai alasan 'langkah baik' versi mereka, dan membagikannya di Instagram Story.Setiap satu share akan dikonversikan menjadi donasi senilai Rp 51.000. Nantinya, hasil donasi akan disalurkan menjadi beasiswa pendidikan dan bantuan alat usaha untuk UMKM yang membutuhkan.Kisah Pantang Menyerah yang InspiratifCEO dan Co-Founder Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, di konferensi Pers Polytron Fest 51 di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: PolytronCerita pantang menyerah turut diungkapkan oleh Galih Sulistyaningra, CEO dan Co-Founder Smartick Indonesia di konferensi pers Polytron Fest 51 pada Sabtu (19/9). Dalam talkshow interaktif, Galih—yang merupakan awardee LPDP jurusan pendidikan di University College London (UCL)---mengungkapkan kisah di balik mendirikan kursus matematika untuk anak-anak.Galih mengatakan, dia tumbuh besar di keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Ayah dan Ibunya adalah guru, sehingga ia juga memiliki passion yang sama terkait belajar-mengajar.“Jadi, S1-nya Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Walaupun awalnya nolak-nolak, ya, setelah dijalani, ternyata seru juga. Terus mencoba mengajar, ternyata passionate banget. Saat itu juga pengin banget membuat suatu perubahan secara besar; bagaimana bisa berada di level kebijakan. Akhirnya pengin S2 dan mendaftar LPDP ke luar negeri,” ucap Galih.Galih pun berpikir untuk langsung bekerja di kementerian atau dinas pendidikan begitu kembali ke Indonesia. Namun, akhirnya dia tersadar bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan optimal bila dia tidak merasakan mengajar secara langsung.“Ternyata pas dijalankan, ‘Oh, nggak bisa nih’. Saya nggak mungkin bisa bikin kebijakan yang berpihak sama pendidikan itu sendiri kalau saya nggak pernah merasakan menjadi guru. Jadi setelah pulang, saya pilih dulu mengajar di sekolah dasar negeri. Akhirnya, semakin tahu sebenarnya sistem pendidikan kita masih banyak ketimpangan,” papar Galih.Dia pun menyadari bahwa pendidikan haruslah dimulai dari rumah, bukan dari sekolah. Inilah yang mendorong dia mendirikan Smartick, platform belajar literasi numerasi dan matematika untuk anak usia 4–14 tahun.