Ilustrasi Simulasi Surat Suara Pemilu. Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTOPengamat politik Adi Prayitno menilai wacana perubahan model pencalonan presiden dengan syarat minimal mendapat dukungan dua fraksi di DPR akan membuat peluang tokoh yang tidak memiliki kendaraan politik di parlemen semakin sulit.Pernyataan tersebut disampaikan Adi merespons Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang mengaku mendengar adanya usulan agar calon presiden ke depan mendapatkan dukungan sedikitnya dua fraksi di DPR.Menurut Adi, apabila mekanisme dukungan minimal dua fraksi tersebut disetujui parpol, popularitas maupun elektabilitas seorang tokoh tidak akan cukup untuk membuatnya dapat maju sebagai calon presiden."Menarik tentu saja, itu artinya apa? Orang-orang yang mungkin merasa hebat, merasa punya elektabilitas juga dukungan publik yang cukup luar biasa, tapi kalau tidak didukung oleh minimal dua fraksi DPR RI, maka mimpinya untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden haruslah wassalam dan harus dikubur," kata Adi saat dihubungi, Senin (21/9).Adi mengatakan, saat ini yang perlu ditunggu adalah apakah gagasan tersebut nantinya benar-benar masuk dalam aturan pencalonan presiden."Tinggal kita tunggu syarat pencalonan presiden ini yang diusung oleh dua fraksi itu minimal, itu akan segera disahkan atau tidak. Tinggal kita tunggu dinamikanya," ujarnya.Menurut dia, kondisi tersebut terutama akan menjadi tantangan bagi tokoh yang tidak memiliki akses kepada partai politik maupun elite partai yang memiliki kekuatan di parlemen."Apalagi mereka yang gak punya akses parpol gak punya akses ke elite-elite kunci parpol sulit untuk bisa maju, termasuk bagi mereka yang gak punya parpol, atau terafiliasi parpol tapi gak lolos parlemen rasa-rasanya jalan menuju pencapresan semakin terjal, liku dan mendaki," ujarnya.Kendali Ada di Partai ParlemenAdi kemudian menilai wacana tersebut semakin memperlihatkan pentingnya posisi partai politik yang memiliki kursi di DPR dalam kontestasi Pilpres."Kendali permainan ada elite partai yang ada di parlemen, bukan mereka yang tak punya partai atau partainya baru berdiri dan tak pernah lolos parlemen. Dalam politik kita memang, jangan pernah sok asyik kalau tak punya kuasa atas partai," kata Adi.Suasana Rapat Paripurna DPR RI ke-5 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanDia menambahkan, tokoh yang merasa memiliki popularitas atau dukungan publik tetap membutuhkan kendaraan politik apabila mekanisme pencalonan nantinya mensyaratkan dukungan dari fraksi di parlemen."Pesannya sederhana itu: Jangan pernah merasa paling besar, paling asyik, paling hebat kalau tak punya partai besar atau partainya tak ada di parlemen," ujarnya.Singgung Anies dan KDMDalam pembahasannya mengenai tokoh yang berpotensi menghadapi tantangan pencalonan, Adi menilai sejumlah nama disebut berpotensi maju pilpres 2029 seperti Anies Baswedan dan Dedi Mulyadi."Anies juga," kata Adi."Apalagi KDM," lanjutnya.Khusus Dedi Mulyadi, Adi menilai pembicaraan mengenai kemungkinan dirinya maju dalam Pilpres masih perlu melihat posisi politiknya di Partai Gerindra.Doorstop Anies Baswedan usai acara tasyakuran milad JK di kediaman JK, Jakarta (16/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparanMenurut Adi, selama Dedi masih menjadi kader Gerindra, tidak tepat menghadapkan peluang politiknya dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto."Sepanjang KDM masih di Gerindra, tak layak untuk di-head to head kan dengan Prabowo. Apa pun KDM masih kader Prabowo. Masak iya kader melawan ketum nya," kata Adi.Dia mengatakan pembicaraan mengenai kemungkinan Dedi berhadapan dengan Prabowo baru relevan apabila Dedi keluar dari Gerindra."Kalo KDM ke luar dari Gerindra, maka bisa didiskusikan Prabowo vs KDM. Ini kdm nya masih di gerindra, tak layak dihadap-hadapkan dengan Prabowo," ujarnya.ASN Pemda Provinsi Jawa Barat sukses renovasi 18 Rutilahu di Desa Girimukti, Cikelet, Garut, lewat program gotong royong Poe Ibu yang diinisiasi Gubernur Dedi Mulyadi, Senin (7/9/2026). Foto: Dok. Diskominfo JabarKarena itu, Adi meminta agar pembahasan mengenai peluang Dedi maju sebagai calon presiden tidak dilepaskan dari posisi politiknya saat ini."Tunggu KDM ke luar Gerindra kalau mau bicara peluang dia maju pilpres. Kalau masih di Gerindra ya tak relevan dikaitkan dengan pilpres. Kecuali KDM ke luar Gerindra baru bisa dibaca seperti apa dinamikanya. Emang ada partai yang mau usung KDM maju pilpres?" kata Adi.