Laba Bersih Astra Agro Lestari Rp 1,09 T pada Semester I 2026, Meroket 56,6%

Wait 5 sec.

Aktivitas panen di perkebunan kelapa sawit PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi dan PT Agro Menara Rachmat (PT GSIIP-AMR) yang merupakan anak usaha Astra Agro Lestari di Kalimantan Tengah pada Kamis (30/7/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat laba bersih sebesar 1,09 triliun sepanjang Semester I 2026. Angka tersebut naik sebesar 56,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 702 miliar.Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan kenaikan laba ini juga turut mengerek kenaikan laba per saham dari Ro 365 menjadi Rp 571.“Untuk laba bersih kami tercatat di Rp 1 triliun, ada peningkatan juga dibandingkan dengan periode yang sama di tahun yang lalu. Sehingga secara earning per share itu juga ada peningkatan dari Rp. 365 meningkat 56,5 persen menjadi Rp 571 per share,” kata Tingning dalam gelaran Astra Media Day 2026 di Menara Astra, Rabu (23/8).Pada periode yang sama, AALI juga mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 5,6 persen menjadi Rp 15,3 triliun dari Rp 14,45 triliun pada Semester I 2025.Tingning menuturkan per Juni 2026 konsumsi minyak sawit domestik di Indonesia tumbuh sekitar 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendorongnya adalah kebutuhan pangan dan penyerapan biodiesel.Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo dalam gelaran Astra Media Day 2026 di Menara Astra, Rabu (23/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanDari sisi operasional, produksi CPO Astra Agro pada Semester I 2026 tercatat sebesar 558 ribu ton atau turun 2 persen. Meski demikian, menurut Tingning volume penjualan CPO dan produk turunannya meningkat 1,7 persen menjadi 898 ribu ton, dari 883 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.“Jadi ini akan tadi menyebabkan kita juga ada peningkatan dari sisi revenue,” ujarnya.AALI juga menggenjot produktivitas melalui program replanting yang berfokus pada peningkatan kuantitas luasan lahan dan kualitas tanaman.Catatan reduksi emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 35,69 persen pada 2025 dibandingkan baseline 2019, pencapaian penggunaan energi terbarukan hingga 92,3 persen, dan pemanfaatan limbah padat mencapai 100 persen.Salah satu langkah strategisnya adalah pengoperasian teknologi methane capture untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent / POME) menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan.Hingga semester I 2026, tiga fasilitas methane capture perseroan di Riau menghasilkan sekitar 8,01 juta Nm³ biogas dan berkontribusi menekan emisi hingga 39.573 ton setara CO2, yang menegaskan bahwa penguatan kinerja bisnis dan transformasi hijau dapat berjalan secara beriringan.Untuk mendukung percepatan transformasi yang dilakukan, Tingning mengungkapkan AALI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) di kisaran Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada tahun 2026, dengan proyeksi angka yang kurang lebih sama untuk tahun 2027.Sebagian besar dana capex tersebut difokuskan untuk mendanai program replanting yang digenjot hingga hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Sementara sisanya dialokasikan untuk pengadaan dan pemeliharaan mesin dan peralatan operasional.“Capex yang disiapkan hari 2027, bicara 2026 itu mungkin ada di sekitar Rp 1,3-Rp 1,4 triliun, 2027 kurang lebih mungkin masih ada jumlah seperti itu. Jadi kita prioritas utama itu adalah di replanting. Jadi mostly itu capex yang dipakai untuk replanting dan sisanya adalah untuk mesin-mesin dan, peralatan,” terang Tingning.