Properti-Investasi Kawasan Transit, Jalan MRT Jakarta Menjemput Kemandirian

Wait 5 sec.

Suasana kawasan Transport Hub Dukuh Atas, Sabtu (26/9/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.Stasiun kini tak lagi hanya dipandang sebagai tempat orang naik turun kereta, melainkan pintu masuk menuju sumber pendapatan yang lebih luas di sekitarnya. Di balik bangunan tersebut, ada ruang yang bisa diisi berbagai aktivitas ekonomi.PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mencoba memperluas cara pandangnya. Jika sebelumnya pendapatan selain tiket (non-farebox) banyak bertumpu pada aset di dalam stasiun, ke depan kawasan di sekitar stasiun juga diharapkan ikut menjadi sumber pendapatan.Division Head Property Management Division MRT Jakarta, Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, mengatakan perusahaan tengah membangun ekosistem kawasan berorientasi transit (TOD) yang bukan hanya membuat kawasan lebih hidup, tetapi juga lebih bernilai secara ekonomi."Perjalanan manajemen properti kami tidak berarti berhenti di aset, tapi bergerak menjadi placemaking dan jangka panjangnya akan menjadi bagian kecil dari city-making. Pada akhirnya yang kita kelola bukan hanya bangunan, tapi untuk membentuk bagaimana masyarakat menikmati sebuah kawasan," ujarnya saat Kelas MRTJ Fellowship Program 2026, dikutip Minggu (27/9).Division Head Property Management Division MRT Jakarta Muchamad Iqbal Bimo Arifianto saat kelas MRTJ Fellowship Program 2026, Kamis (24/9/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanHal ini menjadi salah satu pekerjaan rumah besar di balik pembangunan dan pengelolaan MRT Jakarta, yakni bagaimana moda transportasi publik ini bisa semakin kuat secara finansial, tanpa selamanya bergantung pada subsidi pemerintah.Jawabannya tidak hanya dicari dari penjualan tiket. MRT Jakarta mulai memperbesar sumber pendapatan non-farebox melalui pengelolaan aset, tenant, event, bahkan komunitas dalam satu lingkup besar pengembangan kawasan berorientasi transitSaat ini, manajemen properti MRT Jakarta sudah mengelola dua aset, yakni Blok M Hub dan Transport Hub Dukuh Atas. Keduanya memiliki karakteristik tersendiri, di mana Blok M Hub condong kepada gaya hidup, komersial, dan komunitas, sementara Transport Hub menjadi simpul mobilitas, konektivitas, dan aktivitas urban."Setiap aset punya potensi untuk tumbuh bersama kami. MRT Jakarta menciptakan ruang yang lebih hidup, lebih bernilai, dan memberi dampak bagi manusia," kata Bimo.Perlebar Ceruk PendapatanBimo menyebutkan bahwa MRT Jakarta mengharapkan lebih besar pada pendapatan non tiket. Saat ini, kontribusi non-farebox terhadap total pendapatan perusahaan mencapai 30 persen, di mana seperempatnya berasal dari luar stasiun.Salah satu kontribusi pendapatan non-farebox terbesar bagi MRT Jakarta yakni hak penamaan (naming rights). Saat ini, tinggal dua stasiun MRT yang belum mendapatkan mitra yakni Stasiun Bendungan Hilir dan Haji Nawi.Kemitraan ini tidak hanya untuk stasiun. Terbaru, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk membeli hak penamaan kawasan TOD Blok M Hub. Bimo menyebutkan bahwa sudah banyak korporasi yang melirik kawasan lain, bahkan yang masih dalam perancangan seperti Pedestrian Deck Dukuh Atas dan Extended Concourse Bundaran HI.Suasana kawasan Blok M Hub. Foto: PT MRT Jakarta (Perseroda).Ia menilai, semakin besar kontribusinya maka akan sangat baik bagi keberlangsungan perusahaan yang kini sebagiannya masih ditopang oleh subsidi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta."Porsinya MRT Jakarta itu ada subsidi, ada farebox, dan non-farebox memang hampir sama pembagiannya. Jadi tetap kita harapannya adalah non-farebox ini akan terus berkembang dan akan menjadi tulang punggung MRT Jakarta bahkan bisa jadi mengurangi subsidi depannya," tutur Bimo.Bimo mencontohkan keberhasilan MTR Corporation Hong Kong bisa memperlebar pendapatan di luar tiketnya menjadi lebih dari 50 persen, yang menurutnya menjadi contoh paling ideal dalam pengembangan kawasan TOD di Jakarta terutama proyek bangunan dengan fungsi campuran (mixed-use).Bahkan, lanjut dia, pemerintah Hong Kong memberikan bank tanah (land bank) kepada MTR, sehingga perusahaan transportasi itu bisa lebih leluasa dalam memanfaatkan bisnis properti untuk mengambil keuntungan lebih besar."TOD MRT Jakarta sampai saat ini kita kiblatnya ke Hong Kong, itu mixed use-nya sudah jalan. Di atas stasiun itu ada mall, ada aktivasi, terus tower-tower itu punya apartemen, ada hotel, dan lainnya," ungkap Bimo.Saat ini, MRT Jakarta telah membangun dan mengelola Transport Hub, satu-satunya bangunan mixed-use di Jakarta yang memiliki fungsi perkantoran, kampus, hotel, pujasera, hingga memiliki pemberhentian Transjakarta. Per September 2026, pengunjung harian Transport Hub mencapai 2755 orang, 100 persen okupansi tenant pujasera, dan 88,8 persen okupansi tenant atau penyewa bangunan.Suasana kawasan Transport Hub Dukuh Atas, Sabtu (26/9/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.Baik itu Transport Hub maupun Blok M Hub, MRT Jakarta masih mengandalkan anggaran pribadi untuk mengembangkannya. Namun, Bimo menilai perusahaan akan menangkap lebih banyak peluang kerja sama dengan mitra atau investor ke depannya."Memang di tahun awal-awal kita tidak fokus pada revenue, tapi bagaimana mimpi MRT Jakarta membuat sebuah kawasannya tercipta. Jadi banyak kolaborasi-kolaborasi di tahun-tahun awal biasanya nonkomersial," tutur Bimo.Bidik Investasi Lebih BesarDengan begitu, lanjut dia, MRT Jakarta tentunya membidik potensi investasi untuk mengembangkan lebih banyak lagi pengembangan kawasan TOD di sekitar stasiun MRT. Apalagi dengan rencana perpanjangan rute, baik itu Fase 2 jalur utara-selatan hingga jalur timur-barat.Beberapa kawasan TOD yang telah dirancang misalnya Stasiun Kota Tua yang rencananya akan dibangun beberapa fasilitas seperti The Heritage Hub Kalibesar, UPK Kota Development, XGL Mixed-Use, Combine Building, hingga Lada Development.Kemudian TOD Stasiun Thamrin yakni Thamrin Asset Development, lalu Extended Concourse Bundaran HI, Pedestrian Deck Dukuh Atas, revitalisasi lanjutan atau Ultimate Development Blok M Hub, serta Lebak Bulus Park & Ride dan bangunan Mixed-Use."Kita sudah menawarkan opsi-opsi aset, dari Blok M, Lebak Bulus juga, ada titik-titik paling banyak di Kota. Jadi kita tawarkan bukan target nominal, tapi juga target aset. Satu aset bisa menjadi beberapa investasi, tidak hanya dari satu perusahaan saja," jelas Bimo.Untuk itu, MRT Jakarta rutin menghadiri berbagai forum investasi di luar negeri, salah satunya TOD Investment Forum 2026 di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura pada Kamis (24/9) kemarin. Perusahaan membidik investor dari kawasan Asia Tenggara."Saat ini semua investasi berasal dari MRT dan kita masih fokus kepada peran lokal dulu. Tapi kita akan tetap membuka peluang dari investor-investor terutama saat ini dilakukan di Singapura, di Asia Tenggara, dan bahkan kita mungkin bisa lebih luas ke mancanegara," ungkap Bimo.Tidak hanya Asia Tenggara, perusahaan juga mencoba menggaet investor dari Hong Kong. Hanya saja, tidak hanya suntikan modal, Bimo berharap para investor bisa membawa ide transformasi serta alih teknologi agar pengembangan kawasan TOD di Jakarta lebih baik lagi.Pramono Anung resmikan Pencanangan Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jakarta, (21/6/2026). Foto: Dok. MRT Jakarta"Investor luar itu tidak hanya membantu membangun Jakarta, juga membantu dalam transfer knowledge. Bagaimana negara-negara di luar itu membangun kawasannya sehingga itu bisa diduplikasi di Jakarta," tegasnya,Selain revitalisasi kawasan TOD, Bimo menyebutkan MRT Jakarta tengah mencari mitra untuk mengelola sampah. Uji Coba proyek saat ini mencakup pemilahan sampah, dan ke depannya akan lanjut dengan pengolahan sampah plastik hingga limbah minyak jelantah (used cooking oil)."Saat ini kita masih melakukan pemilahan bersama kolaborasi dengan pencarian mitra, sebetulnya yang paling penting plastik sama used cooking oil, kita akan start dari situ," kata Bimo.MRT mungkin berhenti di stasiun, tetapi potensi ekonomi tidak seharusnya ikut berhenti di sana. Di balik perjalanan penumpang, MRT Jakarta tengah meniti perjalanan panjang untuk membangun kawasan TOD, menggerakkan aktivitas urban, hingga akhirnya memperbesar ceruk pendapatan demi menjemput kemandirian.