Kisah Surya, Tukang Pilah Sampah, Terpilih Jadi Kades di Bekasi

Wait 5 sec.

Surya bin Samid terpilih sebagai Kepala Desa Mekarwangi, Bekasi. Foto: kumparanTak banyak yang menyangka perjalanan Surya bin Samid menuju kursi Kepala Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, berbuah manis. Sehari-hari, pria ini bergelut dengan sampah yang dibuang kawasan industri. Namun dari pekerjaan sederhana itu, Surya justru berhasil memenangkan Pilkades Mekarwangi 2026.Surya, calon nomor urut 1, memperoleh 4.117 suara. Ia mengungguli calon petahana yang meraih 4.015 suara. Kemenangan itu terasa istimewa karena Surya bukan berasal dari kalangan berada. Ia bersama istrinya, Ratih Ratna Sari, selama ini menjalankan usaha memilah dan mengumpulkan barang bekas dari kawasan industri.Barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomis dikumpulkan, dipilah, kemudian dijual kembali. Tempat usahanya pun bukan milik sendiri, melainkan menyewa lahan di belakang rumah.Dalam kondisi tersebut, Surya memberanikan diri maju dalam kontestasi kepala desa."Saya kaget. Kalau melihat keadaan saya, sangat-sangat tidak mungkin bisa meraih keberhasilan seperti ini. Tapi saya memang dari hati ingin mengabdi dan membangun Desa Mekarwangi," ujar Surya, Rabu (23/9).Ia mengaku sejak awal memang menargetkan kemenangan, bukan sekadar ikut meramaikan Pilkades."Saya ingin menang. Saya ingin berhasil dan ngabdi kepada masyarakat," katanya.Keyakinan itu pula yang membuatnya tidak gentar meski harus berhadapan dengan calon lain yang secara finansial dinilai lebih siap."Saya tidak takut. Saya punya keyakinan bahwa rezeki bukan manusia yang menentukan. Allah yang menentukan rezeki seseorang," tuturnya.Di rumah sederhana berukuran sekitar 6 x 8 meter di Kampung Rawa Banteng, Dusun III, RT 001/RW 02, Desa Mekarwangi, kehidupan Surya dan keluarganya berlangsung jauh dari kesan mewah.Rumah tersebut dihuni delapan orang, yakni Surya, istrinya, lima anak, serta seorang mertua.Surya bin Samid terpilih sebagai Kepala Desa Mekarwangi, Bekasi. Foto: kumparanRatih Ratna Sari, istri Surya, mengungkapkan pendapatan dari usaha pilah sampah tidak menentu. Dalam kondisi ramai, hasil penjualan barang bekas bisa mencapai sekitar Rp 1,5 juta per minggu. Namun ketika sepi, hasilnya bisa turun hingga sekitar Rp 700 ribu."Suami saya kerja ambil barang dari pabrik. Sampah yang masih bisa dijual kami pilah. Saya dan ibu saya biasanya memilah di sini," kata Ratih.Barang yang dikumpulkan antara lain kardus, botol plastik, serta material bekas dari kawasan industri. Sebagian barang bahkan diperoleh dari limbah pabrik yang masih dapat dimanfaatkan.Usaha itu dikerjakan bersama beberapa orang. Surya bertugas mengambil barang dari kawasan industri, sementara istrinya dan pekerja membantu memilah.Di tengah keterbatasan ekonomi, kemenangan Surya menjadi cerita tersendiri. Ia kini harus meninggalkan sebagian pekerjaan lamanya untuk menjalankan tanggung jawab sebagai kepala desa.Namun usaha pilah sampah tidak serta-merta ditinggalkan."Usahanya tetap dijalankan, tetapi nanti pakai pekerja," ujar Surya.Sebagai kepala desa terpilih, Surya membawa sejumlah program. Ia ingin membangun desa secara transparan, membuka akses lapangan pekerjaan bagi pemuda melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), serta membenahi persoalan infrastruktur.Sejumlah titik yang rawan banjir, drainase dan jalan di lingkungan warga menjadi perhatian. Ia juga berencana membantu warga dalam kebutuhan pemulasaraan jenazah, termasuk penyediaan kain kafan agar keluarga yang sedang berduka tidak semakin terbebani.