Chief of AICS kumparan Ungkap 4 Pilar Masa Depan FMIPA UGM di Era AI

Wait 5 sec.

Chief of AI & Corporate Strategy kumparan, Andrias Ekoyuono, raih Penghargaan Inspirasi Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman, DIY, Senin (21/9/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanChief of AI & Corporate Strategy (AICS) kumparan, Andrias Ekoyuono, mengungkap empat pilar yang perlu dibangun untuk menjaga relevansi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.Hal tersebut disampaikan Andrias saat menerima Penghargaan Inspirasi Alumni FMIPA UGM di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (21/9).Di era AI ini, peran FMIPA menjadi jauh lebih penting. Andrias mengatakan, ekosistem perlu dibangun tidak hanya berorientasi pada pendidikan dan penelitian. Namun, juga menerjemahkan hasil riset menjadi produk, maupun kebijakan yang berdampak pada masyarakat.Andrias menjelaskan pilar yang utama tetap pada pendidikan itu sendiri. Alumni Ilmu Komputer FMIPA UGM tahun 1998 tersebut mengatakan kini FMIPA tak sekadar mencetak lulusan."Pendidikan itu bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk the way of thinking, membentuk cara berpikir. Tidak cuma cara berpikir, tapi keberanian membuktikan segala sesuatu secara scientific, serta menghasilkan juga ketangguhan menghadapi dunia yang terus berubah," kata Andrias.Chief of AI & Corporate Strategy kumparan, Andrias Ekoyuono, raih Penghargaan Inspirasi Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman, DIY, Senin (21/9/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanKetika penggunaan AI semakin kompleks di berbagai sektor. Tugas pendidikan adalah mencetak lulusan yang langsung bisa bertindak sebagai supervisor AI.Ke depan akan ada banyak hal yang bisa dikerjakan oleh AI. Pekerjaan rumah pendidikan saat ini adalah bagaimana caranya menghasilkan lulusan yang levelnya langsung menjadi supervisornya AI.Pilar kedua yakni translasi dari riset. Riset tidak berhenti di jurnal, riset harus menemukan jalannya dari jurnal itu menuju laboratorium. Lalu berlanjut ke produk hingga kebijakan."Kemudian menuju produk, menuju kebijakan, menuju kehidupan nyata masyarakat Indonesia, syukur-syukur masyarakat global," katanya.Dua pilar tersebut tentu harus dilengkapi dengan pilar ketiga yaitu komunikasi. Seberapa hebatnya riset, jika dunia luar tak mengetahui maka dampaknya tak bisa luas.Komunikasi akan membuat riset banyak diketahui orang dan FMIPA UGM makin dikenal. Hasilnya, FMIPA juga akan kehadiran calon mahasiswa terbaik."Kenapa? Kalau kita dapat calon mahasiswa terbaik, kita have the best input," katanya.Dia pun bercerita bagaimana dahulu Amerika Serikat membangun negaranya dengan cara ini."Dengan menarik semua calon mahasiswa paling pinter sedunia untuk sekolah di Amerika. Dan semester dua udah ditawarin untuk jadi warga negara Amerika, gitu kan, waktu itu. Jadi, komunikasinya tadi nomor satu supaya dapat calon mahasiswa terbaik," katanya.Komunikasi yang baik ini juga membuat FMIPA dikenal di dunia industri. Hasilnya lulusan FMIPA akan terserap ke industri-industri yang tepat."Dan berikutnya adalah cerita itu juga harus didengar oleh para employer, calon employer, perusahaan-perusahaan, untuk mereka kemudian bisa merekrut lulusan-lulusan terbaik MIPA itu," ujarnya.Pilar keempat atau terakhir menurut Andrias yaitu keberlanjutan lembaga atau FMIPA itu sendiri.Selama ini banyak inisiatif riset, ide, proyek kolaborasi dengan industri yang lahir dari FMIPA."Harapan kita bersama malam ini adalah semua itu terus berlanjut, dan bahkan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar, sebuah structure yang lebih sustained, di mana pengelolaan itu bisa nanti gimana caranya berlanjut menjadi investment arm, bersama-sama dengan para partner, dan akhirnya MIPA itu bisa punya dana yang sustainable dan scalable," ujarnya."Pendidikan yang hebat melahirkan pemikir, riset yang hebat melahirkan solusi, dan kelembagaan yang kokoh dan sustainable memastikan keduanya tadi tidak pernah berhenti," pungkasnya.