Menonton radio di TikTok: Siaran tidak mati, hanya pindah ke layar

Wait 5 sec.

• Radio bertransformasi di era digital lewat integrasi konten multiplatform.• Penyiar bergeser peran menjadi kreator konten dan pengelola komunitas.• Keunggulan radio terletak pada interaksi manusiawi dan kurasi personal.Dua dekade lalu, sebuah program radio hidup dan mati di frekuensi FM. Sementara itu, untuk menjadi pendengar, gawai yang kita pegang (ataupun jinjing) saat itu harus memiliki aplikasi radio. Kita pun tak bisa mendengarkan siaran ulangnya begitu segmen kesayangan kita berakhir.Kini, dua jam siaran pagi dapat dipecah menjadi clippers di TikTok dan Instagram reels. Ia juga dapat diunggah ulang sebagai konten podcast, ditayangkan langsung di YouTube, lalu dibicarakan kembali di grup komunitas pendengar. Salah satu segmen siaran Jak! 101 FM, radio lokal di Jabodetabek yang memuat obrolan bersama Andreas Taulany dan ditayangkan ulang di Youtube. Inilah lanskap multiplatform dari konten siaran radio zaman sekarang. Media sosial nyatanya tidak melahap audiens radio. Ia justru memperluas jangkauannya, membuatnya begitu cair dan dekat, tanpa kehilangan sentuhan “manusia”. Alhasil, dugaan banyak orang bahwa radio akan benar-benar mati di era “Spotify” hingga “TikTok” justru meleset. Di Amerika Serikat (AS), laporan iHeartMedia yang dirilis bulan lalu menemukan bahwa radio siaran masih menjangkau 90 persen remaja usia 13 – 19 tahun saban bulan—melampaui YouTube (75%), TikTok (58%), dan Spotify versi gratis (26%).Di Indonesia, angkanya tidak seheboh itu—cuma sedikit mirip. Survei GoodStats pada Oktober 2024 terhadap 500 kaum muda menemukan 52% masih mendengarkan radio setidaknya sekali dalam sebulan terakhir; hampir separuhnya lewat smartphone atau komputer, bukan lagi pesawat radio. Survei lain terhadap 223 pendengar radio digital pada 2025 menunjukkan mayoritas khalayak streaming justru Generasi Z (54,5%) dan milenial (25%). Lebih dari separuh di antaranya mengakses siaran lewat aplikasi saat bepergian.Lantas, ada apa di balik tren radio saat ini?Dari frekuensi ke banyak layarPergeseran terjadi karena berubahnya kebiasaan mengonsumsi media. Generasi Z tumbuh dengan konten yang fleksibel, personal, dan dapat diakses sesuai waktu mereka. Mereka tidak lagi duduk menunggu siaran dimulai, tetapi memilih kapan dan di mana mendengarkan. Baca juga: Kisah MTV: Si pendisrupsi yang akhirnya terempas Konsekuensinya langsung terasa di studio. Penyiar dituntut tidak hanya pandai bicara di depan mikrofon. Mereka juga perlu memahami cara kerja setiap platform: membuat konten video pendek, menyapa viewer di TikTok, dan membalas komentar khalayak media sosial.Artinya, peran penyiar saat ini telah bergeser dari pembawa acara menjadi kreator konten sekaligus pengelola komunitas digital.Risiko kehilangan identitasNamun, adaptasi ke banyak platform memiliki risiko tersendiri. Ketika seluruh proses siaran diarahkan sekadar untuk mengejar tayangan dan viralitas, radio dapat kehilangan kekhasannya. Tidak semua percakapan perlu dipotong menjadi klip 30 detik. Tidak semua penyiar perlu tampil seperti selebritas media sosial.Penelitian terhadap empat stasiun radio di Spanyol menunjukkan pola yang lebih tenang. Konten siaran diolah ulang secara sistematis menjadi podcast dan siaran on-demand, sehingga program yang sudah tayang di FM mendapat “hidup kedua” tanpa harus alih wahana. Bagi saya, upaya itu berbeda dari logika media sosial yang memotong siaran semata-mata agar viral. Yang bertahan justru potongan yang masih membawa rasa siaran aslinya: obrolan spontan, kedekatan penyiar, dan konteks lokal. Baca juga: Musik sebagai ‘ruang ketiga’: Menghubungkan global-lokal, menjembatani perbedaan Indonesia memiliki konteks tambahan. Di wilayah dengan jaringan internet yang belum stabil, frekuensi FM masih menjadi jalur utama informasi publik. Radio di daerah seperti ini tidak bisa langsung melompat ke TikTok tanpa kehilangan pendengar intinya.Penelitian saya juga menunjukkan bahwa strategi yang efektif berbeda di setiap konteks: kota besar mungkin lebih mengandalkan konten media sosial. Sementara wilayah dengan ikatan lokal kuat lebih membutuhkan suara penyiar, bahasa daerah, dan isu komunitas.Kedekatan lebih penting dari viralitasSebanyak 85% Gen Z mengaku merasa lebih bebas saat mendengarkan radio bersama orang lain. Sebab, lagu-lagu di radio dipilih oleh music director sehingga pendengar tidak sepenuhnya merasakan tekanan sosial terkait pilihan musik dan identitas diri.Tak heran, sebanyak 63% sering atau hampir selalu mendengarkan radio bersama orang lain. Baca juga: Membongkar fenomena Spotify Wrapped: apa yang terungkap dari kebiasaan kita mendengarkan musik? Pola mendengarkan bersama itu juga muncul pada radio lokal Indonesia. Kajian saya terhadap Radio Kotaperak Yogyakarta, sebuah stasiun radio swasta yang menerapkan pola media hiperlokal: memadukan siaran FM dengan YouTube dan podcast. Kekuatannya bukan viralitas nasional, melainkan kedekatan: logat dan humor Jawa, isu kota, serta ruang bagi pendengar untuk berkomentar, meminta lagu, memberi saweran digital saat siaran langsung, bahkan mengusulkan topik.Interaksi penyiar dan pendengar di era internet juga semakin cair. Sempat ada era saat audiens hanya bisa berinteraksi dengan mereka lewat telepon ataupun surat. Kini, pendengar bisa mengomentari langsung siaran penyiar melalui komentar di YouTube, berkirim emoji di TikTok, hingga berkirim meme lewat pesan WhatsApp. Akhirnya, radio bukan hanya berisi siaran searah, tetapi juga ruang ngobrol yang terasa dekat.Evolusi meredam kepunahanAngka pendengar radio konvensional memang terus menurun, tetapi itu belum tentu berarti radio kehilangan relevansinya. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya sekitar 9% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang mendengarkan siaran radio dalam seminggu terakhir. Sementara itu, laporan We Are Social mencatat rata-rata waktu mendengarkan radio sekitar 32 menit per hari. Namun, kekuatan radio tidak pernah terletak pada pemancarnya. Kekuatan itu terletak pada suara manusia yang terasa hadir dan kurasi segmen dan musik yang dipilih dengan pertimbangan. Radio juga mampu menciptakan rasa kebersamaan bagi orang-orang yang mendengarkan hal yang sama pada saat yang sama.Selama ketiga hal itu terjaga, radio bisa hadir di mana saja: di frekuensi FM, di layar ponsel, di telinga pengguna earphone di kereta, atau di ruang tamu lewat speaker pintar. Yang sedang terjadi saat ini bukanlah kepunahan, melainkan evolusi. Dan radio yang paling siap berevolusi adalah yang menjaga relevansi: dekat, spontan, dan manusiawi.Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian penulis yang dipublikasikan di Path of Science (2024) dan Jurnal Komunikasi Indonesia (2026). Penulis tidak menerima pendanaan dari pihak yang memiliki kepentingan komersial atas topik ini.