IDAI: PM2,5 dari Asap Karhutla 10x Lebih Berbahaya dari PM2,5 Sumber Lain

Wait 5 sec.

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTOKetua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menyatakan keprihatinannya terhadap dampak karhutla bagi kesehatan anak Indonesia. Menurut data Kemenkes per 9 September 2026, setidaknya sudah ada lebih dari 113 ribu warga yang terinfeksi ISPA akibat karhutla, dan sekitar 26 ribu di antaranya adalah balita."Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak dan kelompok rentan," kata dr Piprim dalam siaran pers yang diterima kumparanMOM, Sabtu (26/9)."Partikel ini dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, serta sistem pernapasan dan imunnya yang masih berkembang," imbuhnya.Dokter memeriksa anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTOKetua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K) menambahkan bahwa dampak karhutla terhadap kesehatan pernapasan anak tidak dapat dianggap remeh. "PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi. Dampak terbesar terutama pada anak usia dibawah 5 tahun," kata dr. Wahyuni."Meta-analisis mencatat setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma," urainya.Lebih lanjut, dr. Wahyuni menegaskan bahwa asap karhutla tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga dapat menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya. "Anak dengan penyakit jantung bawaan, atau dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan akibat paparan asap. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," tambahnya.Bahaya Karhutla bagi AnakSejumlah anak melihat kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTOKarhutla adalah peristiwa terbakarnya vegetasi hutan dan/atau lahan yang menghasilkan kabut asap tebal, kemudian tersebar mengikuti arah angin dan dapat mencemari udara hingga ratusan kilometer dari sumber kebakaran. Bagi anak-anak, kondisi ini berarti kualitas udara yang mereka hirup sehari-hari baik di dalam maupun luar rumah dapat memburuk secara signifikan dalam waktu singkat, bahkan di wilayah yang jauh dari titik kebakaran itu sendiri.Asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5 dan PM10) berdiameter ≤2,5 mikron yang cukup kecil untuk menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah, serta gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) hasil pembakaran biomassa. Karhutla tahun ini diperarah oleh fenomena El Niño dan kekeringan yang meluas, termasuk terbakarnya lahan gambut tropis yang sulit dipadamkan dan dapat terus membara dalam waktu lama, sehingga anak-anak di wilayah terdampak berisiko mengalami paparan asap secara berulang dan berkepanjangan, bukan hanya sesaat.