Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: Rawpixel.com/ShutterstockSeorang siswa SMP di sekolah Islam swasta di kawasan Rawalumbu, Bekasi, diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Ibu korban, Heni Ira (44), mengungkapkan bagaimana dugaan bullying itu terjadi.Ia menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (17/9). Saat itu, anaknya hendak menuju sekolah dari asrama. Namun, tiba-tiba, ada seorang siswa lain yang menarik korban."Anak saya bilang, 'Gua enggak mau ribut.' Setelah itu dilepas dan anak saya lari ke kamar," kata Heni, Sabtu (26/9).Namun, menurut Heni, siswa tersebut menyusul korban ke kamarnya. Di dalam kamar, korban mendapat pukulan di bagian dada.Korban pun sempat melawan."Kalau saya lihat dari laporan, anak saya kemudian melakukan pembalasan. Tapi pembalasan biasa karena anak ini punya ilmu bela diri silat. Pukulan biasa dengan pukulan bela diri kan berbeda," ujarnya.Perlawanan korban juga kembali dibalas siswa tersebut. Pukulannya kali ini mengenai bagian wajah, kepala, dan mata."Matanya langsung merah," kata Heni.Meski mengalami luka pada mata, korban tetap mengikuti ujian sekolah pada hari tersebut. Heni mengaku baru mendapat informasi mengenai kejadian itu setelah pihak asrama menghubunginya. Heni baru menjemput anaknya pada Sabtu (19/9). Saat melihat kondisi korban, ia mendapati mata anaknya sudah memerah. Dua hari kemudian, Senin (21/9), Heni membawa korban ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut."Dokter menjelaskan bahwa pembuluh darah mata anak saya pecah di dalam. Di bagian depan mata juga terlihat pecah pembuluh darah. Tapi kata dokter masih bisa diobati," ujarnya.Setelah pemeriksaan tersebut, Heni kembali ke asrama untuk melakukan mediasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa yang disebut terlibat dalam kejadian. Namun, menurut Heni, pertemuan tersebut tidak menghasilkan titik temu.Bukan yang PertamaIlustrasi perundungan atau bullying. Foto: panadda design/ShutterstockHeni mengaku sudah melihat tanda-tanda kekerasan sejak beberapa pekan setelah anaknya tinggal di asrama.Korban mulai masuk asrama pada 30 Juni 2026. Sekitar 10 hari kemudian, Heni mengaku mulai mendengar nama seorang siswa yang disebut anaknya pernah terlibat perkelahian. Kecurigaan semakin kuat ketika sekitar Juli 2026, Heni melihat tangan anaknya penuh lebam setelah dijemput pulang."Saya tanya, 'siapa yang pukulin?' Dia jawab, 'Biasa lah Mi, anak laki.' Saya sempat marah, 'kok sampai biru-biru begini.' Tapi dia diam," ujar Heni, Sabtu (26/9).Sejak itu, Heni mengaku rutin mendatangi asrama setiap akhir pekan. Setiap kali datang, ia kembali menemukan lebam pada tubuh anaknya."Saya tanya kepada pihak asrama, ini kenapa badan anak saya lebam-lebam? Mereka jawab, nanti akan ditindaklanjuti, akan dicari tahu," katanya.Namun, menurut Heni, kondisi serupa terus berulang selama dua bulan ke depan. Pada 7 September, saat korban demam dan dijemput pulang, Heni kembali menemukan lebam di tubuh anaknya."Setiap minggu pokoknya biru, besar-besar. Ada yang biru seperti langsung ditusuk pakai pena sampai seperti luka," tuturnya.Heni mengaku saat itu kembali mempertanyakan kondisi tersebut kepada pihak asrama."Dari informasi anak lainnya menyampaikan bahwa anak itu yang nakal dan yang memukul anak saya lagi. Katanya anak tersebut memang sedikit keras. Kalau bercanda serius, sampai memukul," kata Heni.Bagi Heni, kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan biasa."Ini bukan kenakalan biasa kalau tiap kali nyubit sampai biru, pukul-pukul," ujarnya.Korban Takut SekolahIlustrasi perundungan atau bullying. Foto: all_about_people/ShutterstockKini, korban sudah dibawa pulang dari asrama. Bagi Heni persoalan tersebut bukan lagi sebatas luka pada tubuh anaknya. Ia mulai melihat perubahan pada kondisi psikologis putranya setelah dugaan kekerasan terjadi.Salah satu yang paling membuat Heni terpukul adalah ketika anaknya mulai mempertanyakan apakah kejadian serupa akan kembali dialaminya di sekolah lain."Dia sampai bertanya, 'Mami, nanti di sekolah lain ada bully-bully lagi tidak?'" kata Heni.Menurut Heni, rasa takut tersebut menunjukkan anaknya masih menyimpan kekhawatiran setelah kejadian yang dialaminya."Rasa ketakutannya luar biasa. Artinya mental dan psikisnya sudah kena," ujarnya.Selain rasa takut, Heni mengatakan kondisi mata anaknya juga belum sepenuhnya pulih. Matanya masih sering berair dan terasa perih setelah mengalami dugaan pemukulan pada 17 September 2026.Dilaporkan ke PolisiIlustrasi polisi. Foto: ShutterstockHeni kemudian memilih membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dengan melapor ke Polres Metro Bekasi Kota.Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana membenarkan adanya laporan tersebut. Polisi masih menunggu hasil visum, meminta keterangan saksi dan mengumpulkan bukti untuk membuat terang peristiwa."Saat ini penyidik menunggu hasil visum, meminta keterangan para saksi dan mengumpulkan bukti-bukti untuk membuat terang peristiwa ini," kata Putu.Sementara, Kasat PPA-PPO Polres Metro Bekasi Kota Kompol Rosdiana mengatakan, penyidik telah menyiapkan proses klarifikasi terhadap pelapor, korban, saksi dan pihak yang diduga terlibat."Untuk ke depan, kami sudah sampaikan undangan klarifikasi terhadap pelapor, korban dan saksi-saksi dan yang diduga pelaku," kata Rosdiana.