Hutan yang ramai kicau burung belum tentu sehat: Riset membuktikannya lewat pohon evolusi

Wait 5 sec.

Burung maleo (Macrocephalon maleo) yang juga burung khas Sulawesi. (JJ Harrison/Wikimedia Commons), CC BY• Keanekaragaman burung tak cukup diukur dari jumlah spesies semata.• Hutan lebat kerap dihuni spesies dengan kekerabatan filogenetik yang dekat.• Evaluasi kondisi hutan harus mempertimbangkan keberagaman evolusi satwa.Sahutan kicauan burung di pagi hari merupakan hal normal di hutan tropis. Semakin banyak jenis yang terdengar atau terlihat, semakin kita menganggap hutannya sehat.Namun, jumlah spesies bukan satu-satunya tolok ukur kondisi hutan. Dalam biologi evolusi, ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: sejauh mana kekerabatan burung-burung yang hidup bersama di sana? Baca juga: Indonesia titik panas ancaman populasi satwa, tapi kekurangan data untuk mengukurnya Dalam riset terhadap 422 spesies burung di 1.410 titik di tujuh pulau: Kalimantan, Buru, Buton, Sangihe, Seram, Sulawesi, dan Talaud, saya bersama tim menemukan bahwa kawasan hutan lebat tak otomatis jadi tempat tinggal ragam spesies burung.Temuan kami menunjukkan bahwa menilai keanekaragaman burung tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah spesies. Untuk memastikan pelestarian dan menjaga keberagamannya, kita juga perlu melihat “pohon keluarga” mereka.Menelusuri silsilah keluarga burungBayangkan seluruh spesies burung di Bumi terikat dalam satu silsilah keluarga raksasa. Bahkan termasuk spesies yang nenek moyangnya telah berpisah sejak jutaan tahun lalu sekalipun berada di silsilah evolusi yang lebih jauh. Baca juga: Bagaimana burung bertahan hidup sedangkan dinosaurus punah? Ahli menjawabnya Kami juga membandingkan komunitas burung dengan kondisi hutan di sekeliling titik pengamatan. Tutupan hutan dihitung dalam radius 250 meter. Sementara perubahannya ditelusuri sepanjang 2010 – 2022.Kami memakai tiga indikator “penggaris” untuk mengukur kekerabatan antarspesies yang kami temukan:1) Phylogenetic diversity (PD): Menghitung total panjang keseluruhan cabang pohon evolusi yang menghubungkan burung-burung di suatu tempat. Semakin panjang cabangnya, semakin luas sejarah evolusi yang tersimpan.2) Mean pairwise distance (MPD): Melihat rata-rata jarak kekerabatan antara setiap spesies dengan seluruh spesies lain di komunitas tersebut.3) Mean nearest taxon distance (MNTD): Berfokus pada kerabat terdekat—seberapa jauh jarak masing-masing burung dari “sepupu” terdekatnya yang hidup berdampingan.Di pulau Buru (Maluku) yang hutannya tak banyak gangguan, burung-burung setempat hidup berdampingan, seperti cabai buru (Dicaeum erythrothorax), kring-kring buru (Prioniturus mada), dan kasturi merah (Eos bornea). Ketiganya memperlihatkan hubungan filogenetik yang unik; kring-kring buru dan kasturi merah berbagi kedekatan morfologi paruh bengkok (Psittaculidae), sedangkan cabai buru (Passeriformes) berkerabat dalam skala purba yang lebih luas melalui klade Psittacopasseres.Namun, kehidupan berdampingan ketiga burung ini tidak hanya berkaitan dengan kekerabatan evolusi. Mereka pun sama-sama mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi hutan yang relatif stabil. Di Sangihe (Sulawesi Utara), terdapat cabai panggul-kuning (Dicaeum aureolimbatum) dan cabai panggul-kelabu (Dicaeum celebicum). Keduanya burung cabai dari genus yang sama, berukuran kecil, dan sama-sama mencari buah-buah kecil di pepohonan. Sementara di Talaud (Sulawesi Utara), pergam tarut (Ducula concinna) dan pergam kelabu (Ducula pickeringii)—dua jenis burung ini bertubuh relatif besar—juga memakan buah di pepohonan.Di kedua pulau ini, sayangnya, memiliki tingkat keterancaman lebih tinggi karena tutupan hutan yang berkurang sejak 2010. Baca juga: Kerja sama ilmuwan-masyarakat merangsang geliat konservasi ‘spesies terlupakan’ Indonesia Mengapa ini terjadi?Eratnya kekerabatan evolusi dalam hutan terjadi karena adanya penyaringan lingkungan. Hutan rapat memiliki struktur vegetasi, cahaya, sumber makanan, dan ruang mencari makan yang khas, sehingga lebih cocok bagi kelompok burung tertentu. Ada temuan di Buton (Sulawesi Tenggara) yang memperkaya gambaran ini. Burung srigunting sulawesi (Dicrurus montanus), burung-madu hitam (Leptocoma sericea), dan cabai panggul-kuning (Dicaeum aureolimbatum) sama-sama termasuk kelompok besar passeriformes. Burung srigunting sulawesi. (William Stephens/Wikimedia Commons), CC BY Mereka hidup berdampingan karena sama-sama menggantungkan penghidupannya pada serangga dan nektar.Temuan ini menunjukkan bahwa struktur komunitas tidak hanya dipengaruhi banyaknya hutan, tetapi juga sejarah pulau dan kelompok burung yang sejak lama berhasil hidup di sana.Dalam penelitian lanjutan (belum terbit), kami juga sedang menelaah bagaimana isolasi antarpulau ikut membentuk pola tersebut. Burung dengan dua kerentananStudi kami juga melihat menyoroti spesies burung garis keturunan lebih khas dan lebih rentan punah di hutan yang lebih luas melalui indikator EDGE (Evolutionarily distinct and globally endangered) dan daftar spesies terancam versi Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).Contohnya adalah burung maleo sulawesi (Macrocephalon maleo). Spesies yang berada terancam punah ini bak anak dari “cabang tua” pohon evolusi. Nama “maleo” atau “burung gosong” sebenarnya merujuk pada keluarga besar famili Megapodiidae yang tersebar luas mulai dari Sulawesi, Maluku, Papua, Australia, Selandia Baru, hingga pulau-pulau kecil di Pasifik.Namun, di antara seluruh keluarga besar tersebut, hampir separuh spesiesnya berstatus rentan hingga kritis akibat hilangnya habitat dan perburuan telur. Posisi maleo sulawesi sangat krusial karena ia satu-satunya spesies yang tersisa di genusnya (monotypic genus). Jika rumpun keluarga Megapodiidae global rata-rata sudah rapuh, maka kepunahan maleo sulawesi bukan sekadar hilangnya satu spesies biasa, melainkan juga kepunahan satu-satunya perwakilan dari “cabang tua” genus Macrocephalon yang tidak memiliki kerabat dekat lain di dunia. Baca juga: Menapak tilas jejak Alfred Wallace di Maros dan ‘surga’ kupu-kupu Bantimurung Tidak cukup menjumlahkan populasiAnalisis dengan menghitung jumlah individu dan jumlah spesies tetap penting tapi pengukurannya belum lengkap. Masalahnya, banyak penilaian lingkungan termasuk analisis dampak lingkungan berhenti pada dua aspek tersebut.Padahal, dua lokasi dengan jumlah spesies sama bisa memiliki nilai konservasi yang berbeda. Satu lokasi mungkin didominasi kelompok yang memiliki banyak kerabat dekat dan relatif tahan terhadap gangguan. Sebaliknya, lokasi lainnya mungkin memiliki karakter komunitas spesies berbeda.Karena itu, hutan yang luas dan terhubung amat penting untuk mempertahankan komunitas dengan nilai evolusi dan konservasi tinggi, tak hanya di dunia tapi juga hutan tropis di seluruh dunia. Di Gunung Kamerun, komunitas burung di gunung dataran rendah maupun tinggi didominasi kelompok yang berkerabat dekat. Para peneliti mengaitkannya dengan sejarah hutan Afrika yang berulang kali meluas, menyusut, dan terisolasi.Sementara di Amazon, Brasil, penebangan selektif terbukti memangkas cabang sejarah evolusi burung. Lalu di Kolombia, konversi hutan menjadi padang penggembalaan diperkirakan telah melenyapkan sekitar 2,3 miliar tahun sejarah evolusi burung. Baca juga: Karhutla hanguskan kekayaan genetika Indonesia yang tak bisa dipulihkan Menilai hubungan kekerabatan memang membutuhkan upaya tambahan. Namun, informasi itu memberi gambaran lebih mendalam: seberapa banyak sejarah kehidupan yang sebenarnya sedang kita lindungi.Hutan yang ramai oleh kicau burung tentu kabar baik. Tetapi untuk memahami seberapa berharganya hutan itu, kita juga perlu melihat pohon keluarga di balik suara-suara tersebut.Halvina G Saiya menerima dana dari Beasiswa Pendidikan Indonesia.