Guruh Soekarnoputra: Antara Putra Presiden, Gamelan, dan Seni Tari Tradisional

Wait 5 sec.

Guruh Soekarnoputra di Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis (20/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparanIstana Merdeka, 13 Januari 1953, Muhammad Guruh Irianto Soekarno Putra lahir saat ayahnya, Soekarno, masih menjabat sebagai presiden. Ia adalah anak bungsu dari pernikahan Soekarno dengan Fatmawati. Soekarno mungkin lebih erat dikenal sebagai proklamator dan politisi handal. Tetapi, di balik itu semua, ia adalah seorang seniman, sastrawan, dan kolektor yang tak bisa diremehkan. Sedangkan Fatmawati adalah seorang penari, musisi, penyanyi, dan pencipta lagu “Buah Hati Pengarang Jantung”.Maka tak heran jika Guruh kecil sudah menunjukkan bakat dan minat yang begitu besar kepada dunia seni dan sastra. Saat masih balita, Guruh dan kakak-kakaknya mulai mendalami tarian tradisional dari Jawa, Sunda, Bali, hingga Minang. Begitu masuk SD, Guruh mengumpulkan beberapa temannya di Sekolah Rakyat Perguruan Cikini yang punya minat serupa dan membentuk kelompok musik. Kelompok inilah yang membuat nama Guruh semakin dikenal tak cuma sebagai anak presiden tapi juga musisi cilik karena beberapa kali tampil di TVRI.Soal seni, Guruh tak pernah main-main. Ia serius mengasah bakatnya dengan beguru ke sejumlah maestro. Mulai dari I Wayan Diya, Anak Agung Oka, Mochtar Embut, hingga Ismail Marzuki. Di tahun 1970, Guruh membentuk band The Flower Poetman dan kerap berkumpul bersama seniman-seniman lain di Taman Ismail Marzuki.Kepergian Soekarno dan Debut Guruh GipsyGuruh Soekarno Putra. Foto: Munady21 Juni 1970, Soekarno wafat karena komplikasi penyakit ginjal akut di usia 69 tahun. Ekonomi keluarga Guruh merosot drastis. Rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, harus dikontrakkan ke sebuah perusahaan untuk membiayai hidup dan membayar kuliah arkeologi Guruh di Universiteit van Amsterdam.Di negara kincir angin ini, Guruh harus bertahan hidup seperti anak kos lainnya dengan uang saku pas-pasan. Untuk mendapat uang tambahan, ia mulai mengajar gamelan dan tari bali. Guruh juga aktif menjadi anggota gamelan Jawa-Bali di Tropen Museum Amsterdam.Sebenarnya meski tinggal di dalam istana, tapi kehidupan rakyat biasa bukan hal asing bagi Guruh. Saat kecil, gazebo yang berada di antara halaman Istana Merdeka dan Istana Negara dijadikan TK tempat anak-anak pegawai di Istana bersekolah. Mulai dari anak tukang kebun, koki, pelayan istana, menteri, hingga duta besar bersekolah di tempat yang sama.Kedekatan Guruh dengan alam pikiran rakyat mungkin juga terbawa oleh Suminah Sastrowijoyo, istri ningrat Keraton Surakarta yang memang ditugaskan untuk mengasuhnya. Dari Nek Joyo--panggilan Guruh ke Suminah--Guruh juga belajar soal kesetiaan serta pengabdian kepada bangsa dan negara. Tema yang kerap muncul dalam karya-karyanya.Meski sudah kuliah sambil bekerja, kondisi finansial membuat Guruh tak tuntas studinya. Ia kembali ke Indonesia dan fokus berkarier di dunia musik serta seni gerak. Tahun 1976, lagu ciptaan Guruh, "Renjana" memenangkan Festival Lagu Pop Tingkat Nasional dan mewakili Indonesia di World Song Festival di Tokyo, Jepang.Sekembalinya dari Belanda, Guruh bertemu dengan Chrisye dan Keenan Nasution yang merupakan teman lamanya. Mereka kemudian membentuk "Guruh Gipsy", proyek eksperimen yang memadukan gamelan dengan musik barat. Guruh sebagai pemain gamelan dan piano, Keenan di drum dan vokal, Chrisye di vokal dan bass, Roni Harahap di keyboard dan piano, Oding Nasution di gitar, dan Abadi Soesman di synthesizer.Album Guruh Gipsy meledak di pasaran dan jadi tonggak musik pop Indonesia kala itu. Nama Guruh sebagai musisi dan pencipta lagu semakin dikenal. Lagu-lagunya yang lain bahkan masih abadi dan terus diperdengarkan hingga saat ini, seperti "Galih dan Ratna", " Gita Cinta", hingga "Melati Suci".Guruh Soekarno Putra. Foto: MunadyGuruh juga sempat diminta melatih kelompok-kelompok vokal anak muda yang kala itu memang sedang menjamur. Ia mulai merombak kebiasaan regu vokal yang awalnya cuma mengandalkan tarik suara saja, tanpa memikirkan koreografi saat tampil.Kemudian ia membentuk Swara Maharddhika yang diambil dari bahasa Kawi, yang berarti suara yang berkuasa, suara yang merdeka. Kelompok inilah yang jadi wadah Guruh mewujudkan impiannya di dunia seni. Di sini, para pemuda tak cuma belajar seni, tapi juga mendalami soal kenegaraan. Tahun 1979, Swara Maharddhika menampilkan "Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra" di Taman Fatahillah dan TIM. Ini adalah variety show spektakuler pertama yang dibuat oleh pribadi di Indonesia. Guruh juga jadi satu-satunya anak Sukarno yang tampil di pentas nasional bukan politik di era kepemimpinan Suharto.Acara ini sukses besar. Guruh lalu membuat pertunjukan yang lebih grand lagi di tahun-tahun berikutnya, mulai dari "Untukmu Indonesiaku" (1980), "Cinta Indonesia" (1984), "Gilang Indonesia Gemilang" (1986), dan "Gempita Swara Mahardhika" (1987).Tak hanya bermusik di atas panggung, Guruh juga mengembangkan sayyapnya ke dunia perfilman. Ia ikut andil sebagai penata musik di film "Ali Topan: Anak Jalanan" (1977), dan bermain sebagai Sunan Muria di film "Wali Songo" (1985).Kini Guruh Soekarno Putra, si seniman serba bisa itu telah tiada. Ia wafat pada Sabtu (26/9) setelah sempat dirawat di RS Siloam.Selamat jalan, Guruh. Meski ragamu telah pergi, namun karya-karyamu akan tetap abadi menggaungkan keindahan tanah Ibu Pertiwi.