Starling Jadul Tetap Bertahan di Tengah Maraknya Kopi Keliling Modern

Wait 5 sec.

Pedagang kopi keliling berjualan di kawasan Halte Bundaran Senayan, Jakarta, Minggu (7/9/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanPedagang kopi keliling atau yang populer dengan istilah starling masih mudah ditemui di berbagai sudut Jakarta. Dengan sepeda dan kotak sederhana untuk membawa dagangan, mereka berkeliling mencari pembeli atau menetap di sejumlah titik lokasi.Minuman yang ditawarkan pun relatif sederhana, mulai dari kopi saset hingga berbagai jenis minuman instan. Harga yang terjangkau menjadi salah satu daya tarik starling bagi masyarakat yang membutuhkan minuman praktis di tengah aktivitas sehari-hari.Namun, pemandangan pedagang kopi keliling di Jakarta kini mulai berbeda. Sejumlah merek kopi modern turut mengadopsi konsep serupa dengan menggunakan sepeda atau sepeda motor yang dilengkapi boks untuk membawa dan menjajakan minuman.Meski begitu, kemunculan kopi keliling dengan konsep yang lebih modern tidak serta-merta membuat pedagang starling merasa harus bersaing.Peluncuran Kopi Jago, kopi yang dijual keliling pakai sepeda listrik, Kamis (5/3). Foto: Moh Fajri/kumparanSalah satunya Abdul Rudi, pedagang starling, yang sehari-hari berjualan di sekitar kawasan Sudirman. Ia mengaku tidak melihat pedagang kopi lain sebagai pesaing.“Kalau bersaing enggak sih, soal rezeki sudah ada yang ngatur semua, enggak jadi masalah,” kata Rudi kepada kumparan, Selasa (23/9).Menurut Rudi, penjualannya hingga kini masih berjalan seperti biasa. Keberadaan pelanggan tetap membuatnya tidak terlalu khawatir dengan semakin banyaknya penjual kopi.“Penjualan seperti biasa saja. Soalnya kita kalau sudah ada langganan, alhamdulillah, sudah ada langganan masing-masing,” ujarnya.Salah satu pembeli starling yang juga driver online, Putra, menilai membeli minuman dari pedagang keliling lebih praktis karena mudah ditemui sekaligus menawarkan harga yang relatif murah.“Daripada jauh-jauh mendingan beli di sini, sudah pasti ada, lebih dekat, murah lagi. Yang lainnya bisa Rp 7.000, di sini Rp5.000, lebih murah, ngebantu driver,” ujarnya.Kondisi berbeda dirasakan Sri, pedagang starling yang kini berjualan di sekitar kawasan DPR. Ia mengakui pendapatannya dari berjualan starling saat ini tidak lagi sama seperti sebelumnya.“Ya, beda sama dulu,” ujar Sri.Sri mengatakan dirinya pernah berjualan di sekitar GBK dengan menggunakan sepeda dan berkeliling hingga kawasan Sudirman. Kini, ia lebih banyak menetap di satu lokasi untuk menunggu pembeli.“Dulu berdagang starling di GBK, naik sepeda kan keliling-keliling dulunya, terus Sudirman, sekarang standby di DPR,” katanya.Meski mengakui penghasilannya tidak lagi seperti dulu, Sri mengatakan pendapatan dari berjualan starling masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk makan.Pembelinya pun berasal dari berbagai kalangan yang beraktivitas di sekitar lokasi, mulai dari petugas kebersihan, pegawai TransJakarta, hingga orang-orang yang sedang melintas.“Kadang petugas kebersihan, Trans ini, siapa saja lah yang beli dan lewat,” jelas Sri.