● Karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu ruang hidup kebudayaan lokal.● Kerusakan ekosistem membatasi ruang berkumpul dan akses material tradisi, sehingga mengancam pewarisan pengetahuan.● Pemulihan karhutla harus mencakup memulihkan ekosistem yang menopang kehidupan budaya masyarakat.Selasa (15/9), sebuah balasan pesan masuk di aplikasi WhatsApp saya. Pesan tersebut dari Herman, seorang musisi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.“Iya, kebakarannya masih di daerah Kotamadya. Alhasil asapnya juga menjalar ke dalam kota, sore kayak gini tuh biasanya mulai menebal. Di daerah lingkar luar (jalur jalan di luar Kota Palangka Raya) sih kebanyakan (terjadi kebakaran lahan), dan bisa dilihat langsung dari pinggir jalan,” tulisnya.Balasan dari Herman tersebut mengingatkan saya pada suatu pagi di 2015, saat saya berdiri di tengah lahan gambut di Kelurahan Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit, Kalimantan Tengah, dengan dada sesak. Masker N95 yang saya kenakan tidak membuat saya sepenuhnya terlindungi. Bau asap tetap terasa, tenggorokan perih, dan setiap tarikan napas terasa berat.Namun, yang paling saya ingat dari 2015 bukan hanya sesaknya, melainkan bagaimana peristiwa tersebut perlahan mengubah ruang gerak masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Video penulis saat menjadi relawan di Kalimantan Tengah pada kebakaran 2015. Pada tahun 2015, sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar di Indonesia. Bank Dunia memperkirakan kerugiannya mencapai US$16,1 miliar (sekitar Rp283,46 triliun dengan nilai tukar hari ini). Selain yang bisa didata oleh angka, Karhutla juga menghancurkan hal-hal yang tidak tampak, semisal ruang untuk bertemu dan berkesenian. Di titik ini, karhutla bukan hanya krisis ekologis dan kesehatan, tetapi juga dapat menjadi krisis ruang hidup kebudayaan.Budaya membutuhkan tempatSaya pertama datang ke Kalimantan Tengah pada tahun 2014 untuk mempelajari masyarakat, bahasa, dan musik Dayak Ngaju dan Katingan. Saya mengenal wilayah itu melalui perjalanan antarkampung, percakapan, sungai, hutan, dan bunyi-bunyi musik.Ketika asap datang pada 2015, ruang hidup yang sama tiba-tiba menyempit. Tahun 2026 ini, karhutla menimbulkan efek serupa. Terlebih, per 8 September 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 105.019 titik panas sejak awal tahun, 2.775 kejadian karhutla, dan lebih dari 9.169 hektare area terbakar berdasarkan laporan lapangan. Sebagai etnomusikolog, pengalaman lapangan membuat saya percaya bahwa musik tidak muncul dari ruang kosong. Orang mempelajarinya dari orang lain, pada waktu tertentu, bersama orang tertentu, di tempat tertentu.Instrumen membutuhkan material. Pertunjukan membutuhkan pertemuan. Pengetahuan membutuhkan kesempatan untuk dipraktikkan.Dengan kata lain, budaya membutuhkan infrastruktur.Kita biasanya menggunakan istilah infrastruktur untuk jalan, jembatan, listrik, atau internet. Namun, hutan, sungai, kebun, halaman rumah, jalur perjalanan, dan ruang komunal juga dapat menjadi infrastruktur kehidupan budaya: tempat orang bertemu, mengingat, belajar, dan meneruskan pengetahuan.Ketika lanskap rusak, persoalannya bukan hanya “kegiatan budaya terganggu”. Yang berubah adalah kondisi yang memungkinkan kehidupan budaya tersebut berlangsung.Mendengarkan yang tidak lagi terdengarSteven Feld, seorang antropolog dari Amerika Serikat (AS) yang dikenal melalui kajiannya tentang suara dan musik, menggunakan konsep “acoustemology” untuk menunjukkan bahwa suara bukan hanya sesuatu yang kita dengar. Mendengar dan menghasilkan suara juga merupakan cara manusia mengenali, mengalami, dan membangun hubungan dengan tempat. Pemikirannya lahir dari penelitian di lingkungan hutan Papua Nugini–tempat suara manusia, hewan, air dan hutan saling terkait dalam kehidupan sehari-hari.Dari perspektif ini, kebakaran tidak hanya menghilangkan bunyi tertentu, tetapi juga dapat mengubah hubungan yang memungkinkan bunyi-bunyi itu muncul.Apa yang terjadi ketika asap membuat orang tidak dapat berkumpul? Bagaimana praktik musik berubah ketika ruang pertemuan tidak lagi nyaman atau aman? Apa yang terjadi pada ritual yang membutuhkan perjalanan menuju tempat tertentu? Dan bagaimana pengetahuan musikal diwariskan ketika kesempatan untuk hadir bersama semakin berkurang?Jeff Todd Titon, etnomusikolog asal AS yang banyak mengkaji musik, budaya, dan keberlanjutan, mengusulkan agar keberlangsungan musik dipahami secara ekologis: musik tidak berdiri sendiri, tetapi hidup dalam jaringan yang mencakup manusia, komunitas, proses transmisi, institusi, lingkungan, dan berbagai kondisi yang menopangnya.Dengan kata lain, mempertahankan sebuah lagu tidak sama dengan mempertahankan seluruh jaringan kehidupan yang memungkinkan lagu itu terus dinyanyikan.Memulihkan hutan berarti memulihkan budayaSalah satu pelajaran penting dari karhutla 2026 adalah bahwa api tidak dapat dipahami hanya sebagai akibat musim kering. Kerusakan gambut, kanal yang mengeringkan tanah, dan perubahan bentang alam membuat sebagian wilayah jauh lebih mudah terbakar.Karena itu, pencegahan harus bergerak ke hulu: melindungi gambut, menjaga muka air, menyekat kanal yang mengeringkannya, memulihkan vegetasi, dan menegakkan hukum terhadap pihak yang gagal melindungi lahan. Tetapi restorasi juga perlu dipahami lebih luas.Jika lanskap adalah infrastruktur kehidupan budaya, maka keberhasilan pemulihan tidak cukup diukur dari berapa hektare yang kembali basah atau berapa titik panas yang berkurang. Pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, peneliti, dan komunitas juga perlu memetakan ruang berkumpul yang hilang, jalur yang tidak lagi dapat digunakan, bahan-bahan budaya yang semakin sulit diperoleh, serta praktik dan pengetahuan yang terdampak.Mungkin tolok ukur keberhasilan kita yang perlu diubah. Bukan hanya: berapa luas hutan yang berhasil diselamatkan? Tetapi juga: kehidupan seperti apa yang masih mungkin dijalankan di dalamnya?Sebab ketika lanskap terus terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya hutan hari ini—tapi juga kemungkinan budaya di masa depan.Muhammad Rayhan Sudrajat tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.