Dokter Umum, dr. Gia Pratama dalam acara Press Conference #BeUnstoppable 50 Years Stories for Indonesia di Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparanDokter sekaligus influencer dr. Gia Pratama dikenal publik sebagai dokter yang soft spoken, baik hati, namun juga bermental tangguh alias resilince.Apa sebenarnya kunci parenting dari orang tua dr. Gia?Nah Moms, dalam podcast bersama keluarganya, adik dr Gia membeberkan kebiasaan yang diterapkan orang tuanya sejak kecil sehingga membangun mental yang tangguh. Meski keluarganya bertaraf ekonomi menengah ke atas, mereka tidak pernah diantar-jemput ke sekolah. Setiap hari, dr Gia dan adiknya naik angkot sendiri. Cerita ini jadi pengingat menarik soal bagaimana orang tua bisa membentuk anak yang tangguh menghadapi hidup — bukan lewat kemewahan, tapi lewat kepercayaan bahwa anak mampu menjalani tantangannya sendiri.Lantas, apa sebenarnya yang dibangun lewat cara ini, dan bagaimana Moms bisa menerapkannya di rumah?Bukan Sekadar "Tahan Banting", tapi ResiliensiPsikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi.,Psi., Foto: Dok. PribadiPsikolog klinis anak dan keluarga, Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa dalam psikologi perkembangan, istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan kemampuan ini adalah resiliensi dan regulasi diri."Resiliensi dipahami sebagai proses adaptif yang memungkinkan seseorang mempertahankan atau memulihkan fungsi psikologis ketika menghadapi stres atau adversity," ujarnya. Anak yang resilien, menurut Vera, bukan anak yang tidak pernah sedih, takut, kecewa, atau gagal — melainkan anak yang secara bertahap belajar menghadapi pengalaman tersebut dan kembali berfungsi.Manfaatnya cukup luas bagi tumbuh kembang anak: mulai dari kemampuan menunda kepuasan, mengelola frustrasi, mempertahankan usaha ketika sesuatu tidak langsung berhasil, memecahkan masalah, hingga berani meminta bantuan saat memang diperlukan. Menurut Vera, semua ini berkaitan erat dengan perkembangan fungsi eksekutif dan regulasi diri anak.Nggak Harus Lewat Hidup Serba SederhanaIlustrasi keluarga bahagia. Foto: ShutterstockCara orang tua dr. Gia membiasakan anak naik angkot memang bisa jadi salah satu cara mengajarkan tanggung jawab dan rasa syukur. Tapi Vera mengingatkan, resiliensi sebetulnya bisa dibangun lewat berbagai kondisi, termasuk pada anak yang hidup berkecukupan.Misalnya, anak tetap perlu merapikan barangnya sendiri, menunggu giliran, menerima bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi, menyelesaikan tugas yang sesuai kapasitasnya, menghadapi kekalahan dalam permainan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, atau mencoba kembali setelah gagal.Hati-hati, Ini Bisa Jadi BumerangNah Moms, jika Anda tertarik mencoba menerapkan gaya hidup lebih sederhana ke anak, seperti yang dilakukan orang tua dr. Gia, Vera mengingatkan satu hal penting: pastikan tantangan yang diberikan tetap sesuai dengan tahap perkembangan anak, bukan sekadar sengaja membuat anak susah.Sebab, jika kesulitan diciptakan padahal sebenarnya tidak diperlukan, dampaknya bisa jadi bumerang. Anak berisiko merasa diabaikan atau kekurangan kasih sayang, alih-alih tumbuh menjadi pribadi yang tangguh."Jadi prinsipnya bukan buat anak susah supaya kuat, melainkan orang tua tidak selalu menghilangkan kesulitan yang sebenarnya mampu dihadapi anak," tegas Vera. Ia menambahkan, tantangan yang diberikan sebaiknya tetap developmentally appropriate, bertahap, dan berada dalam konteks relasi yang aman dengan orang tua.Contoh Praktis untuk Balita dan Anak SD AwalIlustrasi anak merapikan tempat tidur. Foto: Odua Images/ShutterstockUntuk anak usia balita hingga SD awal, Vera menyarankan agar konsep resiliensi dikenalkan lewat pengalaman sehari-hari yang kecil, berulang, dan konkret — bukan lewat penjelasan abstrak seperti "kamu harus kuat". Beberapa contohnya:1. Jangan terlalu cepat menyelesaikan semua masalah anak. Biarkan anak memahami bahwa kesulitan bukan berarti dirinya tidak mampu.2. Latih toleransi anak terhadap frustrasi secara bertahap.3. Beri anak tanggung jawab kecil atas pilihan-pilihan yang ia buat sendiri.4. Berikan tantangan yang sedikit di atas zona nyaman anak, bukan jauh melebihi kemampuannya.5. Latih anak agar mampu meminta bantuan atau pertolongan saat memang membutuhkannya.