Jejak Hilangnya Kapal Pembawa 5 Wartawan hingga Jenazah Surakman Ditemukan

Wait 5 sec.

Surakman, salah satu kru kapal yang hilang kontak bersama 5 jurnalis di sekitar Gunung Anak Krakatau. Foto: kumparanSebuah titik terang hadir dari kasus hilangnya kapal Arupadatu 1 yang mengangkut 5 wartawan dan 3 ABK saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026. Jasad salah satu ABK, Surakman (60), telah ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu.Kapal Arupadatu 1 bertolak dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB pada Senin (7/9).Kapal tersebut membawa lima wartawan yang hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Selain lima jurnalis, terdapat tiga orang lainnya di kapal, yakni kapten kapal Warta, ABK Surakman, dan pemandu Heriyanto.Delapan orang tersebut kemudian hilang kontak di perairan Selat Sunda. Lima jurnalis yang berada di kapal itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.Basarnas bersama TNI dan Polri telah melakukan pencarian selama 10 hari. Dalam masa itu tidak ditemukan adanya tanda-tanda korban. Pencarian kemudian ditutup dan diganti menjadi pemantauan.Berikut rangkuman perkembangan kasus hilangnya kapal Arupadatu 1 hingga jenazah Surakman ditemukan.Jenazah Ditemukan di Pulau Enggano Sempat Dimakamkan WargaKapolda Banten Irjen Pol Hengki didampingi Gubernur Banten Andra Soni dan jajaran menunjukkan foto jenazah ABK Arupadhatu 1, Surakman, saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Rabu (23/9/2026). Foto: Rafsanjani/ANTARA FOTOJasad Surakman ditemukan pada 12 September oleh warga setempat. Namun, saat itu warga setempat tidak ada yang mengenalinya.Karena tidak mengetahui identitas korban dan kondisi jasad yang sudah berbau, warga kemudian memakamkannya pada malam hari.“Jenazah ditemukan di Pulau Enggano pada Sabtu, 12 September lalu. Hari itu bertepatan dengan hari kelima saat pencarian seluruh korban dilakukan,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, Rabu (23/9).Keesokan harinya, Minggu (13/9), setelah warga mendapatkan informasi mengenai adanya orang hilang, makam tersebut kembali digali. Jenazah kemudian dibawa Polda Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan DNA.DNA Pastikan Jenazah Adalah SurakmanJurnalis memotret foto semasa hidup anak buah kapal Arupadhatu 1, Surakman, saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Banten, Rabu (23/9/2026) Foto: Rafsanjani/ANTARA FOTOHasil pencocokan DNA kemudian memastikan jenazah tersebut merupakan Surakman alias Sukarman (60), warga Carita, Pandeglang, yang merupakan ABK kapal Arupadatu 1.“Dari DNA. Persamaan dengan korban ABK Sukarman,” ujar salah satu sumber dari kepolisian yang tidak ingin disebutkan namanya, Rabu (22/9).Kepastian tersebut disampaikan Polda Banten pada Rabu (23/9). Surakman dikenal telah akrab dengan laut sejak kecil. Ia menjadi nelayan sejak duduk di bangku sekolah dasar dan disebut sudah ratusan kali berlayar menuju Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon.Jenazah Surakman Dibawa ke BantenKapolda Banten Irjen Pol Hengki menyampaikan keterangan saat konferensi pers temuan jenazah anak buah kapal Arupadhatu 1, Surakman, di Mapolda Banten, Kota Serang, Banten, Rabu (23/9/2026). Foto: Rafsanjani/ANTARA FOTOSetelah proses identifikasi, jenazah Surakman masih berada di Bengkulu. Rencananya, jenazah diberangkatkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Kamis (24/9) untuk diserahkan kepada keluarga.“Jenazah akan dikirim, akan diberangkatkan besok dari Kabiddokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta yang akan kita terima bersama Gubernur, Basarnas, dan Tim Terpadu akan menyambut kedatangan jenazah di Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Kapolda Banten Irjen Hengki dalam jumpa pers di Mapolda Banten, Rabu (23/9).Keluarga Berharap Pencarian DilanjutkanPenemuan jenazah Surakman memberi harapan bagi keluarga korban lain. Mansyur, ayah M. Bagus Khoirunnas, salah satu jurnalis yang masih hilang, meminta Basarnas kembali melakukan pencarian.“Kami berharap ada pencarian karena sudah ada titik terang,” kata Mansyur saat dihubungi kumparan, Rabu (23/9).“Kami minta Basarnas kembali melakukan pencarian korban selat Sunda, karena sudah ada titik terang,” lanjutnya.Namun, Basarnas Banten menyatakan operasi pencarian sebelumnya telah dilakukan selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari. Setelah tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi tersebut dihentikan dan dialihkan menjadi pemantauan.“Secara aturan kita itu melaksanakan pencarian tujuh hari, diperpanjang sampai 10 hari, tidak ada tanda-tanda korban,” kata Al Amrad.Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan dengan berkomunikasi dengan nelayan, kapal transportasi, dan kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda.Kapal Arupadatu 1 Belum DitemukanKapolda Banten Irjen Hengki juga menyampaikan bahwa kapal Arupadatu 1 hingga kini belum ditemukan.“Yang pasti dari sampai dengan sekarang, Arupadatu 1 kapalnya kan tidak ada yang ditemukan,” kata Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten, Rabu (23/9).Terkait lima wartawan yang masih hilang, Hengki mengatakan belum ada data yang dapat memastikan kondisi mereka.“Bagaimana korban yang lain saya belum tahu apakah mereka selamat atau enggak, saya berdasarkan data-data yang ada seperti yang kita temukan sekarang,” ujarnya.Keluarga Surakman IkhlasSuasana di rumah Surakman (60) di Pandeglang. Surakman merupakan Abk kapal Arupadatu 1 yang ditemukan tak bernyawa di pulau Enggano. Foto: kumparanDi tengah kabar duka, keluarga Surakman mengaku telah menerima kepergian anggota keluarga mereka.Yayat Surhadi, putra kedua Surakman, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pencarian sejak ayahnya dinyatakan hilang pada 7 September."Terima kasih. Alhamdulillah, akhirnya bisa ditemukan. Walaupun, misalnya keadaannya seperti ini, kami tetap bersyukur. Mungkin ini sudah menjadi takdir," kata Yayat Surhadi, Rabu (23/9)."Saya ikhlas menerima. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh pihak terkait atas bantuan dan upayanya selama proses pencarian," katanya."Alhamdulillah, keluarga sudah menerima dan berusaha untuk tetap kuat," tambahnya.Kakak Surakman, Ratna (64), juga tak kuasa menahan tangis ketika mengetahui adiknya meninggal dunia. Ia mengenang Surakman sebagai sosok pekerja keras yang sejak kecil sudah bekerja."Sedih ga bisa ketemu lagi. Dia mah dari kecil udah kerja, orangnya ga pernah sakit, kalau sakit juga paling minum obat sekali udah gitu aja, sehat lagi. Mungkin ga pernah dirasa," kata Ratna di kediamannya, Rabu (23/9).Ratna mengatakan Surakman sebelumnya sempat bercerita akan menginap di Ujung Kulon karena ada tamu yang meminta diantar ke Pulau Peucang."Itu udah ngomong aja mau nginep, mau nginep, bilangnya ke Ujung Kulon, itu udah diomong-omong aja, biasanya ga gitu," ujarnya.Jenazah Surakman rencananya dimakamkan di TPU Cidemang, berdampingan dengan makam istrinya yang telah lebih dahulu meninggal.Hingga kini, Surakman menjadi satu-satunya korban dari delapan orang yang berada di kapal Arupadatu 1 yang telah ditemukan dan teridentifikasi. Tujuh orang lainnya, yakni kapten Warta, pemandu Heriyanto, serta lima wartawan, masih belum ditemukan.