Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/StringerIran menyatakan masih menunggu tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait usulan pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari.Namun Iran menegaskan tidak akan melunakkan persyaratannya setelah Presiden Donald Trump menyuarakan penolakannya.Mengutip Bloomberg, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan telah mengetahui pernyataan Trump yang menolak proposal negosiasi iran, meski sejauh ini belum menerima dokumen atau jawaban apa pun dari pihak mediator, yaitu Qatar dan Pakistan, sebagaimana dilaporkan stasion televisi pemerintah IRIB pada Sabtu (26/9) malam.“Presiden AS telah menyampaikan beberapa pernyataan yang baik, namun juga banyak hal yang kontradiktif sesuatu yang sayangnya kerap kita dengar darinya,” ujar Araghchi.Ia menambahkan bahwa hanya 'solusi hasil negosiasi' yang mampu menyelesaikan kebuntuan terkait jalur utama pasokan energi global tersebut.Menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini, para negosiator AS dan Iran sebelumnya telah menjajaki kesepakatan di mana Teheran membuka kembali Selat Hormuz, sementara Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pakta ini sejatinya mirip dengan nota kesepahaman yang dicapai kedua pihak pada pertengahan Juni lalu, yang sempat memicu gencatan senjata rapuh sebelum akhirnya runtuh kembali.“Mereka menyodorkan proposal, tetapi saya menolaknya,” kata Trump pada Sabtu saat meninggalkan Gedung Putih, merujuk pada pihak Iran. “Mereka ingin membuat kesepakatan untuk langsung membuka selat itu karena posisi mereka sudah sangat terdesak," jelas Trump.Presiden AS Donald Trump berbicara di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Jonathan Ernst/REUTERSDi sisi lain, ibu kota Arab Saudi menjadi sasaran serangan kelompok militan Houthi asal Yaman pada Sabtu. Meningkatnya permusuhan kelompok yang disokong Iran terhadap sekutu AS di Timur Tengah.Pasukan koalisi berbenteng Arab Saudi di Yaman mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat dua drone yang diluncurkan Houthi ke arah Riyadh, serta satu rudal balistik yang menyasar wilayah perbatasan selatan di Khamis Mushait.Sekitar sepekan lalu, sirene bahaya udara sempat berbunyi bagi warga Riyadh untuk pertama kalinya sejak puncak konflik pada Maret dan April lalu, seiring sistem pertahanan udara mencegat rudal yang mengarah ke ibu kota Arab Saudi tersebut.Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump diperkirakan bakal melanjutkan kampanye pengeboman terhadap Iran setelah pemilu sela (midterm elections) AS pada awal November mendatang, lantaran ia skeptis terhadap kesediaan Iran untuk memenuhi tuntutannya.Ketika dikonfirmasi, Trump enggan menjawab pertanyaan mengenai apakah ia benar-benar akan melanjutkan serangan udara setelah pemilu sela tersebut.Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB di New York pekan lalu menegaskan, negaranya tidak akan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz selama sanksi ekonomi dan blokade militer AS masih diberlakukan.Ia menambahkan bahwa Teheran juga tidak akan pernah melepas haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir demi kepentingan ekonomi.