Tak Cuma Angkut Koper, Porter Gambir Ini Pernah Gendong Bayi hingga Penumpang

Wait 5 sec.

Ahmad (25), seorang porter yang telah bekerja sekitar empat tahun di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanBagi Ahmad, menjadi porter di Stasiun Gambir bukan sekadar membantu penumpang membawa koper dan barang bawaan. Selama empat tahun bekerja, porter berusia 25 tahun itu sudah mengalami berbagai kejadian tak terduga, termasuk menggendong bayi hingga seorang penumpang dewasa.Salah satu pengalaman yang paling diingat Ahmad terjadi ketika seorang penumpang hampir tertinggal kereta tujuan Bandung. Di tengah situasi terburu-buru, Ahmad justru diminta bukan untuk membawa barang, melainkan menggendong bayi milik penumpang tersebut.Saat berada dalam gendongannya, bayi itu buang air besar hingga mengenai tangan Ahmad.“Paling berkesan, saya pernah gendong adik bayi mau ketinggalan sampai berak-berak di tangannya,” kata Ahmad saat ditemui kumparan di Stasiun Gambir, Sabtu (26/9).Ahmad mengaku saat itu hanya bisa menerima kejadian tersebut. Setelah selesai membantu penumpang, ia langsung membersihkan diri.“Ya sudah, gimana? Enggak apa-apa, pulang langsung, ya bersihin,” katanya.Suasana aktivitas porter pada akhir pekan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanPengalaman lain terjadi ketika Ahmad membantu seorang perempuan yang terjatuh di dekat jalur pejalan kaki saat keretanya hampir berangkat.Perempuan tersebut hendak menghadiri 100 hari ayahnya. Karena kereta segera berangkat, Ahmad diminta menggendong penumpang tersebut hingga ke peron.“Kereta mepet, jatuh. Nah, minta digendong. Aku gendong sampai atas,” kenang Ahmad.Bagi Ahmad, membantu penumpang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai porter. Ia berusaha tetap memberikan pelayanan dengan baik, termasuk ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.“Ya sebisa mungkin berguna buat orang lain,” ujar dia.Beragam pengalaman itu menjadi bagian dari keseharian Ahmad sebagai porter di Stasiun Gambir. Ia telah menekuni profesi tersebut selama empat tahun.Sebelum menjadi porter, Ahmad pernah bekerja di proyek bagian pipa dan elektrik. Namun, ia memutuskan beralih menjadi porter karena pekerjaan proyek, menurutnya, bergantung pada kontrak.“Kalau proyek kan habis, nyari lagi. Kalau ini (porter) ya bebas kayak gitu enak,” ucap Ahmad.Suasana aktivitas porter pada akhir pekan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanPenghasilan Ahmad sebagai porter juga bergantung pada jumlah penumpang yang menggunakan jasanya. Saat ditemui kumparan, ia mengaku telah membantu mengangkut barang lima penumpang dan memperoleh sekitar Rp 140 ribu.“Kalau penghasilan itu relatif, soalnya kan beda orang. Maksudnya ada yang banyak, ada yang dikit, enggak tentu,” jelasnya.Menurut Ahmad, porter biasanya lebih sibuk pada pagi hari, terutama pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.“Ibaratnya orang pergi ya sekalian pagi, kalau siang kan nanggung, kalau agak ramai nanti malam paling,” terang Ahmad.“Soalnya keretanya mepet, maksudnya banyak kereta, jaraknya sebentar-sebentar paling 15 menit,” sambungnya.Hari kerja Ahmad juga menyesuaikan kondisi stasiun. Ia biasanya mulai bekerja sekitar pukul 08.00 WIB. Ketika penumpang mulai sepi, ia dapat beristirahat dan kembali bekerja saat suasana ramai.Selain membantu membawa barang, Ahmad dan porter lainnya turut menjaga kebersihan area stasiun. Kegiatan menyapu dilakukan secara bergantian pada siang dan malam hari.“Jadi kalau porter, dua kali kerja bakti, ada yang siang dan ada yang malam. Jadi biar lingkungannya selalu bersih, kan nyaman buat penumpang juga,” jelasnya.Selama empat tahun menekuni profesi porter, pencapaian terbesar yang Ahmad rasakan adalah bisa menyicil rumah di kampung halamannya. Hal itu yang membuatnya terus menjalani profesi tersebut.“Kalau planning ya sudah pasti ingin sama keluarga terus, selalu sama anak, sama istri. Kalau untuk saat ini ya dijalanin dulu aja,” harapnya.Kisah Warsito, Sedekade Jadi Porter di GambirWarsito (34), seorang porter yang telah bekerja sekitar empat tahun di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanPengalaman menghadapi beragam penumpang juga menjadi bagian dari keseharian Warsito (34), porter yang telah bekerja selama 10 tahun di Stasiun Gambir.Sama seperti Ahmad, Warsito sebelumnya bekerja di sebuah proyek. Ia mulai menggeluti profesi porter setelah menikah.Dalam satu giliran kerja, Warsito bertugas pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Ia menjelaskan terdapat sekitar 240 porter yang dibagi ke dalam dua kelompok giliran kerja.“Jadi satu shift-nya ada 120 orang,” jelas Warsito.Penghasilan yang diperoleh Warsito juga tidak selalu sama. Dalam satu giliran kerja, pendapatannya biasanya sekitar Rp200.000.Saat stasiun ramai, jumlah tersebut bisa meningkat. Ia mengaku pernah memperoleh hingga Rp500.000 pada masa liburan atau Lebaran.Untuk menentukan tarif jasa, Warsito mengandalkan aplikasi e-Porter yang disediakan KAI Wisata. Melalui aplikasi tersebut, porter memiliki acuan tarif berdasarkan jumlah dan ukuran barang bawaan penumpang.“Per dua barang kalau lumayan besar itu Rp38.000,” kata Warsito.Jika barang bawaan lebih banyak, tarif biasanya dibicarakan kembali dengan penumpang. Sementara barang berukuran kecil tidak selalu masuk hitungan.Di tengah pekerjaannya, Warsito harus menghadapi beragam karakter penumpang. Ada yang ramah, tetapi tak jarang pula ada penumpang yang sulit diajak bekerja sama.“Tantangan terbesarnya ya kita harus siap ngadepin orang yang berbagai macam karakter. Kadang ada penumpang yang galak, ada penumpang yang rewel, ada penumpang yang seperti apa, kita sudah ketemu semua,” bebernya.Suasana aktivitas porter pada akhir pekan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanSalah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika seorang penumpang tidak bersedia menunjukkan tiket, meski Warsito telah menanyakan nama kereta yang akan dinaiki. Penumpang tersebut menyebut nama kereta yang berbeda dari tiketnya sehingga Warsito mengantarkannya ke jalur yang keliru.Warsito menerangkan, porter sebenarnya diwajibkan memeriksa tiket agar penumpang tidak salah menuju kereta. Namun, ada penumpang yang merasa sudah terbiasa bepergian dengan kereta sehingga keliru menyebut nama perjalanan.Dalam beberapa kasus, kesalahan informasi itu berujung pada penumpang tertinggal kereta.“Otomatis kita ganti tiket kereta, padahal sebenarnya kan murni bukan kesalahan kita gitu. Itu sudah risiko,” tutur Warsito.Kendati menghadapi situasi seperti itu, Warsito mengatakan dirinya tetap harus sabar karena pekerjaan porter berkaitan dengan pelayanan penumpang. Ia juga kerap membantu penumpang yang membutuhkan pendampingan, seperti tunanetra, lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil.Suasana aktivitas porter pada akhir pekan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparanMenurut Warsito, bantuan kepada kelompok tersebut dianjurkan diberikan secara sukarela. Meski begitu, sejumlah penumpang tetap memberikan uang tip setelah dibantu.“Tapi anjuran dari pimpinan, khusus untuk disabilitas, lansia, dan ibu hamil, kita dianjurkan untuk free, dan kita enggak boleh minta,” jelasnya.Di sisi lain, ia juga pernah menerima uang dari penumpang yang hanya meminta diantar ke kereta tanpa membawa barang.“Penumpang yang bahkan cuma melihat kita kasihan, ‘Mas, ayo antar saya ke kereta,’ ngantar aja enggak bawa barang dikasih uang, biasa,” katanya.Setelah sekitar 10 tahun bekerja sebagai porter, Warsito mengaku penghasilan dari pekerjaan tersebut masih menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia memiliki dua anak, yang pertama duduk di kelas 5 SD dan yang kedua masih TK.Ia berharap semakin banyak masyarakat menggunakan kereta api sehingga peluang memperoleh penghasilan sebagai porter juga bertambah.“Harapannya kereta api semakin banyak diminati, agar penumpang semakin banyak, jadi peluang untuk penghasilan kita agar bertambah,” harap Warsito.