Pilu Nasib Sopir Dibakar Bos di Bali: Meninggal Dunia, Keluarga Berduka

Wait 5 sec.

Polisi mengamankan tempat kejadian perkara pembakaran sopir berinisial IGS (20) oleh bosnya yang berinisial IPCP (37) di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Jumat (18/9/2026). Foto: Polres KarangasemSopir truk yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya, IGS (20), meninggal dunia pada Jumat (25/9) pagi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah Denpasar."Benar, sekitar pukul 08.30 WITA saya dapat kabar IGS meninggal dunia. Saya ditelepon," kata Perbekel (Kepala Desa) Muncan tempat IGS tinggal, I Wayan Tunas, pada Jumat (25/9).Saat ini jenazah IGS masih berada di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Tunas menyebut, waktu pemulangan jenazah masih didiskusikan oleh pihak keluarga.Sebelumnya, IGS sempat berjuang dengan luka bakar 68 persen di tubuhnya yang didominasi di bagian dada. Dia dibakar oleh bosnya yang berinisial IPCP (37) pada Jumat (18/9) karena kurang membayar setoran sebesar Rp 8,5 juta.Pembakaran IGS membuat keluarga korban terpukul karena kesulitan menanggung biaya pengobatan yang tidak ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hal tersebut diakibatkan status IGS yang merupakan korban tindak kriminal.Biaya pengobatan mengandalkan donasi dari warga dan relawan komunitas. Hingga Kamis (24/9), jumlah yang terkumpul adalah Rp 35 juta. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari tagihan biaya pengobatan yang mencapai Rp 88 juta.Diketahui pula, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka sempat berdonasi kepada korban sebesar Rp 25 juta, yang ditransfer langsung ke rekening RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.Dokter: Paru-parunya Luka ParahKepala ICU Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, I Putu Kurniyanta, ketika ditemui di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar, Bali, Jumat (25/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparanKepala ICU Burns Unit RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, I Putu Kurniyanta, mengatakan kondisi IGS memburuk sejak sekitar pukul 07.00 WITA. Tim dokter sempat melakukan resusitasi jantung, tetapi tidak mendapat respons."Pagi tadi jam 07.00 WITA itu terjadi perburukan, kemudian kami telah lakukan pijat jantung juga. Namun, akhirnya kami menyatakan tidak ada respons dan meninggal. Tadi komunikasi kepada keluarga sekitar jam 07.51 WITA, kita nyatakan meninggal," kata Kurniyanta kepada wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9).IGS sebelumnya dirawat di rumah sakit tersebut sejak Jumat (18/9). Selama tujuh hari menjalani perawatan, kondisi IGS terus dipantau oleh tim dokter.Kurniyanta mengatakan salah satu kondisi yang memperburuk keadaan IGS adalah luka parah pada paru-paru akibat trauma inhalasi. Selain itu, IGS mengalami luka bakar lebih dari 50 persen pada tubuhnya."Meskipun kami sudah melakukan upaya maksimal, prognosisnya sedikit sulit karena luka bakarnya lebih dari 50 persen," jelasnya.Paru-paru IGS Luka Parah akibat Trauma InhalasiKondisi TKP kasus pembakaran sopir oleh bosnya di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Rabu (23/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparanKurniyanta menjelaskan IGS tiba di RSUP Prof. Ngoerah pada Jumat (18/9) sekitar pukul 19.00 WITA. Saat tiba, tim dokter langsung melakukan sejumlah tindakan, mulai dari resusitasi awal, pembersihan luka, hingga pengamanan jalan napas.Dokter juga mencurigai IGS mengalami trauma inhalasi akibat menghirup uap panas saat kebakaran. Kondisi tersebut dapat menyebabkan cedera pada saluran pernapasan dan paru-paru.Untuk mengamankan jalan napas, dokter melakukan intubasi dan memasang alat bantu napas yang disambungkan dengan ventilator."Kami takutkan karena biasanya hari ketiga sudah terjadi. Kami sudah melakukan tindakan awal untuk mengamankan jalan napasnya dengan memberikan alat bantu napas dan disambungkan dengan mesin ventilator. Kami sengaja untuk menidurkan agar oksigenasi dari mesin lebih maksimal," ucap Kurniyanta.Luka bakar yang dialami IGS meliputi wajah, leher, dada, punggung, tangan, hingga kedua kaki.Pada hari ketiga, dokter melanjutkan perawatan luka serta memberikan cairan dan antibiotik. Namun, pada hari keempat hingga keenam, kondisi IGS mengalami fluktuasi."Itu cenderung terjadi pada hari keempat hingga keenam. Terjadi guncangan hemodinamiknya karena memang uap panas yang masuk ke dalam saluran napas dan paru-parunya ini cukup melukai organ di dalamnya, sehingga banyak terjadi kerusakan di jalan napas dan paru-parunya," jelas Kurniyanta.Memasuki hari ketujuh, kondisi IGS semakin tidak stabil. Kerusakan pada paru-parunya membuat proses pertukaran oksigen terganggu."Sudah kami maksimalkan dengan mesin-mesin alat bantu napasnya, kemudian juga pemberian cairan. Mencegah infeksinya juga karena proteksi kulit yang terbuka 68 persen berisiko, sudah kami berikan juga antibiotika dan perawatan luka terus kami lakukan sambil menunggu respons dari tubuh pasien," ujarnya.Tim dokter juga sempat memberikan obat untuk menguatkan jantung IGS pada hari keenam. Namun, kondisi paru-paru dan jantungnya tetap mengalami gangguan sehingga tubuhnya tidak memberikan respons yang diharapkan.Pada akhirnya, IGS dinyatakan meninggal pada Jumat (25/9) pukul 07.51 WITA."Meskipun kami sudah berupaya maksimal dengan pemberian obat pacu jantung, tampaknya belum ada respons pada tubuh pasien ini," tambahnya.IGS Belum Sempat SadarKeluarga IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Karangasem, berada di Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparanKurniyanta mengatakan IGS belum sempat sadar selama menjalani perawatan di RSUP Prof. Ngoerah. Sejak awal, dokter sengaja memberikan obat tidur untuk membantu memaksimalkan penggunaan ventilator."Belum sempat sadarkan diri. Kalau kita sadar, ada rasa tidak enak, sehingga biasanya kami tidurkan, memberikan obat tidur untuk memaksimalkan oksigenasi dari mesin ke pasien," kata Kurniyanta.Dokter juga belum sempat melakukan operasi terhadap IGS. Tim medis lebih fokus melakukan perawatan luka dan memantau jaringan tubuh yang masih sehat untuk kemungkinan penanganan selanjutnya.Namun, kondisi IGS yang memburuk membuat rencana perawatan luka lanjutan belum sempat dilakukan."Rencananya hari ini kami lakukan rawat luka yang lebih luas lagi, tetapi kondisi sudah memburuk jadi belum sempat kami lakukan untuk perawatan luka yang kedua," ujarnya.Jenazah IGS Masih di Rumah SakitPolisi menangkap IPCP sebagai tersangka kasus pembakaran sopir truk galian di Karangasem. Foto: Dok. Satreskrim Polres KarangasemKurniyanta mengatakan pihak keluarga telah menerima penjelasan mengenai kondisi IGS pada Jumat (25/9) pagi.Jenazah IGS saat ini masih berada di Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk proses administrasi kepulangan.Pihak rumah sakit menyebut biaya perawatan IGS mencapai Rp 98 juta per Jumat (25/9)."Dari rumah sakit tetap kami berikan secara maksimal," ucap Kurniyanta.Keluarga TerpukulI Komang Kartika, sepupu dari IGS, sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Karangasem, ketika ditemui di depan Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparanMeninggalnya IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Bali, menyisakan kesedihan yang mendalam di hati keluarganya. IGS meninggal dunia di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar pada Jumat (25/9) pukul 07.51 WITA setelah dirawat intensif selama 1 minggu.I Komang Kartika, sepupu dari IGS, mengungkap keluarga merasa sedih begitu mendapatkan berita duka tersebut. Ibu IGS langsung menangis mendengar kabar tentang meninggalnya putra pertamanya."Selaku sepupunya sangat sedih kehilangan dia. Terutama ibunya, sedih sekali. Karena ini anak pertamanya, masih bujang juga. Sangat sedih kehilangannya," kata Kartika ketika diwawancarai wartawan di depan Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9).Kartika mengungkap, IGS merupakan tulang punggung keluarga. Ibunya adalah seorang pedagang yang bekerja menjual makanan dan minuman ketika sedang ada upacara adat. Ayah IGS adalah buruh harian dan seorang petani.Sejak IGS dirawat intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Kartika menemani ibu IGS. Mereka setia menunggu hingga IGS kembali sembuh, walaupun takdir berkata lain."Saya setiap harinya menemani ibunya di sini," ujarnya.Kartika menambahkan, jenazah IGS masih harus dititipkan di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk menjalani autopsi dari kepolisian. Jenazah tersebut juga akan dibawa ke mesin pendingin (freezer) hingga kepulangannya yang direncanakan pada 6 Oktober."Sekarang masih dirundingkan di rumah, di mana enaknya mau diadakan (upacara adat kematian), terus tadi disuruh dipulangkan tanggal 6 (Oktober) begitu," ujarnya.Sementara itu, untuk melunasi biaya pengobatan IGS, keluarga masih mengandalkan donasi dari yayasan dan warga sekitar. Kartika mengatakan, Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, sempat memberikan donasi sebesar Rp 25 juta ke pihak rumah sakit."Dari Wapres ada Rp 25 juta, kalau yang kita dari donasi teman-teman, dari keluarga, itu sekitar Rp25 juta sekian. Belum dari koperasi dan teman-teman yang lain," tambah Kartika.