Anak Bisa Jadi People Pleaser, Moms? Ini Cara Mencegahnya Sejak Dini

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak takut. Foto: Mama Belle and the kids/ShutterstockMoms, pernah melihat anak yang selalu bilang “iya” meski sebenarnya tidak mau? Bisa jadi, ia sedang belajar menjadi people pleaser. Pola ini membuat anak merasa harus menyenangkan orang lain agar diterima atau disukai.Menurut psikolog klinis anak, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, Psikolog, kecenderungan tersebut bukan hanya bisa dialami anak perempuan. Anak laki-laki juga dapat mengalami pola yang sama.Apa Itu People Pleaser pada Anak?Ilustrasi anak bahagia. Foto: Shutter StockPeople pleaser merupakan pola ketika anak merasa harus menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan. Kondisi ini dapat terlihat ketika anak sulit mengatakan tidak, takut ditolak atau tidak disukai, hingga rela mengorbankan kebutuhannya demi orang lain.Anak perempuan disebut dapat lebih sering mengalami pola ini karena adanya tuntutan untuk bersikap lembut, penurut, mengalah, dan menjaga perasaan orang lain. Namun, pola tersebut tidak melekat pada jenis kelamin tertentu.“Kecenderungan menjadi people pleaser itu sebenarnya bukan sifat bawaannya anak perempuan. Anak laki-laki juga bisa mengalami pola yang sama," kata Ratih pada kumparanMOM, Jumat (24/9). Kalimat Orang Tua Bisa Membentuk Pola IniMenurut Ratih, tanpa disadari ada beberapa kalimat yang sering diucapkan orang tua juga dapat membuat anak belajar bahwa penerimaan bergantung pada kepatuhan. Kalimat yang bikin anak jadi people pleaser meliputi: 1. “Kalau sayang Ibu, harus mau,” 2. “Kamu perempuan, harus lebih pengertian,” 3. “Udah, kamu yang mengalah.”"Jika terus berulang, anak bisa menangkap pesan bahwa untuk diterima dan disayang, ia harus mengikuti keinginan orang lain. Akibatnya, anak dapat terbiasa menahan pendapat, menyembunyikan rasa tidak nyaman, atau mengatakan iya meski sebenarnya keberatan," jelas Ratih. Karena itu, orang tua tetap perlu mengajarkan anak menghargai orang lain, tetapi juga memberi ruang untuk memiliki pilihan, berkata “enggak”, menyampaikan rasa tidak nyaman, dan menetapkan batasan.Anak juga perlu memahami bahwa orang lain boleh kecewa, dan itu tidak selalu berarti ia salah, Moms.