Populer: Revisi RKAB BYAN Disetujui; IHSG Anjlok

Wait 5 sec.

Ilustrasi Bayan Resources. Foto: Dok. bayan.com.sgPersetujuan revisi RKAB tiga anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Kamis (24/9). Selain itu, terdapat kabar mengenai IHSG sesi I yang anjlok 1,07 persen seiring aksi jual bersih investor asing senilai Rp 987,09 miliar. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:3 Anak Usaha Bayan Resources (BYAN) Beroperasi LagiMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyetujui perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 untuk tiga anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yaitu PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). Keputusan yang diterbitkan pada 23 September 2026 ini secara otomatis mencabut status keadaan kahar (force majeure) terkait kewajiban pemenuhan penyediaan batu bara kepada pelanggan. Dengan demikian, entitas usaha BYAN tersebut dapat segera mengaktifkan kembali seluruh kegiatan operasional pertambangan, pengangkutan, dan penjualan batu bara.Langkah pemulihan operasional ini diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap volume produksi nasional. Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) mencatat bahwa revisi RKAB ketiga anak usaha tersebut memberikan tambahan kuota produksi batu bara yang cukup masif, berkisar antara 15 juta hingga 20 juta ton. Tambahan ini krusial bagi BYAN yang saat ini menguasai 5 Kontrak Batubara (CCOW) dan 16 Konsesi Penambangan (IUP) dengan total luas lahan melebihi 126.000 hektar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.Pemerintah menegaskan proses birokrasi ini murni bersifat administratif dan tidak berkaitan dengan rencana aksi korporasi yang melibatkan entitas usaha milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam), PT Jhonlin Baratama. Transaksi akuisisi 100 miliar saham BYAN dari Low Tuck Kwong dinyatakan berjalan sebagai skema bisnis-ke-bisnis (B2B) yang terpisah dari evaluasi teknis kelayakan RKAB oleh Kementerian ESDM.IHSG Sesi I Anjlok 1,07% ke 6.307Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang hebat pada perdagangan sesi I, Kamis (24/9), dengan ditutup melemah 1,07 persen atau terpangkas 67,81 poin ke level 6.307,11. Sepanjang sesi pertama, indeks konsisten bergerak di zona merah dengan nilai transaksi domestik mencapai Rp 6,11 triliun, melibatkan volume perdagangan 19,58 miiliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 962,5 ribu kali.Koreksi tajam ini dipicu oleh aksi keluar modal asing secara masif, di mana investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp 987,09 miliar di pasar reguler. Tekanan jual terbesar menyasar saham-saham perbankan dan komoditas berkapitalisasi besar, dipimpin oleh BMRI dengan net sell sebesar Rp 237,12 miiliar, disusul BBRI senilai Rp 90,69 miliar, dan TLKM sebesar Rp 76,70 miliar. Sebaliknya, saham ASII menjadi penahan koreksi dengan mencatat pembelian bersih asing (net foreign buy) terbesar senilai Rp 22,19 miliar.Pelemahan IHSG ini sejalan dengan tren bearish mayoritas bursa regional Asia. Indeks Hang Seng Hong Kong terpantau melemah 0,74 persen ke 24.651, SSE Composite China turun 0,93 persen ke 3.900, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,11 persen ke 5.703,7. Hanya indeks Nikkei 225 Jepang yang berhasil mencatatkan penguatan melawan arus regional dengan naik 0,99 persen ke level 65.677.