Ragam Cara Gen Z Siasati Kebiasaan Nongkrong di Tengah Naiknya Biaya Hidup

Wait 5 sec.

Ilustrasi nongkrong sambil minum kopi. Foto: Shutter StockBiaya hidup yang terus meningkat jadi tantangan bagi masyarakat. Terlebih Generasi Z (Gen Z) yang sebagian masih berstatus mahasiswa atau baru memasuki dunia kerja.Kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari membuat sebagian dari mereka perlu lebih selektif dalam mengatur pengeluaran. Namun, di tengah tuntutan untuk berhemat, aktivitas gaya hidup seperti makan di luar, nongkrong, hingga rekreasi masih menjadi bagian dari keseharian sebagian Gen Z. Bukan sepenuhnya menghilangkan pengeluaran tersebut, sebagian memilih menyesuaikan cara mereka menikmatinya, seperti memilih opsi yang lebih terjangkau.Hal itu salah satunya dilakukan Joceline, mahasiswi yang juga merupakan bagian dari Gen Z. Ia mengaku tetap menyempatkan diri nongkrong, terutama di kedai kopi. Namun, pilihan tempat dan merek kopi disesuaikan dengan kondisi keuangannya.“Kalau aku, kayaknya paling kelihatan dari jenis kopi. Waktu masih siswa, biasanya beli kopi bermerk atau yang mahal-mahal itu masih merasa, ah yaudah lah,” kata Joceline.Memasuki masa kuliah, Joceline mulai mengubah kebiasaan tersebut. Jika sebelumnya memilih merek kopi tertentu, kini ia lebih sering mencari pilihan yang harganya lebih terjangkau.“Pas mau masuk kuliah, setiap minggu kita ganti mereknya. Bukan yang lebih mahal, jadi lebih murah. Agak di-setting gitu, biar tetap bisa jalan, nongkrong, tapi kuliahnya juga tetap aman,” ujarnya.Joceline mengungkapkan kebiasaannya mengunjungi coffee shop atau sesekali jalan-jalan ke mal merupakan salah satu cara memberikan apresiasi ke diri sendiri atau yang lebih dikenal dengan self reward.“Kalau jalan-jalan kadang ke mal, kadang ke coffee shop. Tapi lebih sering ke coffee shop karena yang terdekat biasanya itu,” katanya.Ilustrasi nongkrong di kafe. Foto: ShutterstockCerita serupa datang dari Dhavin, mahasiswa yang juga bekerja sebagai videografer lepas. Baginya, aktivitas nongkrong terkadang sekaligus menjadi bagian dari pekerjaan.“Sekarang kuliah sambil kerja juga, ngedit videografer. Jadi sambil nongkrong juga,” ujar Dhavin.Berbeda dengan Joceline yang menyesuaikan pilihan tempat dan harga, Dhavin mengaku tidak secara khusus menetapkan anggaran untuk kebutuhan gaya hidup seperti nongkrong maupun jalan-jalan.“Kalau dari aku enggak sih,” ujar Dhavin.Sementara itu, Gen Z lainnya, Anggun, memilih memberikan batas pengeluaran. Ia mengalokasikan sekitar Rp 100.000 per minggu untuk kebutuhan nongkrong dan jalan-jalan.Perubahan Pola KonsumsiPengamat Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebiasaan Gen Z membelanjakan uang untuk kuliner, nongkrong, konser, maupun perjalanan singkat tidak semata-mata berkaitan dengan gaya hidup.Menurutnya, fenomena tersebut juga mencerminkan perubahan pola konsumsi. Ketika sebagian anak muda menghadapi keterbatasan untuk memiliki aset seperti rumah atau kendaraan, pengeluaran untuk pengalaman menjadi bentuk konsumsi yang lebih mudah dilakukan.“Pengeluaran untuk pengalaman menjadi bentuk konsumsi yang lebih mudah dilakukan sekaligus tetap menggerakkan sektor jasa,” kata Yusuf.Menurut Yusuf, uang yang dikeluarkan Gen Z ketika nongkrong atau menikmati hiburan tidak berhenti di kafe maupun tempat rekreasi. Pengeluaran tersebut kemudian berputar ke berbagai sektor, mulai dari pekerja, UMKM, restoran, transportasi, penyelenggara acara, hingga industri kreatif.Namun, menurut Yusuf, tetap ada batas yang perlu diperhatikan. Persoalannya bukan ketika Gen Z mengeluarkan uang untuk menikmati hidup. Masalah muncul ketika pengeluaran tersebut mulai dibiayai dengan utang.“Masalahnya bukan Gen Z suka spending, tetapi ketika spending untuk pengalaman mulai dibiayai dengan utang. Kalau nongkrong hari ini dibayar dengan paylater dan cicilannya mengambil pendapatan bulan depan, berarti kita sedang memindahkan konsumsi sekarang ke beban masa depan,” ujarnya.Yusuf menilai literasi keuangan bagi Gen Z tidak seharusnya diterjemahkan sebagai larangan untuk menikmati hasil kerja. Akan tetapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk membedakan alokasi uang berdasarkan kebutuhan. Mulai dari uang untuk kebutuhan sehari-hari, dana untuk menghadapi kondisi darurat, uang untuk menabung atau investasi, hingga anggaran untuk menikmati hasil kerja.Ia juga menilai tidak ada satu rumus pembagian pendapatan yang bisa diterapkan secara kaku kepada seluruh Gen Z. Kondisi pendapatan, kebutuhan, dan tanggungan setiap orang berbeda. Yang terpenting adalah memiliki batas pengeluaran yang jelas dan memastikan aktivitas untuk menikmati pengalaman tidak mengganggu kebutuhan yang lebih mendasar.Dengan demikian, fenomena Gen Z yang tetap nongkrong di tengah biaya hidup yang meningkat tidak selalu bisa dilihat sebagai perilaku konsumtif semata. Di satu sisi, aktivitas tersebut menjadi bagian dari cara anak muda menikmati hidup sekaligus menggerakkan sektor jasa. Di sisi lain, kebiasaan tersebut tetap membutuhkan pengelolaan keuangan agar tidak berubah menjadi beban.“Ekonomi pengalaman bisa menjadi mesin pertumbuhan ketika dibiayai oleh pendapatan. Ia menjadi masalah ketika dibiayai oleh kerapuhan finansial,” ujar Yusuf.Yusuf mengungkapkan, ketidakstabilan ekonomi saat ini bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Justru yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk menikmati hidup tanpa mengorbankan masa depan. Self reward seharusnya menjadi hasil dari pengelolaan uang yang sehat, bukan alasan untuk menambah utang.