Ini Surakman Sebelum Hilang Bersama Wartawan, Keluarga Harapkan Ada Keajaiban

Wait 5 sec.

Surakman di atas kapal Arupadatu 1 sebelum dinyatakan hilang kontak. Foto: IstimewaDi atas kapal Arupadatu 1, matanya menatap lurus ke laut. Topi hitam menangkal teriknya matahari siang itu. Berbalut kaus biru tipis dan celana pendek hitam, Surakman (60), yang merupakan ABK itu ditugaskan untuk mengantar kelima wartawan meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Namun hari itu ternyata menjadi hari terakhir sebelum Surakman hilang kontak. Nasibnya tidak diketahui sejak hilang pada Senin, 7 September 2026 lalu. Meski tak ada kabar, keluarga Surakman terus berharap ada keajaiban. Setiap malam doa dipanjatkan di rumahnya di Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Bersahabat dengan Laut Sejak KecilBagi Surakman, ombak Selat Sunda bukan lagi hal asing. Dia sudah mengenal laut sejak masih duduk di bangku SD.Mengantar wisatawan dan peneliti ke Gunung Anak Krakatau hingga Pulau Peucang, Ujung Kulon, sudah menjadi urat nadinya. Dalam seminggu, ia bisa tiga hingga empat kali menembus lautan."Jadi nelayan dari SD. Sekarang kalau ada yang berangkat ke Ujung Kulon ke Krakatau, ratusan kali (ke Gunung Anak Krakatau), memang kerjaannya. Kadang-kadang nginap di sana lima hari. Nginep di Krakatau langsung ke Peucang, Ujung Kulon. Biasa bule atau mahasiswa (yang diantar)," ujar Yayat Surhadi, putra kedua Surakman, Senin (21/9).Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO Saat jadwal pelayaran kosong, Surakman memilih menghabiskan waktunya di rumah. Menikmati masa tuanya dengan sederhana bersama sang cucu."Kalau nggak ada kerjaan ngasuh cucu, anak saya. Kalau ada rizki ngasih susu. Ngasih jajan," katanya.Namun, pelayaran awal September itu menyisakan kepedihan mendalam sekaligus kebingungan bagi keluarga. Pencarian skala besar telah dikerahkan, melibatkan puluhan kapal, kapal perang, hingga helikopter dari berbagai wilayah, tetapi tak ada satu pun jejak kapal Arupadatu 1 yang ditemukan."Sangat terkejut aneh, nggak nyangka. Aneh aneh itu aneh. Bukan Basarnas Pandeglang, bukan hanya Banten. Semua nyari sampai Basarnas Bengkulu. Kapal perang helikopter dikerahkan. Skala besar, tapi nggak ketemu, aneh," ungkap Yayat.Meski teka-teki keberadaan kapal belum terkuak, asa keluarga tidak pernah padam. Rumah yang biasa hangat oleh tawa kini dihidupkan oleh gema doa yang dilantunkan tanpa putus bersama kerabat dan para santri. Harapan masih terus ada meski pencarian tim gabungan sudah dihentikan. Keluarga berharap ada kabar baik yang segera mereka terima."Berdoa mah terus berdoa. Setiap malam ada doa. Anak-anaknya dari teman-teman. Masih berharap, " ujarnya.Surakman (60) hilang kontak saat mengantar 5 jurnalis meliput erupsi Gunung Anak Krakatau Senin, 7 September 2026. Dia bersama kru kapal Warta (55) dan Heriyanto (49) pemandu wisata.Sedangkan 5 jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (Jurnalis Lepas).